cerita rakyat daerah jambi

•Desember 15, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Cerita Rakyat Daerah Jambi: Datuk Darah Putih

Ditulis oleh mamas86 di/pada Juli 24, 2008

Mitos Datuk Darah Putih merupakan cerita tentang seorang panglima perang kerajaan yang ada di daerah dusun Sungai Aro, kabupaten Tebo, Jambi. Mitos tentang Datuk Darah Putih ini dipercayai oleh masyarakat dusun sungai Aro sebagai seorang panglima yang mempunyai darah berwarna putih bila mengalami luka ditubuhnya.

Cerita tentang Datuk Darah Putih disebutkan pada masa penjajahan Belanda ke daerah Sungai Aro. Raja sungai Aro merasa khawatir akan nasib rakyatnya yang terbelenggu rantai penjajahan. Bermusyawarahlah raja dengan para panglima untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan serangan yang akan menimpa kerajaan. Keputusan raja bahwa gerakan Belanda harus dihadang di laut. Berdasarkan strategi tempat penghadangan adalah di Pulau Berhala. Tugas itu dibebankan pada Datuk Darah Putih. Perntah itu diterima dengan tegas walau saat itu istri Datuk Darah Putih sedang hamil tua. Perpisahan itu tanpa isak tangis sang istri. Istrinya tahu bahwa suaminya pergi berjuang untuk membela Jambi dari jajahan Belanda. Datuk Darah Putih dan seluruh anggota pasukan pilihan tersebut berjalan dengan gagah berselempan semangat dan kejantanan yang tinggi.

Sesampainya di Pulau Berhala Datuk Darah Putih dan pasukannya mendirikan benteng pertahanan mulai dari pantai sampai ke puncak bukit. Beberapa hari kemudian kapal pasukan Belanda datang ke Pulau Berhala untuk mengambil persediaan minum. Pada saat itulah serangan mendadak pasukan Datuk Darah Putih dilancarkan ke Belanda. Karena sama sekali tidak mengira serangan itu membuat Belanda kewalahan dan akhirnya kalah oleh pasukan Datuk Darah Putih. Seluruh isi kapal disita dan kapal Belanda dibakar.

Menjelang malam keempat setelah kemenangannya Datuk Darah Putih dan pasukannya kembali menghadang Belanda yang dating di tengah laut. Pertempuran pun berlangsung beberapa hari dan ternyata pihak Belanda jauh lebih besar dan kuat dalam persenjataan. Kekalahan dalam jumlah dan senjata yang akhirnya membuat pasukan Datuk Darah Putih kalah. Di pertempuran itu Datuk Darah Putih terpenggal kepalanya oleh pedang prajurit Belanda. Kapalnya pun hancur dan tenggelam ke laut. Dari urat leher yang terputus bersimbah darah berwarna putih masih terdengar suara Datuk Darah Putih yang memerintahkan anak buahnya untuk segera membawanya mundur sedangkan yang lain meneruskan perlawanan. Oleh anak buahnya, Datuk Darah Putih di bawa ke benteng pertahanan. Kemudian Datuk Darah Putih memerintahkan anak buahnya untuk mencari batu sengkalan (penggiling cabai) untuk menutup lukanya. Setelah menutup lukanya dengan batu sengkalan maka berhentilah darah yang mengalir. Seperti tidak mengalami kecelakaan, Datuk Darah Putih beserta anak buahnya kembali bergabung dengan anggota pasukannya. Ia mengamuk dan menghantam habis semua serdadu Belanda. Pertempuran akhirnya dimenangi oleh Belanda.

Esok harinya Datuk Darah Putih kembali ke Negeri Sungai Aro. Ketika sampai di Sungai Aro, ia dipapah menuju rumahnya dan ia tidak mampir menghadap raja terlebih dahulu. Rakyat ikut mengiringinya sampai ke anak tangga rumah. Sang istri telah menunggu dan telah melahirkan seorang putra. Melihat kondisi suaminya yang sudah tanpa kepala, ia tetap pasrah dan kepulangan itu juga tidak ditangisinya. Kemudian Datuk Darah Putih perlahan meraih bayi dalam buaian. Sang bayi diam terlelap dalam tidurnya dan dengan kedua tangan yang kokoh Datuk Darah Putih mendekap anaknya ke dadanya dan kembali meletakkannya di buaian. Orang-orang yang hadir tenggelam dalam keharuan dan melinangkan air mata melihat dan merasakan seolah-olah ada dialog perpisahan diantara ayah dan anak, diantara suami dan istri, diantara panglima dan anak buahnya. Datuk Darah Putih pelan-pelan tertunduk dan kemudian berbaring di dekat buaian anak tercinta, anak ang hanya dapat dirabanya dan didekapnya tana mengetahui bentuk dan rupanya. Bersamaan dengan suara zan ashar yang sayup-sayup sampai dari kejauhan, tubuh Datuk Darah Putih terbujur kaku tak bernafas lagi.

Mitos tentang Datuk Darah Putih ini merupakan salah satu cerita rakyat Jambi yang ada di daerah Kabupaten Tebo. Mitos ini kemudian dituliskan dalam sebuah buku Geografi Pariwisata Kabupaten Bungo Tebo (1999) oleh Junaidi T. Noor yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Dati II Bungo Tebo (pada waktu itu Bungo Tebo masih dalam satu kabupaten. Pada tahun 2000, otonomi daerah menyebabkan kabupaten itu terpisah menjadi dua kabupaten, yaitu kabupaten Bungo dan kabupaten Tebo).

Sumber: yayasanlangit.blogspot.com

Berdasarkan cerita rakyat setempat, nama Jambi berasal dari perkataan “jambe” yang berarti “pinang”. Nama ini ada hubungannya dengan sebuah legenda yang hidup dalam masyarakat, yaitu legenda mengenai Raja Putri Selaras Pinang Masak, yang ada kaitannya dengan asal-usul provinsi Jambi.

Penduduk asli Provinsi Jambi terdiri dari beberapa suku bangsa, antara lain Melayu Jambi, Batin, Kerin­ci, Penghulu, Pindah, Anak Dalam (Kubu), dan Bajau. Suku bangsa yang disebutkan pertama merupakan pen­duduk mayoritas dari keseluruhan penduduk Jambi, yang bermukim di sepanjang dan sekitar pinggiran sungai Batanghari.

Suku Kubu atau Anak Dalam dianggap sebagai suku tertua di Jambi, karena telah menetap terlebih dahulu sebelum kedatangan suku-suku yang lain. Mereka diperkirakan meru­pakan keturunan prajurit-prajurit Minangkabau yang bermaksud mem­perluas daerah ke Jambi. Ada sementara informasi yang menyatakan bahwa su­ku ini merupakan keturunan dari per­campuran suku Wedda dengan suku Negrito, yang kemudian disebut seba­gai suku Weddoid.

Orang Anak Dalam dibedakan atas suku yang jinak dan liar. Sebutan “ji­nak” diberikan kepada golongan yang telah dimasyarakatkan, memiliki tem­pat tinggal yang tetap, dan telah mengenal tata cara pertanian. Se­dangkan yang disebut “liar” adalah mereka yang masih berkeliaran di hutan-hutan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, belum mengenal sistem bercocok tanam, serta komunikasi dengan dunia luar sama sekali masih tertutup.

Suku-suku bangsa di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pede­saan dengan pola yang mengelompok. Mereka yang hidup menetap tergabung dalam beberapa larik (kumpulan rumah panjang beserta pekarang­annya). Setiap desa dipimpin oleh seorang kepala desa (Rio), dibantu oleh mangku, canang, dan tua-tua tengganai (dewan desa). Mereka inilah yang bertugas mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan hidup ma­syarakat desa.

Strata Sosial masyarakat di Jambi tidak mempunyai suatu konsepsi yang jelas tentang sistem pelapisan sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu jarang bahkan tidak pernah terdengar istilah-­istilah atau gelar-gelar tertentu untuk menyebut lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat. Mereka hanya mengenal sebutan-sebutan yang “kabur” untuk menunjukkan status seseorang, seperti orang pintar, orang kaya, orang kam­pung dsb.

Pakaian Pada awalnya masyarakat pede­saan mengenal pakaian sehari-hari berupa kain dan baju tanpa lengan. Akan tetapi setelah mengalami proses akulturasi dengan berbagai kebu­dayaan, pakaian sehari-hari yang dikenakan kaum wanita berupa baju kurung dan selendang yang dililitkan di kepala sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum pria mengenakan celana setengah ruas yang mengge­lembung pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam, sehingga dapat leluasa bergerak dalam mela­kukan pekerjaan sehari-hari. Pakaian untuk kaum pria ini dilengkapi deng­an kopiah.

Kesenian di Provinsi Jambi yang terkenal antara lain Batanghari, Kipas perentak, Rangguk, Sekapur sirih, Selampit delapan, Serentak Satang.

Upacara adat yang masih dilestarikan antara lain Upacara Lingkaran Hidup Manusia, Kelahiran, Masa Dewasa, Perkawinan, Berusik sirih bergurau pinang, Duduk bertuik, tegak betanyo, ikat buatan janji semayo, Ulur antar serah terimo pusako dan Kematian.

Filsafat Hidup Masyarakat Setempat:
Sepucuk jambi sembilan lurah, batangnyo alam rajo.

http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=Daerah&op=detail_provinsi&id_prov=4&dt=nilai&nm_prov=Jam

//

View Full Version : sejarah majapahit


ISOKUIKI
26-12-2008, 01:11 PM
gw penasaran ama kerajaan majapahit, apalagi ama patihnya, tulis dong rame2 biar gw jelas cerita sejarahnya

red_pr!nce
26-12-2008, 10:45 PM
patih Gajah Mada bukan orang Jawa asli, tapi keturunan Champa, yang sekarang bernama Vietnam. :D

kenapa? paman Gajah Mada adalah Raden Wijaya. sedangkan Raden Wijaya merupakan anak dari seorang Mahesa Campaka. inget bahwa pada zaman itu, nama seseorang disebut berdasarkan nama panggilannya, jadi nama itu bukan nama aslinya. istilahnya kalo sekarang kita nyebut red_pr!nce, ISOKUISI, Ganryu, Pi-Man, dsb. :D

kalo gw masih inget, nama asli Mahesa Campaka itu yang bernama Singamurti. Mahesa secara etimologis berarti “banteng”, dan Campaka secara etimologis berarti “Champa”. jadi Mahesa Campaka adalah “banteng dari negeri Champa”. istilah “banteng” itu sendiri merupakan gelar yang diberikan bagi para pemimpin militer. jadi bisa diambil kesimpulan bahwa Mahesa Campaka itu sebenernya seorang jenderal yang datang dari Champa ke Majapahit. kemudian dia punya anak yang namanya Raden Wijaya. jadi, anak-anaknya bukan orang Jawa asli, tapi keturunan Champa. nah dari keturunan Raden Wijaya inilah, patih Gajah Mada mulai muncul dan dikenal orang banyak sebagai komandan pasukan elite Majapahit.

sampe saat ini, belum banyak yang tau di mana dan kapan patih Gajah Mada lahir. tapi itu bisa diliat justru dari peristiwa-peristiwa sebelum kematiannya. bagaimanapun, seseorang yang udah mau meninggal biasanya ngidam ngunjungin ancestral land atau motherlandnya, berkumpul bersama keluarga, menikmati kesenangan bersama anak/cucu, bukan? :D

di masa tuanya, patih Gajah Mada pernah bilang kalau dia mau mengunjungi homelandnya “di atas awan”. menurut orang Jawa kuno, istilah “di atas awan” berarti jauh di utara. jadi sampe sini ada kemungkinan dia itu lahir jauh di sebelah utara Jawa. misalnya di Sumatera, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Filpina, atau China.

ketika patih Gajah Mada sakit keras, dia ngotot pengen kembali ke homelandnya yang katanya berada “di atas awan” itu. pada saat dia sakit keras hingga dia meninggal, dilaporkan terjadi badai besar di Laut China Selatan. dia dilaporkan meninggal dunia di atas kapalnya di lautan dekat Kalimantan Timur, on the way ke utara. logikanya, kalo emang homelandnya berada di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, atau Papua, maka dia ga akan mengambil rute lautan melewati Kalimantan Timur dan terus ke utara, menuju Filipina, meskipun ada badai besar di Laut China Selatan. itu membuktikan bahwa homelandnya berada di sebelah utara Laut China Selatan, misalnya Filipina, Vietnam, atau China, karena dia berusaha menghindari badai agar cepet nyampe di tujuan sebelum meninggal.

nyesek banget khan kalo meninggal di perjalanan sebelum mengunjungi kampung halaman? ;D
gw aja nyesek kali kalo kayak gitu mah…;D

nah bisa diambil kesimpulan yang paling dekat memang Vietnam. bukti-buktinya sebagai berikut:
1. profil patih Gajah Mada menyerupai orang Melayu/Khmer
2. engkong pamannya dijuluki “banteng dari Champa”
3. udah sering terjadi pertukaran budaya antara Champa dengan Jawa

patih Gajah Mata mangkat di musim hujan, yaitu sekitar September hingga Maret.
dia pernah mengucapkan Sumpah Palapa, yaitu dia ga akan makan buah palapa sebelum menyatukan Nusantara.
jadi dari sumpahnya aja bisa diliat kalo dia itu sebenernya doyan makan, tapi puasa sebelum mencapai tujuannya.
diliat dari patung-patungnya, postur tubuhnya tinggi, besar, gemuk, berisi, dan kekar.
prestasinya sebagai pasukan elite Majapahit mencerminkan bahwa dia adalah prajurit yang hebat dan kuat.
dia juga merupakan pemimpin hebat yang ideologinya adalah persatuan dengan kontrol yang ketat.

nah, sekarang mari kita maen Zodiak sedikit. :D
orang-orang Aries dan Leo dianggep paling cocok jadi tentara karena sangat aktif, terampil secara fisik, dan jarang tidur. rata-rata tentara yang hebat berzodiak Aries atau Leo. pada zaman dulu, apalagi pasukan elite, harus sigap 24 jam menjaga negara sehingga mencerminkan bahwa mereka dibiasakan untuk jarang tidur.

nah, orang-orang Leo itulah yang doyan makan, tubuhnya tinggi, gemuk, berisi, dan kekar, di meskipun mereka sangat aktif, terampil secara fisik, dan jarang tidur. mereka juga merupakan pemimpin yang hebat, namun terbiasa dengan gaya leadership yang keras dan penuh kontrol yang ketat.
sedangkan orang-orang Aries biasanya kurus dan langsing, meskipun mereka sangat aktif, terampil secara fisik, dan jarang tidur. mereka biasanya pekerja keras, sensitif, perasa, dan karenanya ga ditakdirkan untuk menjadi pemimpin yang baik. secara umum orangnya baik dan full of empathy and sympathy.

jadi kesimpulannya: patih Gajah Mada berzodiak Leo. kira-kira dia lahir di antar akhir Juni sampe akhir Agustus. :D


arian
27-12-2008, 04:11 PM
nice info. apalagi soal zodiak, ngaruh benar yak?
ohya di pasaran beredar buku tentang Gajah Mada, kurang lebih sama atau tidak dengan yang diceritakan diatas, bagi yang sudah baca?

red_pr!nce
27-12-2008, 04:16 PM
zodiak ga 100% tepat, tapi setidaknya bisa menggambarkan seseorang itu punya kecenderungan seperti apa. :D
sama seperti penyataan teori ga 100% tepat, tapi setidaknya bisa menggambarkan sebuah fenomena di dunia. :D

tennou kanshin
27-12-2008, 05:22 PM
Tidak diketahui sumber sejarah mengenai kapan dan di mana Gajah Mada lahir. Menurut Pararaton, ia memulai karirnya di Majapahit sebagai komandan pasukan khusus Bhayangkara. Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) dan mengatasi Pemberontakan Ra Kuti, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada tahun 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri. Namun ada beberapa pendapat bahwa Gajah Mada dianggap dari daerah Modo – Lamongan, dimana di daerah Cancing Ngimbang banyak ditemukan prasasti-prasasti yang diduga kuat peninggalan Majapahit, dan lagipula daerah ini adalah yang terdekat dengan perbatasan Lamongan-Mojokerto, tepatnya di daerah Mantup, 20 kilometer ke selatan Lamongan. Jadi kemungkinan bila Gajah Mada berasal dari Lamongan, mengingat bukti bukti prasasti yang ada di daerah ini bahkan tempatnya juga sangat teratur sebagai tanah perdikan, termasuk adanya beberapa makam kuno prajurit, dan juga makam kuno yang diduga kuat sebagai makam ibunda Gajah Mada, yaitu Nyai Andong Sari masih menjadi tanda tanya.

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Aryo Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui. Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhirnya takluk. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi sebagai Patih Majapahit.

Pada waktu pengangkatannya, ia mengucapkan Sumpah Palapa, yang berisi bahwa ia akan menikmati palapa atau rempah-rempah (yang diartikan kenikmatan duniawi) jika telah berhasil menaklukkan Nusantara. Sebagaimana tercatat dalam kitab Pararaton berikut:[2]
“ Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa ”

Arti
Gajah Mada sang Mahapatih tak akan menikmati palapa, berkata Gajah Mada, “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pahang, Dompu, Pulau Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.

Walaupun ada sejumlah (atau bahkan banyak) orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Bedahulu (di Bali) dan Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kendawangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Di zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwu, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Dalam Kidung Sunda[3] diceritakan bahwa Perang Bubat (1357) bermula saat Prabu Hayam Wuruk hendak menikahi Dyah Pitaloka putri Sunda sebagai permaisuri. Lamaran Prabu Hayam Wuruk diterima pihak Kerajaan Sunda, dan rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung itu. Gajah Mada yang menginginkan Sunda takluk, memaksa menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan Majapahit. Akibat penolakan pihak Sunda mengenai hal ini, terjadilah pertempuran tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat; yang saat itu menjadi tempat penginapan rombongan Sunda. Dyah Pitaloka bunuh diri setelah ayahanda dan seluruh rombongannya gugur dalam pertempuran. Akibat peristiwa itu, Patih Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya.

Dalam Nagarakretagama diceritakan hal yang sedikit berbeda. Dikatakan bahwa Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang wira, bijaksana, serta setia berbakti kepada negara. Sang raja menganugerahkan dukuh “Madakaripura” yang berpemandangan indah di Tongas, Probolinggo, kepada Gajah Mada. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih; hanya saja ia memerintah dari Madakaripura.


Qiu
27-12-2008, 08:21 PM

Airy Xie
29-12-2008, 11:03 AM
kemarin terakhir gw baca di koran ada ditemukan dan sudah diterjemahkan kakawin gajah mada, sekarang ada di bali. menurut kakawin tsb gajah mada mengucapkan sumpah palapa pada masa pemerintahan ratu tribuana, bukan pada masa hayam wuruk. dari beberapa bacaan, kalo ga salah di wikipedia juga, menurut slamet mulyana ni gajah mada kayaknya punya affair sama sang ratu itu sejak masih menjabat brhe kahuripan. jadi curiga nih… sebetulnya yang punya ambisi menyatukan nusantara tuh si gajah mada atau ratunya ini ya?

red_pr!nce
29-12-2008, 12:07 PM
di belakang pria yang sukses ada wanita yang hebat? ::managuetau::

tennou kanshin
29-12-2008, 04:24 PM
kemarin terakhir gw baca di koran ada ditemukan dan sudah diterjemahkan kakawin gajah mada, sekarang ada di bali. menurut kakawin tsb gajah mada mengucapkan sumpah palapa pada masa pemerintahan ratu tribuana, bukan pada masa hayam wuruk. dari beberapa bacaan, kalo ga salah di wikipedia juga, menurut slamet mulyana ni gajah mada kayaknya punya affair sama sang ratu itu sejak masih menjabat brhe kahuripan. jadi curiga nih… sebetulnya yang punya ambisi menyatukan nusantara tuh si gajah mada atau ratunya ini ya?

bisa jadi…….kemungkinan juga karena gajah mada menjadi mahapatih tertinggi yaitu mahapatih ii hino…yang awalnya hanya sebagai Pemimpin Pasukan pengamanan anggota keluarga Prabu….pasukan Bhayangkara….

makanya Sang Ratu Yang kemudian turun tahta dan menyerahkan kekuasaan kepada anaknya dan ia pun hanya menjadi Ibu Suri Kerajaan majapahit….dan ia menjadi Biksuni dan melepaskan semua tahta kerajaan….

tp bukannya Gajah Mada diangkat menjadi Mahamentri ii hino yang merupakan mahamentri tertinggi diantara 3 mahapatih majapahit (mahamentri i hino, i halu dan i sirikan) pada masa Prabu Hayam Wuruk bukan pada Masa Ratu Tribuana Tunggadewi……??


ISOKUIKI
30-12-2008, 06:05 AM
kalo diliat dari postur tubuhnya sih kayaknya bukan keturunan asli indonesia, wah berarti patih gajah mada butuh puluhan tahun ya untuk keliling nusantara jaman dulu kan kagak ada mobil adanya cuman kuda.

Pusat kerajaan majapahit kan ada di trowulan-mojokerto tapi kok sisa2 peninggalannya cuman arca2 doang, kalo mengingat kerajaan majapahit yg menguasai hampir seluruh nusantara logikanya pasti kerajaan/istananya besar sekali, yg jadi pertanyaan mana bekas2 istananya, dulu gw pernah baca berita kalo sdh ditemukan/digali tembok istananya tp skr gak ada kelanjutan beritanya lg

dichina aja masih ada bekas istana dari dinasti2 ming dll bahkan tembok china jg masih berdiri sampai skr padahal dilihat dari tahunnya masih lebih lama dichina daripada di indonesia. di negara2 lain jg masih ada bekas2 peninggalan bersejarahnya, tp kerajaan majapahit kok gak ada ya?

KGer pasti ada yg pernah ketrowulan kan? gw sering lewat trowulan kok ada yg aneh ya, adanya kabut didaerah trowulan padahal trowulan bukan dataran tinggi/pegunungan walaupun ada kabut siang hari pasti sdh hilang lha ini sdh siang jam 11an kabutnya masih ada. ada misteri apa ya di trowulan?


red_pr!nce
30-12-2008, 08:35 AM
Trowulan itu ibukota kerajaan Majapahit kan? [mm]
mungkin dulu beberapa orang penting di Majapahit pernah mengutuk Indonesia karena semua orang Indonesia meninggalkan ajaran Hindu-Buddha, jadinya secara mistis kabutnya masih ada meskipun matahari udah kongkow di langit. ;D

pernah denger kutukan Sabdopalon (http://www.crcs.ugm.ac.id/res_discourse_view.php?discourse_id=27)?


ISOKUIKI
30-12-2008, 01:26 PM
berarti musibah lumpur lapindo itu jg termasuk kutukannya sabdo palon, wah kalo gitu lebih kita ngungsi aja keluar pulau jawa.

harker
30-12-2008, 04:00 PM
biar lebih akurat tolong dong Anno Domini nya disebutin… jadi biar kita tidak menerka2 kapan terjadinya kejadian tsb…

Qiu
30-12-2008, 08:50 PM
oh iya waktu di purwerjo.. ada pohon yg buahnya namanya majapahit… kata mbah gw sih itu buah yg ada disekitar kerajaan majapahit dulu…

buahnya hijau, kek kelapa muda… tapi dalemnya putih dan lembut.. bisa dibilang menggugah selera…
tapi ketika terasa manis 3-5 detik,,, dan setalah detik ke 5 mulut anda akan penuh rasa pahit yg susah dihilangkan…

trus kata mbah gw.. buah majapahit itu bukan buat makan orang tapi buat makan kuda…


tennou kanshin
30-12-2008, 11:22 PM
kalo diliat dari postur tubuhnya sih kayaknya bukan keturunan asli indonesia, wah berarti patih gajah mada butuh puluhan tahun ya untuk keliling nusantara jaman dulu kan kagak ada mobil adanya cuman kuda.

Pusat kerajaan majapahit kan ada di trowulan-mojokerto tapi kok sisa2 peninggalannya cuman arca2 doang, kalo mengingat kerajaan majapahit yg menguasai hampir seluruh nusantara logikanya pasti kerajaan/istananya besar sekali, yg jadi pertanyaan mana bekas2 istananya, dulu gw pernah baca berita kalo sdh ditemukan/digali tembok istananya tp skr gak ada kelanjutan beritanya lg

dichina aja masih ada bekas istana dari dinasti2 ming dll bahkan tembok china jg masih berdiri sampai skr padahal dilihat dari tahunnya masih lebih lama dichina daripada di indonesia. di negara2 lain jg masih ada bekas2 peninggalan bersejarahnya, tp kerajaan majapahit kok gak ada ya?

KGer pasti ada yg pernah ketrowulan kan? gw sering lewat trowulan kok ada yg aneh ya, adanya kabut didaerah trowulan padahal trowulan bukan dataran tinggi/pegunungan walaupun ada kabut siang hari pasti sdh hilang lha ini sdh siang jam 11an kabutnya masih ada. ada misteri apa ya di trowulan?

nah klo di cina……Forbiden City/Kota terlarang itu dipakai bergantian antar dinasti…..dan kaisar terakhir yang mendiami istana klo ga salah tahun 1914..makanya bentuknya masik ada….klo majapahit…udah 500an tahun yang lalu runtuh..ya istananya dah ilang….


alfaharahap
31-12-2008, 01:46 AM
patih Gajah Mada bukan orang Jawa asli, tapi keturunan Champa, yang sekarang bernama Vietnam. :D

pantes. banyak yg bilang muka gajahmada sangat batak sekali ketimbang wajah orang jawa .. hehe

trus kata mbah gw.. buah majapahit itu bukan buat makan orang tapi buat makan kuda…

dan elu yg lagi makan buah itu, langsung muntahin buah tsb ? hehe


red_pr!nce
31-12-2008, 04:52 AM
emangnya muka batak sama muka jawa bedanya apa ya? ;D

putu_138
31-12-2008, 06:44 AM
emangnya muka batak sama muka jawa bedanya apa ya? ;D

lebih garang, sangar, gede, dan lbih kyk preman? ;D


Iskra
31-12-2008, 12:52 PM
Pusat kerajaan majapahit kan ada di trowulan-mojokerto tapi kok sisa2 peninggalannya cuman arca2 doang, kalo mengingat kerajaan majapahit yg menguasai hampir seluruh nusantara logikanya pasti kerajaan/istananya besar sekali, yg jadi pertanyaan mana bekas2 istananya, dulu gw pernah baca berita kalo sdh ditemukan/digali tembok istananya tp skr gak ada kelanjutan beritanya lg

Setelah Penaklukkan Raden wijaya, Demak memboyong apa yang ada dari istana majapahit, untuk mendirikan Demak Bintoro


tennou kanshin
31-12-2008, 03:19 PM
Setelah Penaklukkan Raden wijaya, Demak memboyong apa yang ada dari istana majapahit, untuk mendirikan Demak Bintoro

muup yang dimaksud disini raden wijaya prabu yang kondang dari majapahit bukan?…klo iya….ga yambung kan..karena raden wijaya meninggal ratusan tahun sebelum penakhlukan oleh demak bintoro……sedangkan Prabu yang digulingkan oleh kerajaan demak adalah Prabu Brawijaya V dan rakyat majapahit yang masih setia memisahkan diri beberapa ke daerah tengger gunung bromo dan sebagian besar melarikan diri ke Bali..oleh karena itu masih banyak ditemukan hindu majapahit……sedangkan para anggota kerajaan banyak yang menikah dengan orang2 demak…dan bila ditelusuri…Kerajaan jawa yang 4 dan kerajaan cirebon yang 2..semuanya memiliki darah Majapahit….


Airy Xie
31-12-2008, 05:17 PM
dulu di daerah mojosongo di solo ada juga pohon mojo… gw bandingin dengan yang di trowulan sama tuh… jadi bukan buah khas trowulan aja dong ya?

kalo bekas2 kerajaannya bukannya salah satu candi disana, kalo ga salah bajang ratu (???…. i’m not quite sure apa benar namanya) adalah pintu gerbang kerajaan majapahit. dan akhir2 ini makin banyak ditemukan situs disana. lmaayan gede juga sih kalo setiap situs itu kita petakan dan kita jadikan satu ‘bangunan kerajaan’ kira2 mencapai beberapa desa…


Wishnuwarman
02-01-2009, 09:48 AM
menurut slamet mulyana ni gajah mada kayaknya punya affair sama sang ratu itu sejak masih menjabat brhe kahuripan. jadi curiga nih… sebetulnya yang punya ambisi menyatukan nusantara tuh si gajah mada atau ratunya ini ya?

wah menarik juga teorinya.

Menurut yang saya tahu, alasan penaklukan kerajaan2 di wilayah nusantara adalah taruma gajahmada terhadap serangan bangsa mongol di masa lalu (masa kerajaan Kediri dan Singosari yang menjadi asal muasal lahirnya majapahit).

Gajah Mada Yakin jika suatu saat, mongol akan kembali menyerang.. nah Gaja Mada juga yakin, hanya dengan menyatukan nusantara, penyerangan mongol dapat diantisipasi. karena nusantara adalah wilayah maritim, sehingga peperangan dengan Mongol tidak perlu terjadi di ibukota majapahit, bahkan tidak perlu terjadi di tanah jawa. Majapahit dan negara bawahannya dapat menghalau mongol sejak masih di lauatan.Jadi Gajah Mada mencoba membangun benteng atau pagar yang terdiri dari kerajaan2 taklukan tersebut.


Wishnuwarman
02-01-2009, 10:10 AM
prestasinya sebagai pasukan elite Majapahit mencerminkan bahwa dia adalah prajurit yang hebat dan kuat.
dia juga merupakan pemimpin hebat yang ideologinya adalah persatuan dengan kontrol yang ketat. :D

Sepakat, dia sangat yakin bahwa persatuan hanya bisa dibangun dengan sistem kontrol yang kuat, maka dia mengembangkan pasukan bayangkara tidak hanya sebagai unit kawal istana, tapi juga berkembang menjadi unit intelejen (Telik Sandi), sekaligus pasukan komando.

Rasanya rezim orede baru banyak terinspirasi oleh Gajah Mada.. he..he.

Satu lagi yang menarik, Gajah Mada agak meragukan kepemimpinan perempuan. Dia lebih menonjolkan ide dan visinya sendiri tentang majapahit, daripada pengabdiannya kepada ratu, bahkan mjungkin dia terkdang melihat sang ratu sebagai penghalang.

Perlu diingat, bahwa setelah Jayanegara wafat, Majapahit dipimpin oleh Ratu yang menjadi Biksuini (Seingat saya Sri Gayatri, salah satu isteri Raden Wijaya atau salah satu ibu tiri Jayanegara), kemudian beliau digantikan oleh pasangan Ratu yang memerintah bersama – sama yaitu Tribuana Tungga Dewi dan Sri Gitaraja (Mereka berdua adalah adik Jayanegara). Baru setelah itu diangkat Hayam Wuruk (Putera Tribuana) sebagai Raja.

Dugaan saya, sebagai seorang yang berkarakter koleris, Gajah Mada mengakui para ratu dan Raja itu hanya karena tahu, bahwa merekalah yang secara konstitusi dan fakta, didukung oleh rakyat untuk memimpin. Gajah Mada tidak mungkin memimpin tanpa dukungan rakyat, maka Gajah Mada cendrung menjadikan Dewan Kerajaan tersebut sebagai stample yang mengesahkan segala Visi, ide dan cita – citanya. Dewan Keluarga Kerajaan yang terdiri dari Parbu Hayam Wuruk, Tribuana Tungga Dewi, Raden Cakradara (Suami Tribuana), Sri Gitaraja, dan Raden Kudamerta (suami Sri Gitaraja), seolah tidak kuasa menahan semua ide dan visi Gajah Mada, selaian memang ide itu sangat brilian untuk membesarkan Majapahit, secara pribadi, Gajah Mada memiliki jasa besar terhadap mereka.

Namun masalah muncul dalam kasus Perang Bubat, Keinginan Dewan Keluarga Kerjaan untuk menyambung kembali tali persaudaraan dengan kerjaan Sunda, ditumpangi ide Gajah Mada untuk menaklukan Sunda, hal inilah yang memperlihatkan bahwa Gajah Mada tidak betul – betul tunduk dan loyal kepada keluarga kerajaan. Kesetiaannya adalah untuk majapahit, bukan untuk raja. Apalagi raja dan ratu yang menurut Gajah Mada, dianggap lemah, muda dan kurang pengalaman (Seorang Koleris biasanya cendrung sangat percaya diri dan berani mengambil resiko, namun terkadang cendrung meremehkan orang lain)

Di luar itru semua, ide Gajah Mada untuik menyatukan nusantara adalah ide yang membuat bangsa kita menjadi ADA. Bendera Majpahit adalah bendera dwiwarna, yaitu warna gula merah dan daging kelapa yang berwarna putih. Kemudian disadur menjadi bendera Indonesia Merah Putih. Jadi bolehlah kita menganggap Gajah Mada sebagai bapak pendiri bangsa kita.


Iskra
02-01-2009, 11:36 AM
muup yang dimaksud disini raden wijaya prabu yang kondang dari majapahit bukan?…klo iya….ga yambung kan..karena raden wijaya meninggal ratusan tahun sebelum penakhlukan oleh demak bintoro……sedangkan Prabu yang digulingkan oleh kerajaan demak adalah Prabu Brawijaya V dan rakyat majapahit yang masih setia memisahkan diri beberapa ke daerah tengger gunung bromo dan sebagian besar melarikan diri ke Bali..oleh karena itu masih banyak ditemukan hindu majapahit……sedangkan para anggota kerajaan banyak yang menikah dengan orang2 demak…dan bila ditelusuri…Kerajaan jawa yang 4 dan kerajaan cirebon yang 2..semuanya memiliki darah Majapahit….

salah tulis komandan ………………::grin::

maksudnya raden patah………………..


ISOKUIKI
02-01-2009, 01:35 PM
wah makin seru aja nih ceritanya, memang kalo bicara tentang sejarah gak ada habisnya, jg gak bosen dengerinnya, terusin dong….

ISOKUIKI
03-01-2009, 09:35 AM
gw jd inget waktu gw masih remaja gw punya kenalan, orangnya punya tenaga dalam, ilmu bela diri kungfu pun dia bisa, gw pernah berguru kungfu sebentar ama dia, orangnya hebat banget bisa sembuhin orang yg kena santet, gw liat dengan mata kepala gw sendiri suhu ini bisa ngeluarin paku dari dlm kepala orang yg kena santet (orangnya mengeluh terus kepalanya sakit abis pakunya dikeluarin kepala orang itu udah gak sakit lagi),

suhu ini alirannya Tao, dia pernah cerita ama gw kalo dia bisa melihat reinkarnasinya dia dulu, katanya dia pernah jadi cewek dan pernah jadi patih gajah mada juga, katanya rohnya jg bisa keluar dr tubuhnya, pernah dia cerita waktu rohnya keluar dia ngerasa cuman sebentar kira2 1jam,waktu dia balik lagi dia tanya istrinya ternyata sdh 1 minggu dia tinggalin tubuhnya.
apa karena dia pernah reinkarnasi jadi patih gajah mada makanya dia gampang belajar/menguasai ilmu tenaga dalam + ilmu2 yg lainnya?


Airy Xie
03-01-2009, 10:02 AM
Dugaan saya, sebagai seorang yang berkarakter koleris, Gajah Mada mengakui para ratu dan Raja itu hanya karena tahu, bahwa merekalah yang secara konstitusi dan fakta, didukung oleh rakyat untuk memimpin. Gajah Mada tidak mungkin memimpin tanpa dukungan rakyat, maka Gajah Mada cendrung menjadikan Dewan Kerajaan tersebut sebagai stample yang mengesahkan segala Visi, ide dan cita – citanya. Dewan Keluarga Kerajaan yang terdiri dari Parbu Hayam Wuruk, Tribuana Tungga Dewi, Raden Cakradara (Suami Tribuana), Sri Gitaraja, dan Raden Kudamerta (suami Sri Gitaraja), seolah tidak kuasa menahan semua ide dan visi Gajah Mada, selaian memang ide itu sangat brilian untuk membesarkan Majapahit, secara pribadi, Gajah Mada memiliki jasa besar terhadap mereka.

Namun masalah muncul dalam kasus Perang Bubat, Keinginan Dewan Keluarga Kerjaan untuk menyambung kembali tali persaudaraan dengan kerjaan Sunda, ditumpangi ide Gajah Mada untuk menaklukan Sunda, hal inilah yang memperlihatkan bahwa Gajah Mada tidak betul – betul tunduk dan loyal kepada keluarga kerajaan. Kesetiaannya adalah untuk majapahit, bukan untuk raja. Apalagi raja dan ratu yang menurut Gajah Mada, dianggap lemah, muda dan kurang pengalaman (Seorang Koleris biasanya cendrung sangat percaya diri dan berani mengambil resiko, namun terkadang cendrung meremehkan orang lain)

Di luar itru semua, ide Gajah Mada untuik menyatukan nusantara adalah ide yang membuat bangsa kita menjadi ADA. Bendera Majpahit adalah bendera dwiwarna, yaitu warna gula merah dan daging kelapa yang berwarna putih. Kemudian disadur menjadi bendera Indonesia Merah Putih. Jadi bolehlah kita menganggap Gajah Mada sebagai bapak pendiri bangsa kita.

kalo gw sih ga tau knapa kok kurang respek sama si gajah ini, meskipun akhirnya dia yang diberi peran untuk membuat indonesia ada seperti kata Wishnu, cuma kalo karakter gajah mada seperti analisis wishnu, orang seperti dia sebaiknya tidak berada dekat2 dengan penguasa apalagi menjadi penguasa, karena sifatnya yg cenderung merasa diri ‘paling’……

tapi pihak kerajaan yang memble seperti itu juga sama parahnya kalo jadi penguasa…

misal saat itu tidak ada seorang gajah mada, apakah majapahit tetap akan besar?

wishnu, punya cerita tentang raden wijaya? ceritain dong.

Isokuiki: katanya emang kemampuan kita sekarang sangat tergantung dari reinkarnasi yang dulu, jadi masuk akal kalo dulunya orang hebat sekarang jadi orang hebat juga… tapi menurut gw pribadi sih kalo dulunya sudah hebat reinkarnasinya malah seharusnya sebaliknya dong ya, kan reinkarnasi untuk menyelesaikan yang belum selesai… hehehe, maunya gw sih gitu…


Wishnuwarman
05-01-2009, 11:30 AM
Wah… agaknya harus baca – baca lagi nich kalo harus cerita tentang raden Wijaya. Apalagi kalo harus cerita persis garis silsilah beliau dan sebagainya…

Tapi sambil nunggu waktu yang pas buat cari data, seingat saya, Raden Wijaya itu adalah salah satu menantu Kertanegara (Raja Singosari yang terakhir), Yang setelah huru – hara perang dengan Kediri dan penyerangan Monogol, dia bisa mendirikan kerajaan baru bernama majapahit atau wilwatikta.

Suatu hari seorang utusan Mongol datang ke Singosari, membacakan surat ultimatum dari Kubilai Khan (Keturunan Jenghis Khan), agar Singosari dan seluruh kerjaan di pulau jawa tunduk dan takluk dalam kekuasaan Mongol (Saat itu Mongol hampirmenaklukan sepertiga dunia, dan Singosari adalah kerajaan terbesar di Jawa). Kertanegara yang begitu percaya diri, membalas ultimatum itu dengan menghina sang utusan (Dalam sebuah versi, diceritakan sang utusan di potong daun telinganya) dan dikirim kembali ke Mongol. Tentu saja tindakan itu diikuti dengan kesiagaan seluruh aparat militer untuk menyongsong mongol. Mereka dikirim dalam jumlah besar ke perbatasan.

Namun, ketika Singosari sedang bersiaga menghadapi Agresi, Salah satu Raja Bawahan (Setara Gubernur), bernama jayakatwang (masih besannya Kertanegara), yang memimpin Kediri, melakukan pemberontakan. Dengan taktik tertentu, Jayakatwang mengirim sebagian pasukannya ke sebuah tegalan untuk menantang Singosari. Dan entah bagaimana, Kertanegara menymbut tantangan itu dengan mengirim semua pasukan yang ada di Ibukota, dipimpin Raden Wijaya untuk memerangi pasukan jayakatwang di tegalan tersebut (sy lupa nama daerahnya), padahal itu hanya jebakan, karena sebagian pasukan Kediri yang lain dalam jumlah yang lebih besar, menyerang keraton singosari dari arah yang lain. Singosari Musnah, Kertanegara mati. Jayakatwang menjadi raja baru dan nama negara berubah kembali menjadi Kediri (Sebelum Singosari berdiri, Kediri adalah kerajaan terbesar di pulau Jawa. Setalah Ken Arok yang memimpin kadipaten Tumapel memberontak dan menaklukan kerajaan Kediri, maka dibuat kerjaan baru bernama Singosari).

Sementara Raden Wijaya yang telah berhasil menghancurkan dengan mudah pasukan umpan kediri di tegalan, kebingungan, ketika tahu Songosari sudah tidak ada. Maka dia bersama psukannya dan perwira – perwira setinya, memilih untuk mundur mencari tempat bertahan. Atas jasa Adipati Sumenep, Raden Wijaya menempati lahan atau hutan tarik. Yang kemudian disebut majapahit, karena di sana banyak pohon Maja yang buahnya pahit. Kemudian Raden Wijaya mengkonsolidasikan kesatuan – kesatuan Militer Singosari lainnya yang tersebar(yang tadinya disiapkan untuk menghadapi mongol). Namun Raden Wijaya tidak segera menyerang balik Jayakatwang.


Wishnuwarman
05-01-2009, 11:38 AM
Certa selanjutnya, adalah ketika Legiun pasukan Mongol tiba di pualu Jawa. melalui suatu operasi intelejen, Raden Wijaya mengarahkan pasukan Mongol yang bermaksud menyerang Singosari (Kertangera) untuk menyerang Kediri, atau keraton yang ditempati Jayakatwang. Dengan pasukan yang berjumlah besar, percaya diri dan terlatih, mereka berhasil menghancurkan kediri dan membunuh Jayakatwang, meskipun mendapat perlawanan yang sengit.

Tepat ketika pertempuran usai, pasukan mongol yang kelelahan dan kurang waspada karena sudah merasa menang, mendapat gempuran dari arah belakang, Gempuran itu dilakukan oleh Raden Wijaya beserta berbagai bekas kesatuan militer Singosari yang tadinya memang disiapkan untuk menghadapi Mongol. Dalam keadaan tidak siap itu, akhirnya pasukan Mongol dapat dikalahkan dan terusir.

Setelah huru – hara berakhir, maka tokoh yang muncul sebagai “Last Man Standing”, adalah Raden Wijaya. Maka dia tampil memimpin seluruh wilayah yang dahulunya dikuasai Sengosari dan Kediri dengan nama baru yaitu Wilwatikta atau dikenal juga dengan Majapahit.


ISOKUIKI
05-01-2009, 11:48 AM
setelah pasukan mongol ditaklukkan oleh Raden Wijaya apakah mongol balik menyerang Majapahit lagi? seingatku semua negara takluk pada mongol hanya ada satu negara yg gak pernah berhasil dijajah mongol yaitu negara nepal yg walaupun negaranya kecil n tentaranya sedikit tp mongol gak pernah menang/berani melawan nepal

Wishnuwarman
05-01-2009, 12:04 PM
setelah pasukan mongol ditaklukkan oleh Raden Wijaya apakah mongol balik menyerang Majapahit lagi? seingatku semua negara takluk pada mongol hanya ada satu negara yg gak pernah berhasil dijajah mongol yaitu negara nepal yg walaupun negaranya kecil n tentaranya sedikit tp mongol gak pernah menang/berani melawan nepal

Ternyata Jawa atau nusantara tidak pernah menjadi bagian dari sepertiga dunia yang ditaklukan Mongol. Karena setelah terusir dari Jawa, Mongol berkonsentrasi ke wilayah lain yang ditaklukan. Namun bayang – bayang akan terjadinya serangan Mongol, selalu menghantui para pembesar majpahit. Itulah yang melatarbelakangi ide penyatuan nusantara dari Gajah Mada. Dia mengaggap bahwa Serangan balasan Mongol hanya bisa dicegah jika kerajaan – kerjaan di nusantara bisa bersatu. Gajah Mada mencoba membuat benteng atau pagar bagi Majpahit untuk mencegah serangan Mongol. Benteng dan pagar tersebut terdiri dari negara – negara di Nusantara.

Mungkin Dewan perang Mongol salah perhitungan. Pasukan Mongol yang dikirim Kubilai Khan untuk menggempur Jawa tidak terlalu banyak, Mungkin karena kesalahan laporan intelejen Mongol yang mengabarkan bahwa jumlah pasukan, kemampuan tempur dan teknologi militer tentara jawa tidak sehebat Mongol. Mungkin informasi yang mereka kumpulan keliru dan menyesatkan, sehingga mereka dapat dikalahkan dan terusir (Menurut suatu versi, Kubulai Khan memberikan hukuman pancung kepada jenderal Mongol yang memimpin operasi Militer ke Pulau Jawa). Yang pasti, hasil evaluasi dewan perang Mongol setelah kekalahan itu adalah menunda penaklukan Jawa dan berkonsentrasi ke wilayah lain, sampai akhirnya Mongol memasuki masa kemundurannya (Perlu diingat, bahwa Kubilai Khan adalah pemimpin Mongol pasca masa keemasan Mongol yang dipimpin Jenghis Khan, jadi sebenarnya ketika penyerangan Mongol Ke Jawa, klimaks puncak kejayaan Mongol sdh lewat, meski belum mundur dan masih kuat).

Kira – kira begitu, perlu data nich untuk menguatkan


ISOKUIKI
05-01-2009, 02:01 PM
tapi ada yg bilang kalo majapahit pernah takluk ama mongol, sampai2 majapahit mengirimkan upeti ke mongol,
tambahin data2nya dong biar makin jelas sejarahnya.

Airy Xie
05-01-2009, 10:40 PM
kalo baca ceritamu diatas, kayaknya si raden wijaya ini serba dianugerahi ‘kebetulan’ ya…
kesannya beda banget sama gajah mada yang harus serba berjuang untuk menjadi besar…
yang di trowulan tuh patungnya raden wijaya bukan sih?

Airy Xie
05-01-2009, 10:49 PM
Ternyata Jawa atau nusantara tidak pernah menjadi bagian dari sepertiga dunia yang ditaklukan Mongol. Karena setelah terusir dari Jawa, Mongol berkonsentrasi ke wilayah lain yang ditaklukan. Namun bayang – bayang akan terjadinya serangan Mongol, selalu menghantui para pembesar majpahit. Itulah yang melatarbelakangi ide penyatuan nusantara dari Gajah Mada. Dia mengaggap bahwa Serangan balasan Mongol hanya bisa dicegah jika kerajaan – kerjaan di nusantara bisa bersatu. Gajah Mada mencoba membuat benteng atau pagar bagi Majpahit untuk mencegah serangan Mongol. Benteng dan pagar tersebut terdiri dari negara – negara di Nusantara.

Mungkin Dewan perang Mongol salah perhitungan. Pasukan Mongol yang dikirim Kubilai Khan untuk menggempur Jawa tidak terlalu banyak, Mungkin karena kesalahan laporan intelejen Mongol yang mengabarkan bahwa jumlah pasukan, kemampuan tempur dan teknologi militer tentara jawa tidak sehebat Mongol. Mungkin informasi yang mereka kumpulan keliru dan menyesatkan, sehingga mereka dapat dikalahkan dan terusir (Menurut suatu versi, Kubulai Khan memberikan hukuman pancung kepada jenderal Mongol yang memimpin operasi Militer ke Pulau Jawa). Yang pasti, hasil evaluasi dewan perang Mongol setelah kekalahan itu adalah menunda penaklukan Jawa dan berkonsentrasi ke wilayah lain, sampai akhirnya Mongol memasuki masa kemundurannya (Perlu diingat, bahwa Kubilai Khan adalah pemimpin Mongol pasca masa keemasan Mongol yang dipimpin Jenghis Khan, jadi sebenarnya ketika penyerangan Mongol Ke Jawa, klimaks puncak kejayaan Mongol sdh lewat, meski belum mundur dan masih kuat).

Kira – kira begitu, perlu data nich untuk menguatkan

kalo yang pernah aku baca sih karena mongol ga memperhitungkan armada laut majapahit. hal inilah yang nantinya jadi sumber perpecahan antara majapahit dan sunda, karena sunda merasa diuntungkan oleh mongol dan enggan gabung ma majapahit.

gw lagi mbayangin nih, kira2 saat itu memungkinkan ga sih kalo mongol menyerang melalui jalan darat ke jawa?


Iskra
06-01-2009, 08:25 AM
Sementara Raden Wijaya yang telah berhasil menghancurkan dengan mudah pasukan umpan kediri di tegalan, kebingungan, ketika tahu Songosari sudah tidak ada. Maka dia bersama psukannya dan perwira – perwira setinya, memilih untuk mundur mencari tempat bertahan. Atas jasa Adipati Sumenep, Raden Wijaya menempati lahan atau hutan tarik. Yang kemudian disebut majapahit, karena di sana banyak pohon Maja yang buahnya pahit. Kemudian Raden Wijaya mengkonsolidasikan kesatuan – kesatuan Militer Singosari lainnya yang tersebar(yang tadinya disiapkan untuk menghadapi mongol). Namun Raden Wijaya tidak segera menyerang balik Jayakatwang.

Adipati Sumenep itu Arya Wiraraja bukan ?

ada info gak bos kenapa orang nomor satu yang dipercaya Jayakatwang ini pada akhirnya justru berhianat dan memihak Raden Wijaya ? Padahal doi yang paling getol memberi ide “serangan dua arah” Jayakatwang

kalo baca ceritamu diatas, kayaknya si raden wijaya ini serba dianugerahi ‘kebetulan’ ya…
kesannya beda banget sama gajah mada yang harus serba berjuang untuk menjadi besar…
yang di trowulan tuh patungnya raden wijaya bukan sih?

kalo kebetulan …………………..%hmm sulit juga bos…………
pasukan mongol yang yang nongol ::hihi:: di jawa tu mempunyai standarisasi “Light Kavalery” , Kavalery dengan armour ringan, sementara pasukan jawa cenderung telanjang dada.

Pantesan dewan perang Mongol meremehkan ……………. orang unit elit Kavalery aja gak punya…..::hihi:: tentara inti Jawa adalah tentara Infantry yang formasi nya pun kadang gak jelas

Tapi sampai sejauh ini, gw belum menemukan naskah kalo tentara mongol yang dateng complit dengan kuda-kuda sabana mereka. Kekurangan armada kapal kali yah…………. sehingga mayoritas hanya Infantry. Mungkin hal ini juga ………. yang membuat tentara mongol kagok untuk berperang di daerah tropis yang lebat hutannya.

Gak tau deh kalo bos Wishnuwarman tau lebih detail ……………::managuetau::


Wishnuwarman
06-01-2009, 11:34 AM
tapi ada yg bilang kalo majapahit pernah takluk ama mongol, sampai2 majapahit mengirimkan upeti ke mongol,
tambahin data2nya dong biar makin jelas sejarahnya.

Wah, sy baru baca info seperti itu, selama saya baca buku sejarah, novel/sastra, atau nonton film tentang majapahit, belum ada info itu. Mungkin data yang saya dapat versi indonesia.

boleh tahu sumbernya ?


Wishnuwarman
06-01-2009, 12:02 PM
kalo yang pernah aku baca sih karena mongol ga memperhitungkan armada laut majapahit. hal inilah yang nantinya jadi sumber perpecahan antara majapahit dan sunda, karena sunda merasa diuntungkan oleh mongol dan enggan gabung ma majapahit.

gw lagi mbayangin nih, kira2 saat itu memungkinkan ga sih kalo mongol menyerang melalui jalan darat ke jawa?

Kalo yang saya baca dari Joseph Iskandar, Angkatan Laut Majapahit baru dibangun pada periode Gajah Mada sebagai Mahapatih. pada masa itu baru diangkat seorang laksamana bernama Nala. Jadi bukan pada masa Singosari, atau pada masa Raden Wijaya.

Pembentukan “Majapahit Navy” sebagai upaya Gajah Mada untuk mewujudkan Sumpah palapanya. Angkatan laut Majpahit mendapatkan pengembangan yang signifikan setelah Gajah Mada berkenalan dengan seorang pengembara dari Sumatera (sy lupa namanya) yang kemudian diangkat menjadi penasehat Hayam Wuruk. Sang pengembara tersebut berasal dari bekas kerajaan Sriwijaya yang pada masa jayanya, sangat terkenal dengan Armada lautnya. Bahkan kemudian, Majapahit membangun persekutuan dengan kerajaan itu. Banyak parjurit Majapahit yang dikirim ke Sriwijaya untuk belajar mengenai taktik dan strategi peretempuran laut.

Mengenai sumber konflik Sunda – Majapahit, yang jelas peristiwa Bubatlah penyebab terbesarnya. tapi bukan tidak mungkin jika ada persekutuan antara mongol dan sunda.

pada masa sebelumnya, di Jawa Barat hanya terdapat satu kerajaan induk (denganbeberpa kerjaan bawahan/provisni), yaitu Tarumanegara. Ketika Tarusbawa diangkat menjadi raja ke 13 menggantikan mertuanya, karena usia Tarusbawa dianggap masih muda dan bukan keturunan darah dari raja sebelumnya (hanya menantu), seorang kerabat raja yang cukup senior (raja/gubernur kendan) dan berpengarauh di jawa barat bagian timur bernama Wertikendayun, mengumumkan pemisahan diri kerajaan kendan (sekarang Rancaekek – Nagreg, wilayah antara bandung dan garut) dari kerajaan Tarumanegara yang beribukota di Pakuan (Bogor). Ternyata beberapa kerajaan bawahan lain dibagian timur jawa barat memilih bergabung dengan wertikendayun, dan munculah kerajaan baru bernama Galuh.

Wertikendayun berani meisahkan diri, karena selain mendapat dukungan dari raja – raja bawahan lain, juga mendapat dukungan secara ekonomi dan militer dari kerjaan terbesar di jawa Tengah dan Jawa Timur saat itu, yaitu Daha/mataram Kuno (cikal bakal/leluhur kerjaan Kediri, Singosari dan Majapahit). Tarusbawa sebagai raja yang masih muda, bisa saja menupas Wertikendayun, karena diapun mendapat dukungann militer juga dari kerjajaan Sriwijaya di Sumatera (karena membangun hubungan kekerbatan/besan). Namun Tarusbawa memilih mensejahterakan kerajaan dengan wilayah yang kecil daripada berperang untuk wilayah yang luas. Akhirnya tercipta perjanjian pembagian wilayah di Jawa Barat, Kerjaan Sunda (Pakuan) di sebelah Barat Sungai Citarum, Sedangkan Kerjaan Galuh (Priangan Timur) di sebelah timur sungai Citarum (Perbatasannya antara Cianjur dan Bandung atau Rajamandala).

Maksud saya ceritakan hal ini, sekadar analisa bahwa budaya bersekutu untuk dukungan militer dengan negara lain, adalah sudah biasa dalam kultur pemerintahan dan politik sunda. jadi bisa saja Sunda pernah bersekutu dengan Mongol. Tapi data tentang persekutuan ini belum pernah saya baca.


Wishnuwarman
06-01-2009, 12:09 PM
kalo baca ceritamu diatas, kayaknya si raden wijaya ini serba dianugerahi ‘kebetulan’ ya…
kesannya beda banget sama gajah mada yang harus serba berjuang untuk menjadi besar…
yang di trowulan tuh patungnya raden wijaya bukan sih?

Rasanya bukan kebetulan, tapi Raden Wijaya memiliki kemampuan membaca peluang dan menciptakan moment. dalam keadaan panik dia memilih mundur dan bersembunyi. lalu muncul setelah yakin situasi dapat dia kendalikan.

Kedua hal itu lebih penting dari sekedar teknologi militer, daya tempur dan jumlah pasukan. Meskipun saat itu secara militer kita masih primitif, tapi sudah ada tokoh yang memiliki kemampuan taktis dan strategis yang handal. Biasanya sejarah memunculkan orang seperti ini dalam situasi yang Chaos.


Wishnuwarman
06-01-2009, 12:19 PM
Adipati Sumenep itu Arya Wiraraja bukan ?

ada info gak bos kenapa orang nomor satu yang dipercaya Jayakatwang ini pada akhirnya justru berhianat dan memihak Raden Wijaya ? Padahal doi yang paling getol memberi ide “serangan dua arah” Jayakatwang

Kalo tidak salah ingat, Arya Wiraraja itu memang adipati sumenep yang saya maksud.

Kalo memang dia yang memberikan ide serangan dua arah, bisa jadi posisi Raden Wijaya yang selamat dari penghancuran Keraton Singosari itu bukan kebetulan dan memang sudah direncanakan sejak semula (Ketika Jayakawang menyerang Kertanegra, Raden Wijaya dikirim berperang menghadapi pasukan kediri di tempat lain).

Saya jadi curiga kalo Arya Wiraraja ini tidak sekedar berperan menyelamatkan Raden Wijaya, tapi juga berperan dalam mengadudombakan jayakatwang dan Kertangera, dan memunculkan Raden Wijaya sebagai “Last Man Standing” dalam kekacauan tersebut. Kalo itu benar, sebenarnya Arya Wirarajalah yang menciptakan Majapahit, dialah yang jadi “Man Behind the Screen” dari kemenagan Raden Wijaya. dia bermain di dua kaki.

He…he, ini fiksi kawan, tapi kayaknya asik juga bikin karya sastra atau filmyang penuh intrik, teknik militer dan intelejen yang kolosal dengan versi yang ini….., tapi bisa jadi juga fakta khan ?


Wishnuwarman
06-01-2009, 12:41 PM
kalo kebetulan …………………..hmm sulit juga bos…………
pasukan mongol yang yang nongol ::hihi:: di jawa tu mempunyai standarisasi “Light Kavalery” , Kavalery dengan armour ringan, sementara pasukan jawa cenderung telanjang dada.

Pantesan dewan perang Mongol meremehkan ……………. orang unit elit Kavalery aja gak punya…..::hihi:: tentara inti Jawa adalah tentara Infantry yang formasi nya pun kadang gak jelas

Tapi sampai sejauh ini, gw belum menemukan naskah kalo tentara mongol yang dateng complit dengan kuda-kuda sabana mereka. Kekurangan armada kapal kali yah…………. sehingga mayoritas hanya Infantry. Mungkin hal ini juga ………. yang membuat tentara mongol kagok untuk berperang di daerah tropis yang lebat hutannya.

Gak tau deh kalo bos Wishnuwarman tau lebih detail ……………::managuetau::

Wah asik juga kalo diskusi sejarah, ditambah diskusi teknologi militer, sy sendiri belum punya data yang memadai soal detail. tapi analisa bos Iskra ok juga.

Tapi menurut saya, Meskipun Angkatan Perang Mongol adalah yang terbesar dan terkuat saat itu, mereka memiliki masalah serius dalam bidang intelejen. Mereka masih terlalau percaya diri dengan hanya mengandalkan kemampuan tempur parjurit dan tejnologi persenjataan, tanpa memperhitungkan aspek informasi tentang medan tempur, pengkondisian penduduk/rakyat di pulau Jawa, mencari sekutu yang bisa dipercaya, penguatan instalasi logistik (Bisa jadi yang menyebakan kekalahan Mongol, karena gudang logistik mereka dikuasai atau dibakar oleh pasukan raden Wijaya, seperti kekalahan Sultan Agung ketika menyerang Batavia) dan berbagai tetek bengek urusan Telik Sandi lainnya.

Meskipun bukan yang terpenting dalam pertempuran, Intelejen adalah komponen terpenting yang menentukan hasil akhir peperangan.


Airy Xie
06-01-2009, 10:13 PM
Saya jadi curiga kalo Arya Wiraraja ini tidak sekedar berperan menyelamatkan Raden Wijaya, tapi juga berperan dalam mengadudombakan jayakatwang dan Kertangera, dan memunculkan Raden Wijaya sebagai “Last Man Standing” dalam kekacauan tersebut. Kalo itu benar, sebenarnya Arya Wirarajalah yang menciptakan Majapahit, dialah yang jadi “Man Behind the Screen” dari kemenagan Raden Wijaya. dia bermain di dua kaki.

He…he, ini fiksi kawan, tapi kayaknya asik juga bikin karya sastra atau filmyang penuh intrik, teknik militer dan intelejen yang kolosal dengan versi yang ini….., tapi bisa jadi juga fakta khan ?

atau bisa jadi raden wijaya cuma boneka saja… kan sering tuh kalo dalam pemerintahan yan dibalik layar adalah sang sutradara dan yang lain cuma sekedar pemain saja… tapi dari crita2 yang pernah kubaca kayaknya raden wijaya ni type yang ‘memancarkan wibawa’ jadi gw rada2 ga yakin kalo dia cuma sekedar boneka.

Tapi menurut saya, Meskipun Angkatan Perang Mongol adalah yang terbesar dan terkuat saat itu, mereka memiliki masalah serius dalam bidang intelejen. Mereka masih terlalau percaya diri dengan hanya mengandalkan kemampuan tempur parjurit dan tejnologi persenjataan, tanpa memperhitungkan aspek informasi tentang medan tempur, pengkondisian penduduk/rakyat di pulau Jawa, mencari sekutu yang bisa dipercaya, penguatan instalasi logistik (Bisa jadi yang menyebakan kekalahan Mongol, karena gudang logistik mereka dikuasai atau dibakar oleh pasukan raden Wijaya, seperti kekalahan Sultan Agung ketika menyerang Batavia) dan berbagai tetek bengek urusan Telik Sandi lainnya.

Meskipun bukan yang terpenting dalam pertempuran, Intelejen adalah komponen terpenting yang menentukan hasil akhir peperangan.

termasuk mengirimkan telik sandi yang benar2 loyal dan bukannya malah menjerumuskan… apalagi menyusup ke daerah lawan yang jelas2 lokasinya teramat snagat jauh sekali, sekali saja trejadi pengkhianatan resikonya seluruh pasukan…
lagian kalo gw bayangin bola dunia, dari mongol ke jawa (bahkan dengan era modern seperti saat ini) sudah ngabisin separoh energi sendiri, iya ga sih..?

sunda tuh bukannya negara pelabuhan tempat wira-wirinya kapal dagang antar begara saat itu? kayaknya gw baca itu di novelnya LKH deh… btw, seberapa tepat novel LKH dengan sejarah yang tertera di buku2?


Iskra
07-01-2009, 08:28 AM
atau bisa jadi raden wijaya cuma boneka saja… kan sering tuh kalo dalam pemerintahan yan dibalik layar adalah sang sutradara dan yang lain cuma sekedar pemain saja… tapi dari crita2 yang pernah kubaca kayaknya raden wijaya ni type yang ‘memancarkan wibawa’ jadi gw rada2 ga yakin kalo dia cuma sekedar boneka.

ya itu dya bos ………………………… masih jadi perdebatan juga kenapa pada akhirnya Arya Wiraraja justru balik menghantam Kediri dan mendukung Raden Wijaya.

ada indikasi kuat kalo si Jayakatwang ini mengecilkan peran Arya Wiraraja dalam mendukung Kediri, sehingga “Balas Jasa” yang didapat mengecewakan dirinya dan Nambi.

Sebaliknya, profil Raden Wijaya yang berwibawa meyakinkan Arya Wiraraja tentang janji “Balas Jasa” yang akan didapat jika mendukungnya.

hal ini terbukti ketika kemudian Nambi diangkat menjadi Maha Patih Majapahit.

Tetapi sekali lagi, benturan kembali terjadi. Ranggalawe sebagai Komandan pasukan lapangan merasa tidak terima atas pengangkatan Nambi karena ia merasa mempunyai jasa yang sangat besar ketika mempertaruhkan nyawanya dalam menggempur pasukan Kediri serta Mongol.

Jayakatwang enggan memberi posisi yang lebih tinggi pada klan Arya Wiraraja karena Jayakatwang lebih menghargai staf lapangannya


Wishnuwarman
07-01-2009, 10:23 AM
sunda tuh bukannya negara pelabuhan tempat wira-wirinya kapal dagang antar begara saat itu? kayaknya gw baca itu di novelnya LKH deh… btw, seberapa tepat novel LKH dengan sejarah yang tertera di buku2?

Sejak masih bernama Selakanegara, kemudian Tarumanegara yang akhirnya lalu dua menjadi Sunda dan Galuh, setalah itu bergabung kembali menjadi Pajajaran, dan terkahir terbagi lagi dalam bentuk kesultanan – kesultanan Islam (Banten, Cirebon dll), daerah Jawa Barat memiliki pelabuhan yang sering dijadikan tempat “Wara – Wiri”.

Sy juga baca novel LKH, tapi novel itu lebih menceritakan periode Majapahit sejak era Jayanegara sampai Hayam Wuruk. Bukan menceritakan periode Raden Wijaya, atau ketika penyerangan Mongol terjadi. Jika Tentara Mongol meminjam pelabuhan sunda untuk mendarat, agaknya Tentara Mongol akan kesulitan untuk menempuh perjalanan darat dari jawa barat ke Kediri, karena jauh sekali dan medannya berbukit – bukit. Sampai saat ini, perjalanan darat seperti itu masih sulit dan melelahkan. Apalagi saat itu belum ada Deanless yang membuat jalan pantura dari Banten ke Pamanukan. Bahkan ketika rombongan kerajaan Sunda (Prabu Linggabuana dan Sang Puteri Dyah Pitaloka) pergi ke Majahit untuk acara pernikahan (memenuhi undangan dan pinagangan Hayam Wuruk), mereka memilih jalan laut.

Satu lagi. Jika tentara Mongol mendarat di pelabuhan sunda untuk menyerang kediri, seharusnya ketika Raden Wijaya menggempur mereka, pasti mereka mundur ke arah Jawa Barat, bukan ke laut dan kabur kembali langsung ke Mongol. Tapi, jika mereka sekedar singgah untuk mendapatkan perbekalan logistik, mungkin saja mereka sempat merapat di pelbuhan sunda. Tapi itu belum tentu berarti bersekutu, karena pelabuhan adalah tempat bebas tiap orang untuk bertransaksi.

Soal keakuratan Novel KLH, menurut saya untuk ukuran novel atau karya sastra, KLH menulis cukup otentik karena melalau proses riset dan menggunakan Kitab Pararaton dan Negarakertagama sebagai sumber. Tentu saja unsur fiksi sebagai bumbu tetap ada,. tapi Peristiwa – peristiwa besar dan garis cerita memang sesuai sejarah.


Wishnuwarman
07-01-2009, 10:35 AM
ada indikasi kuat kalo si Jayakatwang ini mengecilkan peran Arya Wiraraja dalam mendukung Kediri, sehingga “Balas Jasa” yang didapat mengecewakan dirinya dan Nambi.

Sebaliknya, profil Raden Wijaya yang berwibawa meyakinkan Arya Wiraraja tentang janji “Balas Jasa” yang akan didapat jika mendukungnya.

hal ini terbukti ketika kemudian Nambi diangkat menjadi Maha Patih Majapahit.

Lho, sy kira nambi berada di posisi berlawanan dengan jayakatwang, seingat saya, pengangkatan Nambi sebagai Patih pertama majapahit, karena jasa Nambi menyelamatkan keempat (Atau ketiga, saya lupa) Puteri Kertanegara (salah satunya adalah Isteri Raden Wijaya dari kepungan tentara Kediri (Jayakatwang), dan mempertemukan mereka kembali dengan Raden Wijaya.

Boleh info lebih banyak Bos Iskra ?

Soal Arya Wiraraja yang kecewa dengan jayaktwang, saya kira mungkin saja benar. Jika demikian, Arya Wiraraja adalah seorang Oportunis yang setelah menilai Raden Wijaya, dia yakin bahwa orang berwibawa inilah yang akan muncul sebagai pemenang sehingga dia segera membelot. Atau dia punya peramal/ dukun/ paranormal, yang memberi “bisikan” agar segera berubah halauan setelah melihat perkembangan situasi bahwa Raden Wijaya mampu mengalahkan sebagian pasukan kediri di “tegalan” (sorry masih belum ketemu namanya) dan mengkonsolidasikan sisa – sisa kesatuangn Militer Singosari. Mungkin Arya Wiraraja Khawatir jika dia tidak segera mendukung raden Wijaya, dia akan mendapatkan pembalasan dendam yang pedih dari pasukan yang setia dengan Raden Wijaya atau Singosari. Dia berhitung, bahwa cepat atau lambat Raden Wijaya bisa mengalahkan jayakatwang, apalagai situasi Jayakatwang juga tidak aman karena ada ancaman penyerangan Mongol yang akan menginvasi Jawa.

Mungkin saja…. Who Knows ??? ada ide lain ??


Wishnuwarman
07-01-2009, 10:53 AM
Tetapi sekali lagi, benturan kembali terjadi. Ranggalawe sebagai Komandan pasukan lapangan merasa tidak terima atas pengangkatan Nambi karena ia merasa mempunyai jasa yang sangat besar ketika mempertaruhkan nyawanya dalam menggempur pasukan Kediri serta Mongol.

Jika melihat versi sinentron Tutur Tinular, poerpecahan antara Raden Wijaya dengan Nambi, Ranggalawe dan lembu Sora, karena ada orang dalam keraton yang memberikan “bisikan” adu domba dan fitnah terhadap mereka (konon tokoh itu bernama mapati). Padahal ketiga tokoh tersebut merupakan perwira utama Raden Wijaya.

Ketika Ranggalawe terlihat kecewa, digosipkan bahwa Ranggalawe bermaksud melakukan kudeta. Sebagai Patih, Nambi memerintahkan pasukan untuk memastikan hal itu, namun keslahpahaman membuat terjadi pertempuran antara pasukan nambi dengan pasukan Ranggalawe, akhirnya Ranggalawe tewas.

Raden Wijaya kecewa. pada saat yang bersamaan, Nambi pulang kampung ke lumajang karena ayahnya meninggal. Lalu muncul isu di lumajang bahwa raden Wijaya bermaksud menangkap dan menghukum Nambi. Para pendukung setia nambi di kampung halaman berinisatif untuk bersiap – siap menghadang pasukan Majapahit. Hal itu dilihat oleh telik sandi Majpahit, maka munculah desas desus di ibukota bahwa nambi tengah menyusun kekuatan untuk makar terhadap majapahit. Maka Raden Wijaya mengirimkan pasukan ke Lumajang. Terjadilah peperangan yang hasilnya Nambi tewas.

Lembu Sora, seorang perwira yang dituakan, sahabat Ranggalawe dan Nambi, merasa gusar dengan berbagai peristiwa tersebut. Lembu Sora bermaksud datang menghadap Raden Wijaya untuk meminta penjelasan dan keadilan tentang berbagai peristiwa yang terjadi, dia mencium ada pihak yang mengadu domba. Namun sebelum ia sampai, muncul kabar di kalangan pengawal keraton bahwa Lembu Sora akan datang dengan keadaan marah dan bermaksud membunuh Raden Wijaya. Peristiwa berikutnya, Lembu Sora tewas terbunuh begitu sampai pintu gerbang keraton

Ini versi sinetron yang dulu tayang di ANTV, Raden Wijaya diperankan oleh Agus Kuncoro.


Iskra
07-01-2009, 02:35 PM
Lho, sy kira nambi berada di posisi berlawanan dengan jayakatwang, seingat saya, pengangkatan Nambi sebagai Patih pertama majapahit, karena jasa Nambi menyelamatkan keempat (Atau ketiga, saya lupa) Puteri Kertanegara (salah satunya adalah Isteri Raden Wijaya dari kepungan tentara Kediri (Jayakatwang), dan mempertemukan mereka kembali dengan Raden Wijaya.

anu ……………………%hmm

Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Nambi sebagai salah satu abdi Raden Wijaya yang ikut mengungsi ke tempat Arya Wiraraja di Songeneb (nama lama Sumenep) ketika Kerajaan Singasari runtuh diserang pasukan Jayakatwang tahun 1292. Sedangkan menurut Kidung Harsawijaya, Nambi adalah putra Arya Wiraraja yang baru kenal Raden Wijaya di Songeneb.

Kidung Harsawijaya mengisahkan pula, Nambi kemudian dikirim ayahnya untuk membantu Raden Wijaya membuka Hutan Terik menjadi sebuah desa pemukiman bernama Majapahit. Kisah ini berlawanan dengan Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe yang menyebut nama putra yang dikirim Arya Wiraraja adalah Ranggalawe, bukan Nambi.

ada perbeda’an pandangan sejarah mengenai jati diri mpu Nambi.

tapi gw cenderung percaya kalo Nambi itu putra Arya Wiraraja, karena sewaktu Ranggalawe tewas oleh aji Capit Waja nya Kebo Anabrang, si Arya Wiraraja menanggapi dengan kalem

dalam pandangan saya, Ranggalawe yang memang senior di lapangan menganggap Nambi adalah anak kemarin sore yang menjabat dikarenakan jasa ayahnya. Seandainya Lembu Sora yang menduduki jabatan perdana mentri, mungkin keputusan itu dapat diterima semua pihak.

dikit O.T bos, Arya Kamandanu itu beneran ada gak sih ? ato cuman roman untuk memperkuat unsur percinta’an dalam Tutur Tinular ?


Wishnuwarman
08-01-2009, 11:57 AM
ada perbeda’an pandangan sejarah mengenai jati diri mpu Nambi.

tapi gw cenderung percaya kalo Nambi itu putra Arya Wiraraja, karena sewaktu Ranggalawe tewas oleh aji Capit Waja nya Kebo Anabrang, si Arya Wiraraja menanggapi dengan kalem

dalam pandangan saya, Ranggalawe yang memang senior di lapangan menganggap Nambi adalah anak kemarin sore yang menjabat dikarenakan jasa ayahnya. Seandainya Lembu Sora yang menduduki jabatan perdana mentri, mungkin keputusan itu dapat diterima semua pihak.

dikit O.T bos, Arya Kamandanu itu beneran ada gak sih ? ato cuman roman untuk memperkuat unsur percinta’an dalam Tutur Tinular ?

Wah, baru tahu tuh, trims infonya.

sy sepakat, mestinya yang dianggat sebagai patih itu Lembu Sora, dan saya menanggap wajar kekecewaan Ranggalawe.

Arya Kamandanu, Pedang Nagapuspa, kayaknya itu semua fiksi, seperti certa tentang tokoh Dyah Menur, Gajah Enggon, dsb dalam Novel Gajah Mada karya LKH. Itu semua adalah bumbu untuk menguatkan cerita sejarah yang tayang dalam sinetron atau tercetak dalam karya sastra.


Iskra
10-01-2009, 11:15 AM
Sekedar posting …

Setelah Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja pada 10 November 1293, wilayah kekuasa’an nya secara de Facto hanya meliputi Majapahit barat yang ber-ibukota di Trowulan, Mojokerto.

Sedang untuk wilayah Majapahit Timur beribukota di Lumajang dengan Arya Wiraraja sebagai penguasanya.

Majapahit pada awal berdiri memang merupakan Monarkhi dwi tunggal dimana mempunyai dua orang penguasa, tetapi hanya satu system kenegara’an.

Penguasa’an Arya Wiraraja atas wilayah Timur didasari pada janji Raden Wijaya yang ketika mengungsi, ia berjanji untuk jika ia berhasil merebut kembali takhta mertuanya, maka kekuasaannya akan dibagi dua, yaitu untuk dirinya dan untuk Wiraraja.

meskipun cukup rumit, tetapi konsepsi ini gagal dan Majapahit kembali bersatu ketika Majapahit Timur di aneksasi setelah terbunuhnya Mpu Nambi


ratu_desko
11-01-2009, 01:31 PM
waks… keren nih… baru baca2 skarang..

Mengenai sumber konflik Sunda – Majapahit, yang jelas peristiwa Bubatlah penyebab terbesarnya. tapi bukan tidak mungkin jika ada persekutuan antara mongol dan sunda.

@wishnu:

gw pernah baca di manaaa gitu.. [gw search gk ketemu] katanya perang bubat tuh gak pernah ada. kata peneletinya yg kerja di are triwulan, krn gak ada data2 yg mendukung perang tsb. beneran gak sih?


Wishnuwarman
12-01-2009, 10:26 AM
gw pernah baca di manaaa gitu.. [gw search gk ketemu] katanya perang bubat tuh gak pernah ada. kata peneletinya yg kerja di are triwulan, krn gak ada data2 yg mendukung perang tsb. beneran gak sih?

Kisah perang bubat banyak muncul di buku – buku sejarah maupun novel/sastra. Yang pasti, ham[pir sebagian besar buku sejarah dan novel sejarah yang menceritakan sunda, majapahit atau perang bubat mereka mengambil sumber dari Kitab Pararaton, Kidung Sunda atau Negarakertagama. sy ngga tahu apakah kitab - kitab itu merupakan catatan sejarah yang ditulis oleh pelaku atau saksi peristiwa, atau jangan - jangan juga propaganda dari pihak - pihak tertentu untuk memperlihatkan sejarah versi mereka kepada generasi - generasin selanjutnya.

Kalo baca buku tentang sejarah Sejarah Sunda karya Yoseph Idskandar, Nina Lubis, dan berbagai penulis lain, kebanyakan mereka menyinggung adanya perang bubat. Dan di kalangan masyarakat sunda, cerita perang bubat itu telah menjadi dongen turun temurun yang diceritakan orang tua kepada anaknya. tentu saja memungkinkan terjadinya distorsi karena jarak waktu generasi yang jauh, tapi cerota yang sedemikian populer dan memberikan dampak ego kesukuan itu tidak mungkin muncul tanpa sebab.


Wishnuwarman
12-01-2009, 11:01 AM
Sekedar posting ...

Setelah Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja pada 10 November 1293, wilayah kekuasa'an nya secara de Facto hanya meliputi Majapahit barat yang ber-ibukota di Trowulan, Mojokerto.

Sedang untuk wilayah Majapahit Timur beribukota di Lumajang dengan Arya Wiraraja sebagai penguasanya.

Majapahit pada awal berdiri memang merupakan Monarkhi dwi tunggal dimana mempunyai dua orang penguasa, tetapi hanya satu system kenegara'an.

Penguasa'an Arya Wiraraja atas wilayah Timur didasari pada janji Raden Wijaya yang ketika mengungsi, ia berjanji untuk jika ia berhasil merebut kembali takhta mertuanya, maka kekuasaannya akan dibagi dua, yaitu untuk dirinya dan untuk Wiraraja.

meskipun cukup rumit, tetapi konsepsi ini gagal dan Majapahit kembali bersatu ketika Majapahit Timur di aneksasi setelah terbunuhnya Mpu Nambi

Wah... kayaknya info ini meperkuat kemungkinan jika Arya Wiraraja adalah ayah mpu Nambi, karena yang saya tahu, kampungnya Mpu Nambi disebut juga Lumajang.

Dengan versi ini, Jadi lebih jelas alasan kenapa Arya Wiraraja berani mengkhianati Jayakatwang, karena imbalannya memang baik. Tapi yang pasti Arya Wiraraja sudah yakin bahwa raden Wijaya yang akan muncul sebagai pemenag dalam huru - hara itu. Politik memang gambling, kalo ternyata Raden Wijaya Kalah, pati Jayakatwang memeberi hukuman mati bagi Arya Wiraraja.


ratu_desko
12-01-2009, 11:56 PM
ada yg bisa nerjemahin ini ke bhs indonesia ga? ada yg mirip2 ama bhs jawa kromo inggil sih.. tp banyakan sundanya.. :D

http://su.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda


Wishnuwarman
13-01-2009, 11:02 AM
ada yg bisa nerjemahin ini ke bhs indonesia ga? ada yg mirip2 ama bhs jawa kromo inggil sih.. tp banyakan sundanya.. :D

http://su.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda

Pupuh I

Hayam Wuruk, raja Majapahit hayang nyiar pibojoeun. Lajeng anjeunna ngirimkeun utusan ka sakuliah Nusantara pikeun néangan putri nu cocog. Para utusan mulang bari marawa lukisan para putri ti rupa-rupa nagara, ngan taya nu bisa ngirut atina. Lajeng Hayam Wuruk ngadéngé béja kegeulisan putri Sunda, geuwat baé anjeunna ngirim juru lukis ka Sunda. Nalika juru lukis balik deui bari mawa lukisan putri Sunda, kabeneran harita keur aya pamanna raja Kahuripan jeung Daha nu miharep sangkan Hayam Wuruk geura meunang jodo. Hayam Wuruk nu kataji ku lukisan putri Sunda, lajeng anjeunna ngutus mantri Madhu pikeun ngalamar ka karajaan Sunda.

( Hayam Wuruk, Raja Majapahit mencari calon Isteri, Selanjutnya beliau mengirimkan utusan ke seluruh wilayah nusantara untuk mencari puteri yang cocok. Para utusan pulang dengan membawa lukisan para puteri dari berbagai negara, namun tidak ada yang berkenan di hati Hayam Wuruk. Selanjutnya Hayam Wuruk mendengar kabar mengenai kecantikan Puteri Sunda, maka segera ia mengirim utusan untuk kembali dengan membawa lukisan puteri Sunda. Ketika Hayam Wuruk melihat lukisan itu, kebetulan saat itu hadir paman beliau, Raja Kahuripan dan Daha yang amat mengharapkan agar Hayam Wuruk segera mendapat jodoh . Maka langsung ia mengutus Mantri Madhu untuk melamar ke kerajaan sunda)

Madhu nepi ka tatar Sunda sanggeus lalayaran salila genep poé, terus baé nepungan raja Sunda. Raja Sunda gumbira nampa lamaran ti raja Majapahit nu kawentar ieu, sedengkeun Putri Sundana pribadi teu loba catur.

(Madhu sampai ke Sunda setelah berlayar selama enam hari, langsung menghadap raja sunda. Raja Sunda gembira menerima lamaran dari Raja Majpahit yang terkenal itu, Sedangkan sang puteri tidak banyak bicara)

Madhu mulang ka Majapahit bari mawa surat balesan ti raja Sunda sarta ngibérkeun rék datangna rombongan ti Sunda. Teu lila ti harita rombongan karajaan Sunda angkat diiring ku rombongan nu loba pisan: dua réwu kapal (kaasup kapal laleutik). Kapal nu dianggo ku kulawarga raja Sunda nyaéta "kapal jung Tatar (Mongol/Cina) nu ilahar dipaké satutasna perang Wijaya" (bait 1. 43a.). Ngan nalika naraék kapal, aranjeunna ningal kila-kila nu teu pihadéeun.
Kapal jung. Kamungkinan rombongan Sunda maké kapal-kapal sarupa kieu.

(Madhu pulang ke Majpahit sambil membawa surat balasan dari Raja Sunda serta mengabarkan akan datangnya rombongan dari Sunda. Tak lama kemudian, rombongan kerajaan Sunda berangkat dengan iringan rombongan yang besar, dua ribu kapal termasuk kapal kecil. Kapal yang digunakan keluarga Raja adalah "Kapal Jung Tatar buatan monogol/cina yang pernah digunakan dalam perang Wijaya. Namun ketika rombongan akan bernagkat, mereka melihat pertanda yang tidak baik. Kapal jung. kemungkinan rombongan sunda memakai kapal - kapal yang serupa dengan ini)

Majapahit sorangan sibuk nyiapkeun sambutan pikeun para tamu. Sapuluh poé ti harita, kapala désa Bubat ngalaporkeun geus datangna rombongan Sunda. Prabu Hayam Wuruk jeung paman-pamanna geus saged rék ngabagéakeun nu datang, tapi patih Gajah Mada teu panuju. Anjeunna keukeuh nyebutkeun yén Maharaja Majapahit teu pantes ngabagéakeun/nyambut raja nu statusna raja lokal (vazal) kawas raja Sunda, malah saha nu nyaho yén anjeunna téh musuh nu nyamar.

(Majapahit sendiri sibuk menyiapkan penyambutan bagi para tamu. Sepuluh hari kemudian, Kepala Desa Bubat melaporkan bahwa rombongan sunda sudah datang. Prabu Hayam Wuruk dan para pamannya sudah siap untuk menyambut atau menyongsong yang datang, namun patih Gajah Mada tidak setuju. Dia bersikukuh menyebutkan bahwa sungguh tidak pantas jika Maharaja Majapahit sendiri pergi untuk penambut raja yang statusnya adalah raja lokal seperti sunda. Bahkan Gajah mada mencurigai bawa rombongan itu adalah musuh yang menyamar.)

Mangka, nurutkeun pamanggih Gajah Mada, Prabu Hayam Wuruk teu jadi indit ka Bubat. Para abdi dalem karaton jeung pangagung séjénna kagét ngadéngé hal ieu, tapi maranéhna teu wani ngabantah.

(Maka, berdasarkan pertimbangan Gajah Mada, Prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat. Para abdi dalem keraton dan pejabat lainnya kaget mendengar hal ini, namun mereka hanya diam dan tak berani untuk membantah)

Di Bubat, rombongan Sunda hawar-hawar geus ngadéngé iber ngeunaan kaayaan di Majapahit. Lajeng raja Sunda ngirimkeun utusan, patih Anepakén, indit ka Majapahit. Anjeunna angkat dibarengan ku tilu pangagung séjénna sarta tilu ratus prajurit, langsung ka palinggihan Gajah Mada. Di dinya patih Anepakén sasanggeman yén Raja Sunda rék mulang sarta nyangka yén Hayam Wuruk ingkar jangji. Aranjeunna paséa rongkah sabab Gajah Mada keukeuh mikahayang urang Sunda lumaku sakumaha patalukan Nusantara Majapahit. Di kapatihan éta ampir bantrok, ngan kaburu dipisah ku Smaranata, pandita karajaan Majapahit. Mangka utusan Sunda marulang deui kalawan ngémbarkeun yén kaputusan ahir raja Sunda bakal ditepikeun dina jangka dua poé.

(Sementara di Bubat, rombongan raja sunda sudah mendengar kabar burung mengenai keadaan di Majapahit. Selanjutnya Raja Sunda mengirim utusan, patih Anepaken untuk pergi ke Majapahit. Beliau pergi diiringi oleh tiga pejabat lainnya serta 300 orang prajurit, langsung kekediaman/kantor/kepatihan Gajah Mada. Di sana Patih Anepaken menyampaikan bahwa Raja Sunda akan kembali pulang dan menyimpulkan bahwa Hayam Wuruk telah ingkar janji. Kemudian mereka bertengkar, karena Gajah Mada tetap berkehendak agar orang sunda tetap memperlakukan diri mereka sebagaimana kerajaan taklukan majapahit yang lainnya. Di Kepatihan tersebut, hampir terjadi bentrokan, namun Samaarnta, pedeta kerajaan majapahit berhasil melerai. Maka utusan sunda kembali ke Bubat dengan menyampaikan bahwa keputusan akhir raja sunda akan disampaikan dua hari kemudian)

Ngadangu émbaran ieu, raja Sunda teu sudi lumaku salaku patalukan. Lajeng anjeunna sasanggeman mutuskeun yén leuwih hadé gugur salaku satria. Demi méla kahormatan, leuwih hadé gugur batan hirup bari dihina urang Majapahit. Sadaya pangagung katut rombongan Sunda tumut kana kaputusan ieu sarta milu béla ka rajana.

(mendegar berita ini, raja sunda tidak sudi menjadi taklukan majapahit. Selanjutnya dia bersabda bahwa dirinya memutuskan lebih baik gugur sebagai satria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup namun dihina oleh orang majapahit. Semua pejabat dan rombongan Sunda patuh dan sepakat dengan keputusan raja sunda serta ikut bela setia terhadap keputusan raja mereka.

Lajeng raja Sunda nepungan istri katut putrana, anjeunna nyaritakeun niatna lajeng miwarang kulawargana mulang, tapi aranjeunna nolak kalawan keukeuh rék ngabaturan rajana.

(Setelah itu, raja sunda menemui isteri dan anaknya. Beliau menceritakan niatnya dan memerintahkan keluarganya untuk pulang. namun keluarganya menolak dan bersikukuh untuk menemani sang raja)


Wishnuwarman
13-01-2009, 11:48 AM
Pupuh II (Durma)

Dua pihak geus sariaga. Utusan Majapahit dikirim ka pakémahan Sunda kalawan mawa surat nu eusina pasaratan ti Majapahit. Pihak Sunda nolak kalawan ambek sahingga perang moal bisa dicegah deui.

Dua pihak masing - masing telah bersiaga. Utusan Majapahit dikirim ke perkemahan rombongan sunda dengan membawa surat yang berisi persyaratan dari Majapahit. Pihak Sunda menolak dengan marah, sehingga perang tak mungkin dihindari.

Pasukan Majapahit disusun ku barisan prajurit biasa di hareup, terus tukangeunana para pangagung karaton, Gajah Mada, sarta Hayam Wuruk jeung dua pamanna pangtukangna.

Pasukan Majapahit disusun dengan pasukan bisa di paling depan, diikuti oleh pejabat keraton dibelakangnya, Gajah Mada, Hayam Wuruk dan para pamannya berada di paling belakang.

Perang campuh lumangsung, ngabalukarkeun loba pisan prajurit Majapahit nu tiwas, tapi tungtungna ampir sadaya pasukan Sunda tiwas digempur bébéakan ku pasukan Majapahit. Anepakén tiwas ku Gajah Mada, sedengkeun raja Sunda tiwas ditelasan ku bésanna sorangan, raja Kahuripan jeung Daha. Hiji-hijina nu salamet nyaéta Pitar, perwira Sunda nu pura-pura tiwas di antara pasoléngkrahna mayit prajurit Sunda. Lajeng anjeunna nepungan ratu jeung putri Sunda. Aranjeunna kalintang ngarasa sedih, lajeng nelasan manéh, sedengkeun para istri perwira Sunda arangkat ka médan perang lajeng narelasan manéh hareupeun mayit para salakina.

]Perang Dahsyat terjadi, mengakibatkan banyak sekali prajurit Majapahit yang tewas. namun pada akhirnya hampir seluruh pasukan Sunda tewas setelah digempur habis – habisan oleh pasukan majpahit. Patih Anepaken dibunuh oleh Gajah Mada, Raja sunda tewas di tangan calon besannya sendiri, Raja Kahuripan dan Daha. Satu – satunya yang selamat adalah Pitar, seorang perwira sunda yang berpura – pra mati diantara gelimpangan mayat prajurit sunda. Dia menyampaikan berita buruk ini kepada Ratu dan Puteri Sunda. Mereka bersedih, lalu bunuh diri. Sedangkan para isteri pejabat dan perwira sunda pergi ke medan perang dan bunuh diri didepan jenazah suami mereka masing – masing.

[/I]


Wishnuwarman
13-01-2009, 11:56 AM
Pupuh III (Sinom)

Prabu Hayam Wuruk ngarasa hariwang nempo perang ieu. Anjeunna lajeng angkat ka pakémahan putri Sunda, sarta mendakan putri Sunda geus tiwas. Prabu Hayam Wuruk kacida nalangsa ku hayangna ngahiji jeung putri Sunda ieu.

Prabu Hayam Wuruk merasa khawatir melihat perang ini. Beliau pergi ke perkemahan Puteri Sunda dan menemukan Sang Puteri sdh tewas. Prabu Hayam Wuruk sangat bersedih karena keinginanya untuk bersatu dengan puteri sunda itu.

Satutasna ti éta, dilaksanakeun upacara pikeun ngadungakeun para arwah. Teu lila ti kajadian ieu, Hayam Wuruk mangkat ku rasa nalangsa nu kacida.

Setelah semua itu berlalu, diadakanlah upacara untuk mendo’akan para arwah. Tak lama setelah kejadian ini, Hayam Wuruk Wafat karena sedih yang sangat.

Sanggeus anjeunna dilebukeun sarta sadaya upacara geus réngsé, paman-pamanna ngayakeun sawala. Aranjeunna nyalahkeun Gajah Mada kana kajadian ieu, sarta mutuskeun rék néwak sarta nelasan Gajah Mada. Nalika aranjeunna datang ka kapatihan, Gajah Mada geus sadar yén wancina geus datang. Gajah Mada maké sagala upakara (kalengkepan) upacara lajeng milampah yoga samadi, sahingga anjeunna ngaleungit (moksa) ka (niskala).

Setelah Hayam Wuruk diperabukan, serta seluruh upacara telah selesai, para paman Hayam Wuruk mengadakan permusyawaratan, dan mereka menyalahkan Gajah Mada atas peristiwa Bubat dan memutuskan untuk membunuh Gajah Mada. Pada saat mereka pergi ke Kepatihan, Gajah Mada telah sadar bahwa waktunya telah tiba. Dengan segala kelengkapan upacara dia melakukan Yoga Samadi, sehingga dia menghilang menyatu dengan semesta.

Raja Kahuripan jeung Daha, nu sarupa jeung “Siwa jeung Buda”, mulang ka nagarana séwang-séwangan, sabab mun cicing di Majapahit teu weléh kasuat-suat ku kajadian ieu.

Raja kahuripan dan Daha serupa Siwa dan Buda, pulang ke negaranya masing – masing, karena jika mereka tetap tinggal di Majpahait, mereka senantiasa teringat dengan kejadian pahit itu.


Wishnuwarman
13-01-2009, 12:09 PM
Gajah Mada dicarékan ku utusan Sunda (bait 1.66b – 1.68a.)

Gajah Mada disumpahserapahi oleh utusan Sunda

Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa karěpmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda.

Abasa lali po kita nguni duk kita aněkani jurit, amrang pradesa ring gunung, ěnti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.

Mantrimu kalih tinigas anama Lěs Beleteng angěmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burěngik, padâmalakw ing urip.

Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharěpta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu těmbe yen antu.

Alihbasa:

“Hé Gajah Mada, naon maksudna anjeun gedé bacot ka kami? Kami mah rék mawa Rajaputri, sedeng anjeun kalah miharep kami mawa upeti kawas ti Nusantara. Kami mah béda. Kami urang Sunda, can kungsi éléh perang.

Hei Gajah Mada, apa maksudnya kamu besar mulut kepada kami ? Kami hanya akan mengantar Rajaputeri, sedangkan kamu malah mengharap kami mengantarkan upeti seperti negara di nusantara yang lain. Kami sama sekali berbeda, kami orang sunda tidak pernah kalah berperang.

Kawas nu poho baé sia baheula, nalika anjeung keur perang di wewengkon pagunungan. Perang campuh diuudag urang Jipang. Terus patih Sunda datang deui sahingga pasukan dia mundur.

kamu seperti lupa, dahulu, ketika kamu sedang berperang di wilayah pegunungan, perang dahsyat dikejar orang Jipang, Lalu patih sunda kembali datang sehingga kamu mundur.

Mantri sia nu dua nu ngaranna Les jeung Beleteng dikadék nepi ka paéh. Pasukan sia bubar jeung kalabur. Aya nu labuh ka jurang sarta ti kakarait kana cucuk rungkang. Maranéhna paéh kawas lutung, owa, jeung setan, lalumengis ménta hirup.

Dua mantrimu yang bernama Les dan Beleteng ditebas sampai mati. pasukan anda bubar dan kabur. Ada yang jatuh ke jurang dan ada yang tersangkut dalam duri. Mereka mati seperti lutung, monyet dan setan, memohon untuk dibiarkan hidup.

Ayeuna sia gedé sungut. Bau sungut sia kawas kasir, kawas tai anjing. Ayeuna kahayang sia teu sopan sarta hianat. Nuturkeun ajaran naon salian ti hayang jadi guru nu ngabohong jeung milampah rucah. Nipu jalma budi hadé. Mun paéh, roh sia bakal asup naraka!”

Sekarang kamu besar mulut, bau mulutmu seperti kotoran. Sekarang keinginanmu sangat tidak sopan serta khianat. Berdasarkan ajaran apa selain ingin menjadi guru yang berbohong dan licik. Menimpu orang yang baik, Kalu kamu mati, arwahmu akan masuk neraka.


Iskra
13-01-2009, 02:17 PM
MANTAB JURAGAN

nanya bos, raja Sunda’na saha namina ? te’u aya………..


Wishnuwarman
13-01-2009, 03:12 PM
MANTAB JURAGAN

nanya bos, raja Sunda’na saha namina ? te’u aya………..

Dalam Kidung Sunda tidak disebutkan siapa nama raja sundanya atau juga puterinya. Tapi dalam kitab lain ada yang menyebutkan Prabu Linggabuana, ada juga kitab yang menyebutkan Prabu Maharaja.

Saya lebih condong sepakat dengan buku Sejarah Sunda Joseph Iskandar yang menyebutkan Linggabuana, karena nama Maharaja itu identik dengan Sri Baduga Maharaja, Raja Pajajaran yang menyatukan sunda dan Galuh menjadi satu kerajaan kembali dengan nama Pajajaran. Dia ini keturunan Prabu Wastukencana, anak dari Linggabuana atau adik Dyah Pitaloka, yang disebut sebagai Puteri Sunda yang bunuh diri pada peristiwa Bubat.


reysama
13-01-2009, 03:50 PM
apa yg terjadi setelah perang bubat? kerajaan sunda takluk ke majapahit?

Hiram
13-01-2009, 11:22 PM
Sanggeus anjeunna dilebukeun sarta sadaya upacara geus réngsé, paman-pamanna ngayakeun sawala. Aranjeunna nyalahkeun Gajah Mada kana kajadian ieu, sarta mutuskeun rék néwak sarta nelasan Gajah Mada. Nalika aranjeunna datang ka kapatihan, Gajah Mada geus sadar yén wancina geus datang. Gajah Mada maké sagala upakara (kalengkepan) upacara lajeng milampah yoga samadi, sahingga anjeunna ngaleungit (moksa) ka (niskala).

Setelah Hayam Wuruk diperabukan, serta seluruh upacara telah selesai, para paman Hayam Wuruk mengadakan permusyawaratan, dan mereka menyalahkan Gajah Mada atas peristiwa Bubat dan memutuskan untuk membunuh Gajah Mada. Pada saat mereka pergi ke Kepatihan, Gajah Mada telah sadar bahwa waktunya telah tiba. Dengan segala kelengkapan upacara dia melakukan Yoga Samadi, sehingga dia menghilang menyatu dengan semesta.

Moksa itu istilah halus dari sebuah keputusan politis mengasingkan Gajah Mada.
Gajah Mada kemungkinan besar tidak dibunuh, tapi diasingkan / diensiunkan dini dan dibuang jauh dari pusat kekuasaan.
Tindakan Gajah Mada di bubat justru amat populis bagi kalangan militer Majapahit karena Hayam Wuruk dianggap terlalu lemah dan tindakannya bisa menjatuhkan kewibawaan Majapahit.
Apabila Gajah Mada dibunuh, kemungkinan bisa menimbulkan pemberontakan dan perang saudara.

Gajah Mada sudah tua dan dia sadar bahwa era militerisme Majapahit sudah berlalu dan junjungannya punya cara pandang baru dalam hal diplomasi.
Oleh karena itu dia menurut saja selama kewibawaannya tetap dijaga oleh penguasa Majapahit.
Win-Win solution sekalipun pahit bagi Gajah Mada.

Kurang lebih mirip nasib Jenderal Muslim Khalid Bin Walid yg karena pengaruhnya terlalu besar bagi kalangan militer, dianggap berbahaya bagi Khalifah Umar.


ratu_desko
14-01-2009, 01:35 AM
@wishnu: ma kasih boss.. ::sembah::

di bait 1.66b – 1.68a , keliatan sekali kebencian orang2 sunda ke gajahmada.. :(


Wishnuwarman
14-01-2009, 10:33 AM
@wishnu: ma kasih boss.. ::sembah::

di bait 1.66b – 1.68a , keliatan sekali kebencian orang2 sunda ke gajahmada.. :(

ya, perlu diingat bahwa kidung sunda itu lebih sebagai karya sastra, rasanya unsur ekspresi rasa dan emosi lebih nampak daripada faktanya sendiri.

Dan gawatnya kebencian itu terus ditularkan melaui dongeng dari generasi ke genrasi, makanya orang sunda ngga pernah menyebut dirinya bagaian dari Jawa, meski tionggal di pulau jawa bagian barat. Kalo sy mo pergi ke Jogja, mereka bilang saya mo pergi ke Jawa, padahal saat ini kita juga tinggal di pulau yang sama. Satu lagi, di kota – kota di daerah jawa barat, tidak ditemui nama jalan Hayam Wuruk atau Gajah Mada. ini pengaruh dari ekspresi emosi sakit hati yang turun temurun.

Namun sejarah adalah sejarah, suatu catatan tentang peristiwa yang terjadi. Yang penting mengambil pembelajaran dari tiap peristiwa, bukan membanggakan kejayaan atau membenci suatu kelompok karena situasi masa lalu.


Wishnuwarman
14-01-2009, 11:18 AM
[QUOTE=Hiram;8288634]Moksa itu istilah halus dari sebuah keputusan politis mengasingkan Gajah Mada.
Gajah Mada kemungkinan besar tidak dibunuh, tapi diasingkan / diensiunkan dini dan dibuang jauh dari pusat kekuasaan.
Tindakan Gajah Mada di bubat justru amat populis bagi kalangan militer Majapahit karena Hayam Wuruk dianggap terlalu lemah dan tindakannya bisa menjatuhkan kewibawaan Majapahit.
Apabila Gajah Mada dibunuh, kemungkinan bisa menimbulkan pemberontakan dan perang saudara.

Gajah Mada sudah tua dan dia sadar bahwa era militerisme Majapahit sudah berlalu dan junjungannya punya cara pandang baru dalam hal diplomasi.
Oleh karena itu dia menurut saja selama kewibawaannya tetap dijaga oleh penguasa Majapahit.
Win-Win solution sekalipun pahit bagi Gajah Mada.[/QUOTE

Sorry boss, sy cuma mencoba mengartikan secara harfiyah. ‘ngaleungit” (sunda) berarti menghilang. Kidung sunda lebih sebagai karya sastra, jadi mungkin saja banyak kata kiasan, meskipun bahasa yang digunakan bukan bahasa sunda halus, tapi bahsa sunda loma. tingkat bhasa sunda sedang (bukan kasar) yang biasa digunakan untuk berkomunikasi dengan orang sebaya atau sederajat, Dalam penggunaan bahasa sunda loma biasanya jarang sekali ditemukan kata kiasan.

tapi kalo mengkaji sejarah, saya sepakat bahwa gajah mada tidak menghilang dalam arti sebenarnya. Kalo baca buku – buku sejarah laian, Gajah mada tidak menghilang, tapi dinonaktifkan dari jabatannya sebagai mahapatih, bisa saja berarti diasingkan. Menurut versi Negarakertagama, beberapa tahun setelah perang bubat, Hayam Wuruk memanggil Gajah Mada untuk kembali menjabat sebagai Mahapatih. Setelah itu Mpu Mada memerintah lagi sampai beliau meninggal dunia secara wajar (faktor usia).

Soal penerimaan Mpu Mada terhadap pengurangan pendekatan militeristik, sy kira mungkin saja, sebab setelah peristiwa bubat, tidak diemukan lagi kisah penaklukan lainnya (setahu saya).


Wishnuwarman
14-01-2009, 11:38 AM
apa yg terjadi setelah perang bubat? kerajaan sunda takluk ke majapahit?

Menurut buku “Sejarah Jawa Barat” karangan Joseph Iskandar, ketika perang bubat terjadi, kepemimpinan sunda berada di tangan Mahapatih Bunisora (Mahapatih Sunda, adik kandung Parbu Linggabuana), dan saat itu, putera mahkota yang masih berumur sembilan tahun, bernama Wastukencana tidak ikut serta dalam rombongan yang pergi ke majapahit. Jadi masih ada pemerintahan di Sunda.

Setelah peristiwa bubat, Hayam Wuruk bersama dewan kerabat kerajaan keraton Majapahit mengadakan musyawarah untuk mensikapii peristiwa itu. Diputuskan bahwa mereka mengutus kelompok utusan yang terdiri dari para pembesar agama Hindu dan Budha. Mereka diutus untuk menemui Bunisora, menyampaikan ungkapan dukacita dan permohonan maaf atas terjadinya peristiwa bubat yang disebut sebagai suatu kecelakaan dan keslahpahaman. Hayam Wuruk memberikan janji bahwa Jika Pihak Sunda sepakat dan bersedia memaafkan, mereka akan hidup saling berdampingan secara damai tanpa saling menyerang dan menaklukan.

Ki Bunisora, yang juga seorang pendeta, mengambil sikap untuk memaafkan. Selanjutanya dia mengabil posisi sebagai wali raja sunda sampai wastukencana dewasa. Bunisora mengajarkan wastukencana untuk memaafkan dan berbesar hati dengan peristiwa itu. Wastukencana tumbuh menjadi seorang pemimpin yang penuh kasih dan toleran. pada masa pemerintahan Wastukencana, agama budha berkembang pesat meski agama resmi negara adalah hindu. Bahkan pada periode dia pula, ada seorang bangsawan sunda yang pergi menunaikan ibadah haji (bangsawan itu kemudian diberi gelar Raden Purwahaji.). Konon dikisahkan bahwa Wsatukencana ini adalah Raja sunda pertama yang diberi gelar Parbu Siliwangi yang berarti “pengganti prabu wangi”, parbu wangi adalah gelar yang diberikan kepada Prabu Linggabuana (Ayah Wastukencana) yang harum namanya karena gugur membela kehormatan negara pada peristiwa bubat.

Sementara Nasib Gajah mada setelah peristiwa bubat, dinonaktifkan dari jabatannya dan diasingkan ke Madakaripura (tanah milik Gajah mada yang sebelumnya diberikan Hayam Wuruk sebagi hadiah). Namun beliau kembali menjabat beberapa tahun kemudian.

Sampai Majapahit runtuh, sunda tidak pernah ditaklukan. Sunda yang kemudian berubah menjadi Pajajaran, runtuh karena dominasi kesultanan Cirebon dan kesultanan Banten . Saat itu di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kerajaan yang sedang berjaya adalah Demak.


ratu_desko
15-01-2009, 01:02 AM
ya, perlu diingat bahwa kidung sunda itu lebih sebagai karya sastra, rasanya unsur ekspresi rasa dan emosi lebih nampak daripada faktanya sendiri.

Dan gawatnya kebencian itu terus ditularkan melaui dongeng dari generasi ke genrasi, makanya orang sunda ngga pernah menyebut dirinya bagaian dari Jawa, meski tionggal di pulau jawa bagian barat. Kalo sy mo pergi ke Jogja, mereka bilang saya mo pergi ke Jawa, padahal saat ini kita juga tinggal di pulau yang sama. Satu lagi, di kota – kota di daerah jawa barat, tidak ditemui nama jalan Hayam Wuruk atau Gajah Mada. ini pengaruh dari ekspresi emosi sakit hati yang turun temurun.

Namun sejarah adalah sejarah, suatu catatan tentang peristiwa yang terjadi. Yang penting mengambil pembelajaran dari tiap peristiwa, bukan membanggakan kejayaan atau membenci suatu kelompok karena situasi masa lalu.

yo’i. setubuh.. eh setuju banget…

….
Sementara Nasib Gajah mada setelah peristiwa bubat, dinonaktifkan dari jabatannya dan diasingkan ke Madakaripura (tanah milik Gajah mada yang sebelumnya diberikan Hayam Wuruk sebagi hadiah). Namun beliau kembali menjabat beberapa tahun kemudian….

dengan alasan apakah gajah mada diaktifkan kembali jabatannya stlh diasingkan? maksud saya, apakah hayam wuruk merasakan pengganti gajah mada tidak cukup mumpuni? atau ada alasan lain?


reysama
15-01-2009, 12:49 PM
apakah mirip dengan sejarah samkok? (sima yi yg diaktifkan kembali)..

Wishnuwarman
16-01-2009, 06:53 PM
yo’i. setubuh.. eh setuju banget…

dengan alasan apakah gajah mada diaktifkan kembali jabatannya stlh diasingkan? maksud saya, apakah hayam wuruk merasakan pengganti gajah mada tidak cukup mumpuni? atau ada alasan lain?

Sayang sekali bait – bait Negarakertagama tidak menceritakan alasan dipangil kembalinya Mpu Mada. Seingat saya Langit Kresna Hariadi menulis bahwa salah satu alasan utamanya adalah munculnya potensi sparatisme diantara negara – negara bawahan maajpahit.

Mungkin kepemimpinan Gajah Mada itu begitu kuat, sehingga ketika beliau tidak ada, Mjapahit kehilangan wibawa, dan negera – negara taklukan tidak merasa takut lagi kepada Majapahit.


Wishnuwarman
16-01-2009, 07:09 PM
Tambahan, setelah Gajah Mada dinonaktifkan, Hayam wuruk memimpin sendiri pemerintahan. Kepala Negara Merangkap Kepala Pemerintahan. namun ternyata hal itu tidak mudah. Dan akhirnya Hayamwuruk kembali memanggil Mpu Mada untuk menduduki kembali jabata kepala pemerintahan.

ratu_desko
17-01-2009, 02:20 AM
Tambahan, setelah Gajah Mada dinonaktifkan, Hayam wuruk memimpin sendiri pemerintahan. Kepala Negara Merangkap Kepala Pemerintahan. namun ternyata hal itu tidak mudah. Dan akhirnya Hayamwuruk kembali memanggil Mpu Mada untuk menduduki kembali jabata kepala pemerintahan.

tp bukannya pas gajah mada non aktif, hayam wuruk langsung menggelar rapat, membentuk tim khusus & mengangkat mentri2 gitu? aduh, saya lupa nama2nya… ::arg!::

coba nanti saya buka dulu buku2 lama saya… ::hihi::


tennou kanshin
17-01-2009, 12:07 PM
dulu di daerah mojosongo di solo ada juga pohon mojo… gw bandingin dengan yang di trowulan sama tuh… jadi bukan buah khas trowulan aja dong ya?

kalo bekas2 kerajaannya bukannya salah satu candi disana, kalo ga salah bajang ratu (???…. i’m not quite sure apa benar namanya) adalah pintu gerbang kerajaan majapahit. dan akhir2 ini makin banyak ditemukan situs disana. lmaayan gede juga sih kalo setiap situs itu kita petakan dan kita jadikan satu ‘bangunan kerajaan’ kira2 mencapai beberapa desa…

di daerah magelang juga banyak tu pohon maja yang rasanya pahit……….


dadang_asmana
18-01-2009, 06:02 AM
Berapa sih jumlah tentara jayakatwang sewaktu invansi mongol ?
seinget gw waktu nonton tutur tinular jumlahnya 100rb :D CMIIW

Wishnuwarman
18-01-2009, 11:37 AM
tp bukannya pas gajah mada non aktif, hayam wuruk langsung menggelar rapat, membentuk tim khusus & mengangkat mentri2 gitu? aduh, saya lupa nama2nya… ::arg!::

coba nanti saya buka dulu buku2 lama saya… ::hihi::

Betul bos, dibuat tim pemerintahan, tapi kayaknya beliau sendiri yang bertindak sebagai kepala pemerintahan.. seingat saya begitu… tapi ntar sy cek lagi di buku


ratu_desko
18-01-2009, 08:05 PM
Betul bos, dibuat tim pemerintahan, tapi kayaknya beliau sendiri yang bertindak sebagai kepala pemerintahan.. seingat saya begitu… tapi ntar sy cek lagi di buku

hmm.. bener juga, soalnya dibilang: “berdasarkan pertimbangan pahom narendra [dewan pertimbangan agung kerajaan], disimpulkan tidak ada seorang tokohpun yg bisa menggantikan kedudukan gajahmada”

tp kmd diangkat 3 orang:

1. aryyatmaja pu tanding sbg menteri urusan dalam negri
2. sang arya wira mandalika pu nala sbg menteri luar negri
3. patih dami sbg yuwamantri [?? menteri kesehatan kah?]

masa pemerintahan hayam wuruk tanpa patih amangkubhumi berlangsung hanya 3 th. gajah enggon kmd diangkat mjd patih amankubhumi majapahit [1371-1398 M].

siapakah gajah enggon ini? ::unggg::


Wishnuwarman
19-01-2009, 11:45 AM
hmm.. bener juga, soalnya dibilang: “berdasarkan pertimbangan pahom narendra [dewan pertimbangan agung kerajaan], disimpulkan tidak ada seorang tokohpun yg bisa menggantikan kedudukan gajahmada”

tp kmd diangkat 3 orang:

1. aryyatmaja pu tanding sbg menteri urusan dalam negri
2. sang arya wira mandalika pu nala sbg menteri luar negri
3. patih dami sbg yuwamantri [?? menteri kesehatan kah?]

masa pemerintahan hayam wuruk tanpa patih amangkubhumi berlangsung hanya 3 th. gajah enggon kmd diangkat mjd patih amankubhumi majapahit [1371-1398 M].

siapakah gajah enggon ini? ::unggg::

Kalo pu Nala, dia sebelumnya (pada era Kepatruhan Gajah Mada) bertindak selaku Laksamana or panglima angkatan laut (Admiral of the Navy) Majapahit, masuk akal juga jika diangkat menjadi Menteri Luar Negeri.

Kayaknya Istilah Yuwamantri lebih tepat diartikan sebagai menteri urusan kesejahteraan rakyat yang meliputi pertanian, pengairan, perdagangan, bantuan sosial untuk bencana alam dan kelaparan, mungkin juga termasuk kesehatan. Sedangkan dua menteri sebelumnya (Dalam dan luar negeri) lebih mengurusi politik dan hukum.

Gajah Enggon ? …. emm… tadinya sy kira tokoh ini hanya fiksi dalam novel Langit Kresna Hariadi, Dia anak buah Gajah Mada sejak masih di kesatuan Bayangkara. Ketika Mpu Mada menjadi patih, Gajah Enggonlah yang menjadi komandan kestuan khusus tersebut. Selama ini saya mengira penyebutan gajah enggon sebagai patih pengganti gajah mada hanya karena cara berpikir LKH yang sangat menonjolkan peran pihak militer, khususnya kesatuan bhayangkara dalam peta politik majapahit, sehingga setelah gajah mada non akatif, penggantinyapun harus dari Bhayangkara.

Tapi kalo ada sumber buku sejarah lain yang menceritakan Gajah Enggon, boleh dong bagi infonya ???


ratu_desko
19-01-2009, 10:00 PM
Gajah Enggon ? …. emm… tadinya sy kira tokoh ini hanya fiksi dalam novel Langit Kresna Hariadi, Dia anak buah Gajah Mada sejak masih di kesatuan Bayangkara. Ketika Mpu Mada menjadi patih, Gajah Enggonlah yang menjadi komandan kestuan khusus tersebut. Selama ini saya mengira penyebutan gajah enggon sebagai patih pengganti gajah mada hanya karena cara berpikir LKH yang sangat menonjolkan peran pihak militer, khususnya kesatuan bhayangkara dalam peta politik majapahit, sehingga setelah gajah mada non akatif, penggantinyapun harus dari Bhayangkara.

Tapi kalo ada sumber buku sejarah lain yang menceritakan Gajah Enggon, boleh dong bagi infonya ???

lha justru itu saya nanya.. malah ganti nanya.. :D
iya saya juga baca soal gajah enggon di novel LKH, disebut2 di bagian akhir buku tsb.

kayaknya sih.. bukan tokoh fiktif deh.. cuma di buku yg saya punya tokoh tsb gak di-explore terlalu banyak. makanya saya penasaran.

selain gajah enggon, saya jg penasaran ama tokoh darmo gandhul. siapakah dia? fiktif ato bukan? di buku yg saya punya soalnya tuh cerita nyampur ama mitos & cerita2 tahayul.. jadi males bacanya.. ::ngakak2::


celinekuhan
20-01-2009, 09:55 AM
demen banget dah gw maen kesini.. makasih atas infonya bro…

Wishnuwarman
20-01-2009, 11:55 AM
lha justru itu saya nanya.. malah ganti nanya.. :D

selain gajah enggon, saya jg penasaran ama tokoh darmo gandhul. siapakah dia? fiktif ato bukan? di buku yg saya punya soalnya tuh cerita nyampur ama mitos & cerita2 tahayul.. jadi males bacanya.. ::ngakak2::

he..he, sorry bos, sy kira nemu tulisan akurat yang nyinggung nama gajah enggon tapi cuma sekilas, kalo sumbernya sama2 dari LKH, harus dipisah lagi mana yang fiksi dan yang fakta.

dua hari lalu saya mampir di Togamas Jogja, nemu buku “Dari Gajah Mada Sampai Wali Sanga”. Awalnya saya tertarik, sempat baca beberapa halaman, gaya penulisannyanypun agak2 novel. Tapiiii…. begitu baca kata pengantar penulisnya, dia bilang bahwa buku ini ditulis karena dia pernah ditemui dua orang tokoh ghaib dalam mimpi yang bercerita tentang gajah mada. gara2 kata pengantar itu, sy ngga jadi beli nich buku… jadi rada2 ill fill kalo nyampur sama tahayul gitu…. he… he, sorry jadi curhat


Wishnuwarman
20-01-2009, 12:20 PM
lkayaknya sih.. bukan tokoh fiktif deh.. cuma di buku yg saya punya tokoh tsb gak di-explore terlalu banyak. makanya saya penasaran.

Akhirnya sy nemu juga… Ternyata Gajah Enggon bukan tokoh fiktif. sy baca petikan Pararaton bagian ke 7 :

“Sang Patih Gajah Mada wafat pada tahun saka: Langit Muka Mata Bulan, atau 1290, tiga tahun lamanya tak ada yang mengganti menjadi patih.
Gajah Enggon menjadi patih pada tahun saka: Sifat Sembilan Sayap Orang, atau: 1293.”

Tapi kayaknya pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih terjadi setelah Gajah Mada wafat. Jadi betul bahwa patih Majapahit berikutnya setelah Gajah Mada Adalah Gajah Enggon, namun pakah Gajah Enggon ini juga anggota Bhayangkara dseperti yang ditulis LKH, itu yang harus dikaji lagi.


ratu_desko
20-01-2009, 11:33 PM
he..he, sorry bos, sy kira nemu tulisan akurat yang nyinggung nama gajah enggon tapi cuma sekilas, kalo sumbernya sama2 dari LKH, harus dipisah lagi mana yang fiksi dan yang fakta.

lho, itu maksud saya soal gajah enggon ama darmo gandhul dr 2 buku yg berbeda kok.

gajah enggon ada di buku nagara kretagama karangan prof dr slamet muljana & ibukota majapahit nya agus aris munandar. klo di buku the history of java ama babad majapahit keknya malah gak disebut2 soal gajah enggon.

nah, klo darmo gandhul ini dr buku tulisan nur huda. ya itu, nyampur ama tahayul2 gitu lah.. :D

dua hari lalu saya mampir di Togamas Jogja, nemu buku “Dari Gajah Mada Sampai Wali Sanga”. Awalnya saya tertarik, sempat baca beberapa halaman, gaya penulisannyanypun agak2 novel. Tapiiii…. begitu baca kata pengantar penulisnya, dia bilang bahwa buku ini ditulis karena dia pernah ditemui dua orang tokoh ghaib dalam mimpi yang bercerita tentang gajah mada. gara2 kata pengantar itu, sy ngga jadi beli nich buku… jadi rada2 ill fill kalo nyampur sama tahayul gitu…. he… he, sorry jadi curhat

::ngakak2::::ngakak2::

Akhirnya sy nemu juga… Ternyata Gajah Enggon bukan tokoh fiktif. sy baca petikan Pararaton bagian ke 7 :

“Sang Patih Gajah Mada wafat pada tahun saka: Langit Muka Mata Bulan, atau 1290, tiga tahun lamanya tak ada yang mengganti menjadi patih.
Gajah Enggon menjadi patih pada tahun saka: Sifat Sembilan Sayap Orang, atau: 1293.”

ini yg di nagara kretagama bukan ya?

Tapi kayaknya pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih terjadi setelah Gajah Mada wafat. Jadi betul bahwa patih Majapahit berikutnya setelah Gajah Mada Adalah Gajah Enggon, namun pakah Gajah Enggon ini juga anggota Bhayangkara dseperti yang ditulis LKH, itu yang harus dikaji lagi.

wah mampet donk klo gitu… :D

sbenernya alasan saya penasaran, karena namanya kok sama2 pake: gajah. jangan2 ada hubungan darah mereka itu? gituw saya mikirnya… soalnya, kehidupan pribadi pu mada ini kok kayak kabut gitu.. geleup.. ::unggg::


Sima Yi
21-01-2009, 01:45 AM
Ternyata Jawa atau nusantara tidak pernah menjadi bagian dari sepertiga dunia yang ditaklukan Mongol. Karena setelah terusir dari Jawa, Mongol berkonsentrasi ke wilayah lain yang ditaklukan. Namun bayang – bayang akan terjadinya serangan Mongol, selalu menghantui para pembesar majpahit. Itulah yang melatarbelakangi ide penyatuan nusantara dari Gajah Mada. Dia mengaggap bahwa Serangan balasan Mongol hanya bisa dicegah jika kerajaan – kerjaan di nusantara bisa bersatu. Gajah Mada mencoba membuat benteng atau pagar bagi Majpahit untuk mencegah serangan Mongol. Benteng dan pagar tersebut terdiri dari negara – negara di Nusantara.

Mungkin Dewan perang Mongol salah perhitungan. Pasukan Mongol yang dikirim Kubilai Khan untuk menggempur Jawa tidak terlalu banyak, Mungkin karena kesalahan laporan intelejen Mongol yang mengabarkan bahwa jumlah pasukan, kemampuan tempur dan teknologi militer tentara jawa tidak sehebat Mongol. Mungkin informasi yang mereka kumpulan keliru dan menyesatkan, sehingga mereka dapat dikalahkan dan terusir (Menurut suatu versi, Kubulai Khan memberikan hukuman pancung kepada jenderal Mongol yang memimpin operasi Militer ke Pulau Jawa). Yang pasti, hasil evaluasi dewan perang Mongol setelah kekalahan itu adalah menunda penaklukan Jawa dan berkonsentrasi ke wilayah lain, sampai akhirnya Mongol memasuki masa kemundurannya (Perlu diingat, bahwa Kubilai Khan adalah pemimpin Mongol pasca masa keemasan Mongol yang dipimpin Jenghis Khan, jadi sebenarnya ketika penyerangan Mongol Ke Jawa, klimaks puncak kejayaan Mongol sdh lewat, meski belum mundur dan masih kuat).

Kira – kira begitu, perlu data nich untuk menguatkan

kayaknya kegagalan invasi mongol ke jawa bukannya karena salah perhitungan karena meremehkn. melainkan karena selama perjalanan dari markas mereka hingga sampai ke jawa, ekspedisi mongol sering mendapatkan halangan/nasib buruk. dari badai hingga kesulitan untuk mencari suplai. jumlah ekspedisi mongol ke jawa berkekuatan 20000. untuk ekspedisi melintas laut yang jauh, saya kira itu termsuk ekspedisi yang besar. belum lagi daya tampung kapal laut yang tidak seluas sekarang. kekuatan mongol tidak hanya pasukan yang dibawa dari tanah airnya, akan tetapi juga telah mendapat dukungan dari kerajaan2 lokal yang tidak suka kepada singosari. salah satunya madura (kl ga salah). dengan berpedoman pada inilah maka mereka meluncurkan ekspedisi berkekuatan 20rb , tanpa mengetahui bhw ternyata singosari telah runtuh.

dari segi persenjataan, mongol juga tetap serius dalam perhitungannya. dari yg gw baca2 (di thread2 lama jg ada) mereka (mongol) tetap membawa persenjataan canggihnya, seperti meriam dan roket. dari sinilah majapahit akhirnya memperoleh teknologi persenjataan tersebut. akibat kegagalan ekspedisi mongol ini. jawahrlal nehru juga pernah menuliskan hal tsb. tidak hanya persenjataan, maritim jg mendapat manfaatnya. belajar dari kapal2 mongol.

dan lagi jika melihat sejarah mongol, mongol tidak pernah main2 dengan negara yang berani menentang kekuasaan mongol. bahkan beijing pun dibumihanguskan agar bisa menjadi contoh bagi yg berani melawan mongol. dan ekspedisi mongol ke jawa saya rasa bukan hanya sekedar ekspedisi main2, tapi memang benar2 ekspedisi serius yg bertujuan membumihanguskan singosari. agar menjadi contoh bagi kerajaan2 nusantara lainnya.


Sima Yi
21-01-2009, 02:09 AM
Wah asik juga kalo diskusi sejarah, ditambah diskusi teknologi militer, sy sendiri belum punya data yang memadai soal detail. tapi analisa bos Iskra ok juga.

Tapi menurut saya, Meskipun Angkatan Perang Mongol adalah yang terbesar dan terkuat saat itu, mereka memiliki masalah serius dalam bidang intelejen. Mereka masih terlalau percaya diri dengan hanya mengandalkan kemampuan tempur parjurit dan tejnologi persenjataan, tanpa memperhitungkan aspek informasi tentang medan tempur, pengkondisian penduduk/rakyat di pulau Jawa, mencari sekutu yang bisa dipercaya, penguatan instalasi logistik (Bisa jadi yang menyebakan kekalahan Mongol, karena gudang logistik mereka dikuasai atau dibakar oleh pasukan raden Wijaya, seperti kekalahan Sultan Agung ketika menyerang Batavia) dan berbagai tetek bengek urusan Telik Sandi lainnya.

Meskipun bukan yang terpenting dalam pertempuran, Intelejen adalah komponen terpenting yang menentukan hasil akhir peperangan.

mongol pada masa majapahit, sudah tidak seperti mongol pada mulanya. mongol pada masa ini sudah lebih maju terdidik. karena berasimilasi dan beradaptasi dengan kebudayaan china. bahkan tanpa harus menjadi terdidik sekalipun, intel adalah sesuatu hal yang wajib dicari/dimiliki oleh setiap penguasa ato jendral. apakah mungkin mongol yang memiliki masalah serius dengan intelnya tapi bisa melampaui tembok besar dan menaklukan jin ? kayaknya ga mungkin deh.

mongol sebenernya punya sekutu di jawa. CMIIW, madura adalah salah satu sekutu mongol. madura pernah mengirim utusan kepada mongol. dan mungkin karena inilah maka ekspedisi mongol bisa dengan mudah percaya kepada raden wijaya, karena ada aria wiraraja diblakangnya. tapi akhirnya malah dikadalin ma raden wijaya. dan kemungkinan karena itu juga mereka parno ketika majapahit menyerang balik. ada kemungkinan sekutu2 yg lain juga pada berbalik. apalagi angin yang bertiup untuk pulang kampung sudah datang, dan menunggu angin berikutnya akan sangat memakan waktu. akhirnya, kocar kacir deh pasukan mongol pengen mudik. daripada lama2 didaerah musuh.


Sima Yi
21-01-2009, 02:49 AM
ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran gw.

APA IYA NENEK MOYANG KITA JAMAN DULU KAGAK KENAL APA YANG NAMANYA ARMOR ?

ga usah canggih2 kek segmenta lorica deh, masak leather armor aja ga kenal ? kayaknya ga mungkin banget. Nusantara yang telah memiliki sejarah panjang berhubungan diplomatik/dagang dengan negara asing, terutama china, yang pelancong, pedagang, cendikiawannya saling mondar mandir masak kagak kenal teknologi armor ? IMPOSSIBLE!!!! yah setidaknya IMO. ada yg ga setuju ? ::hihi::

masak iya sih, cuma bermodal telanjang dada sama selop bisa berkuasa sampe ke filipina,malaka,birma (kl ga salah), dll ?

IMO, bangsa kita kenal kok teknologi armor. tapi kenapa ga ada artifknya? mungkin karena penggunaan bahannya hanya sebatas kulit. sedangkan yg lebih kuat, seperti metal, jumlahnya sangat sedikit dan terbatas dikalangan tertentu saja. gw pernah baca di salah satu milis, bhw katanya di filipina ditemukan armor yang diperkirakan peninggalan sriwijaya ato majaphait.

tapi kenapa gambar dicandi2 pada telanjang dada ?

IMO, harus dibedakan perlengkapan digaris depan sama dikota. tentunya garison kota ga perlu berat seperti pasukan digaris depan. selain menghemat, juga karena tugasnya hanya menjaga ketertiban. Romawi saja yg merupakan kekasiran besar, garison kotanya ga akan menggunakan segmenta lorica seperti legiun2 digaris depan. jadi kemungkinan besar gambar2 dicandi itu bukan merupakan cerminan pasukan tempur nenek moyang kita dulu.

pernah kepikiran ga, bahwa cerita2 ilmu kebal senjata/golok (bukan pestol) itu cuma usaha melebih2kan cerita saja, yang sebenarnya menggambarkan penggunaan armor ? jadi ketika ditusuk tapi ga mempan bukan karena badannya kebal, tapi karena make armor. tapi karena berhub yang duel adalah adipati vs adipati, raja vs raja, makany ketika ada yg menang maka ceritannya dilebih-lebihkan. kan bukan sesuatu hal yang aneh dimasa lalu, memasukkan unsur2 mistis kedalam suatu peristiwa.apalagi jika berhub dengan raja ato pejabat2 tinggi masa itu.

tampaknya masih banyak yang harus dikritisi dari sejara bangsa kita ini. gw sangat yakin, kita ga sebarbar itu sampe2 baju aja kagak kenal. cuma telanjang dada dan berkasut jerami. en celana nanggung +sarung dililit kayak rok dipinggang.::ngakak2::


Iskra
21-01-2009, 11:23 AM
APA IYA NENEK MOYANG KITA JAMAN DULU KAGAK KENAL APA YANG NAMANYA ARMOR ?

nah itu dya bos …………….%hmm

masalahnya sampe sejauh ini gw belum pernah baca buku ato liat penggambaran prajurit garis depan jaman itu yang menggunakan semacam pakaian tempur.

besar kemungkinan sih memang semacam kulit mati yang dipakai

kalo gw liat film2 Thailand, yang notabene mirip2 dengan budaya kita jaman itu, prajuritnya juga pake armour yang ringan banget, bahkan cenderung telanjang dada.

masak iya sih, cuma bermodal telanjang dada sama selop bisa berkuasa sampe ke filipina,malaka,birma (kl ga salah), dll ?

IMO, bangsa kita kenal kok teknologi armor. tapi kenapa ga ada artifknya? mungkin karena penggunaan bahannya hanya sebatas kulit. sedangkan yg lebih kuat, seperti metal, jumlahnya sangat sedikit dan terbatas dikalangan tertentu saja. gw pernah baca di salah satu milis, bhw katanya di filipina ditemukan armor yang diperkirakan peninggalan sriwijaya ato majaphait.

kalo yang diatas, gw setuju ama pendapat

dari segi persenjataan, mongol juga tetap serius dalam perhitungannya. dari yg gw baca2 (di thread2 lama jg ada) mereka (mongol) tetap membawa persenjataan canggihnya, seperti meriam dan roket. dari sinilah majapahit akhirnya memperoleh teknologi persenjataan tersebut. akibat kegagalan ekspedisi mongol ini. jawahrlal nehru juga pernah menuliskan hal tsb. tidak hanya persenjataan, maritim jg mendapat manfaatnya. belajar dari kapal2 mongol.

begono bos………………….:D

singkatnya, setelah kedatangan mongol, bangsa kita menyerap banyak hal yang dikemudian hari digunakan sebagai pengetahuan dalam expedisi Nusantara yang sebelumnya kurang begitu sukses sewaktu dipimpin Mahisa Anabrang
IMO


Wishnuwarman
21-01-2009, 12:21 PM
Kayaknya teknologi militer Jawa, betul – betul berkembang pesat pada periode Majapahit, atau setelah penyerangan Mongol. Karena pada masa itulah Orang jawa bisa sampai piliphina, setelah majapahit berdiri, periode gajah mada, jadi beberpa gtahun setalah masa singosari dan kediri. Tidak hanya pakaian baja, tapi juga persenjataan seperti canon (meriam), bahkan pengembangan angkatan laut. Peristiwa invasi M0ongol ke Jawa, betul – betul menjadi inspirasi perkembangan teknik dan teknologi militer jawa.

Kalo Mongol tidak main2 dan tidak salah perhitungan dalam intelejen, mengapa cuma 20.000 porang tentara yang dikirim ?. Kemungkinan tentara Singosari lebih banyak dari itu. Logikanya, tentara penyerang harus lebih banyak dari tentara yang bertahan. Sampai dia bisa ditipu oleh raden wijaya atau aria wiraraja, berarti ada masalah serius dalam hal intelejen pada saat penyerangan mongol ke Jawa. Bukan berarti intelejen Mongol jelek, karena di saat lain, terbukti Mongol bisa memenangkan pertempuran dan menguasai lebih dari sepertiga dunia. Tapi pada penyerangan Jawa, hal itu tidak terjadi. sy tetap berpendapat, tim intelejen mongol telah gagal pada penyerangan Jawa, maka hukuman mati dijatuhkan Kubulai Khan kepada panglima penyerangan tersebut. Pasukan sehebat dan sekuat Mongol pun bisa melakukan kesalahan. Kesalahan bukan pada teknologi milioter atau sistem intelejen, tapi personal atau faktor human error.


tennou kanshin
21-01-2009, 03:28 PM
WAH…WAH…HEBAT YA………
aq jadi bangga ama leluhurku……….he he he he…..

parikesit99
21-01-2009, 05:47 PM
Kayaknya teknologi militer Jawa, betul – betul berkembang pesat pada periode Majapahit, atau setelah penyerangan Mongol. Karena pada masa itulah Orang jawa bisa sampai piliphina, setelah majapahit berdiri, periode gajah mada, jadi beberpa gtahun setalah masa singosari dan kediri. Tidak hanya pakaian baja, tapi juga persenjataan seperti canon (meriam), bahkan pengembangan angkatan laut. Peristiwa invasi M0ongol ke Jawa, betul – betul menjadi inspirasi perkembangan teknik dan teknologi militer jawa.

Kalo Mongol tidak main2 dan tidak salah perhitungan dalam intelejen, mengapa cuma 20.000 porang tentara yang dikirim ?. Kemungkinan tentara Singosari lebih banyak dari itu. Logikanya, tentara penyerang harus lebih banyak dari tentara yang bertahan. Sampai dia bisa ditipu oleh raden wijaya atau aria wiraraja, berarti ada masalah serius dalam hal intelejen pada saat penyerangan mongol ke Jawa. Bukan berarti intelejen Mongol jelek, karena di saat lain, terbukti Mongol bisa memenangkan pertempuran dan menguasai lebih dari sepertiga dunia. Tapi pada penyerangan Jawa, hal itu tidak terjadi. sy tetap berpendapat, tim intelejen mongol telah gagal pada penyerangan Jawa, maka hukuman mati dijatuhkan Kubulai Khan kepada panglima penyerangan tersebut. Pasukan sehebat dan sekuat Mongol pun bisa melakukan kesalahan. Kesalahan bukan pada teknologi milioter atau sistem intelejen, tapi personal atau faktor human error.

Bro Jangan Lupa kalau Dalam dunia jawa, mistik juga berperan aktif. yang pernah aq dapat referensinya kalau awalnya ajisoko membuka lahan di jawa ini harus mengalahkan para dedemit seluruh jawa. begitu juga dengan gajah mada dan prabu brawijaya. mereka juga punya bala tentara makhluk halus yang setia terhadap rajanya dan siap membantu terhadap apa yang diperintahkan, semacam sekutu dari cerita LORD OF THE RING.
percaya dan tidak itu tertulis dalam prasasti yang terdapat dalam kitab yang di tulis oleh mpu prapanca.
untuk model baju nya seperti pakaian wayang orang, sebelumnya memang bertelanjang dada, tapi emas dan perak pada jaman majapahit berlimpah ruah. itulah kenapa pakaian mereka sangat apik dan memesona.
bawah nya hanya berupa kain batik saja.
selain itu ilmu kekebalan dan kadigdayan lain juga berpengaruh pada masa itu.
satu lagi tentang gadjah mada.
menurut literatur yang aku baca, Gadjah mada itu ada di beberapa jaman, tentu saja bukan satu gajah mada, Gajah mada itu gelar patih pada masa majapahit. setau ku ada gadjah mada 1 dan 2.
oleh karena itu ada beberapa prasasti patung gajah mada yang ukiran wajah nya nampak berlainan. namun serupa. Gadjah mada 1 adalah Ayah dari gadjah mada 2.
Ini bukan menurut diri sendiri, tapi berdasar babad tanah jawa.
pasukan dari majapahit memang kebanyakan siluman, berbentuk manusia. tapi tujuan mereka satu ” memayu hayuning buwono, bhineka tunggal ika, tan hana darma mangrwa”

sekian berita dari trah majapahit.


Wishnuwarman
21-01-2009, 07:27 PM
.mongol sebenernya punya sekutu di jawa. CMIIW, madura adalah salah satu sekutu mongol. madura pernah mengirim utusan kepada mongol. dan mungkin karena inilah maka ekspedisi mongol bisa dengan mudah percaya kepada raden wijaya, karena ada aria wiraraja diblakangnya. tapi akhirnya malah dikadalin ma raden wijaya. dan kemungkinan karena itu juga mereka parno ketika majapahit menyerang balik. ada kemungkinan sekutu2 yg lain juga pada berbalik. apalagi angin yang bertiup untuk pulang kampung sudah datang, dan menunggu angin berikutnya akan sangat memakan waktu. akhirnya, kocar kacir deh pasukan mongol pengen mudik. daripada lama2 didaerah musuh.

Wow… nice info,

Sy jadi semakin yakin kalo Aria Wiraraja (Adipati Sumenep or Madura) itu punya peran penting dalam kehebohan ini. Pertama dia bersekutu dengan Mongol untuk menyerang jawa. Kemudian dia bersekutu dengan Jayakatwang untuk memberontak kepada Kertanegara. Terakhir, orang ini juga bersekutu dengan Raden Wijaya untuk menggulung pasukan Mongol. Hanya ada dua kemungkinan untuk Aria Wiraraja : Oportunis sejati atau dia yang merancang semua huru – hara ini.

Kalo oportunis sejati, dia mencoba melihat berbagai perkembangan situasi dan mempredikisi dengan tepat siapa yang bakal muncul sebagai pemenang, sehingga apapun yang terjadi, dia tetap selamat. Seandainya Jayakatwang menang, dia sdh pasti selamat, bahkan seandainya Mongol yang menang, dia bisa tampil sebagai orang nomor satu di Jawa, meski di bawah naungan Mongol

Tapi kalo dia yang berperan sebagai sutradara, kemungkinan kemenangan Mongol atau Raden Wijaya, sudah dia perhitungkan. Aria Wiraraja memang tokoh yang menarik.


Sima Yi
21-01-2009, 09:56 PM
nah itu dya bos …………….%hmm

masalahnya sampe sejauh ini gw belum pernah baca buku ato liat penggambaran prajurit garis depan jaman itu yang menggunakan semacam pakaian tempur.

besar kemungkinan sih memang semacam kulit mati yang dipakai

kalo gw liat film2 Thailand, yang notabene mirip2 dengan budaya kita jaman itu, prajuritnya juga pake armour yang ringan banget, bahkan cenderung telanjang dada.

tidak pernah liat atau baca ttg hal tersebut bukan berarti tidak ada kan ? apalagi dunia arkeologi kita sama seperti dunia perfileman kita, yaitu suram. baru belakangan dikembangkan kembali riset2 dan penggalian arkeologi yang berhubungan dengan majapahit. mudah2an kelanjutannya tidak seperti dunia perfileman kita, yg meski terlihat bangkit tapi sebenernya tetep suram. ga ada perkembangan.

singkatnya, setelah kedatangan mongol, bangsa kita menyerap banyak hal yang dikemudian hari digunakan sebagai pengetahuan dalam expedisi Nusantara yang sebelumnya kurang begitu sukses sewaktu dipimpin Mahisa Anabrang
IMO

yang harus diingat, hubungan cina dan nusantara tidak hanya ketika invasi mongol terjadi. tapi sudah berlangsung lama sebelumnya, melalui perdagangan. dan melalui perdagangan inilah segala sesuatu yang berbeda dari kedua bangsa saling bertemu, baik budaya maupun teknologi. itu terjadi diseluruh dunia. jadi masak iya, kita yang punya hubungan dengan negara maju seperti china tapi tetep aja barbaric ? gw rasa itu sangat2 susah untuk diterima akal.


Sima Yi
21-01-2009, 10:54 PM
Kayaknya teknologi militer Jawa, betul – betul berkembang pesat pada periode Majapahit, atau setelah penyerangan Mongol. Karena pada masa itulah Orang jawa bisa sampai piliphina, setelah majapahit berdiri, periode gajah mada, jadi beberpa gtahun setalah masa singosari dan kediri. Tidak hanya pakaian baja, tapi juga persenjataan seperti canon (meriam), bahkan pengembangan angkatan laut. Peristiwa invasi M0ongol ke Jawa, betul – betul menjadi inspirasi perkembangan teknik dan teknologi militer jawa.

kl menurut gw, jawa/nusantara berkembang tidak hanya setelah jaman mongol. tapi kemungkinan sudah jauh sebelumnya. karena hubungan dagang nusantara dengan negara2 luar sudah terjalin lama. apalagi terdapat bangsa2 maju diantara partner dagangnya, seperti china, arab, india, dll. apa iya, mongol bakal susah2 mengirim utusan ke nusantara agar tunduk kepada kekaisaran mongol apabila nusantara tidak memiliki potensi, baik dalam bentuk sumber daya ataupun dalam bentuk ancaman militer ? karena harus diingat, singosari sebelum runtuh sempat melaksanakan ekspedisi pamalayu ke sumatra dan berhasil.dan menurut pendapat para ahli, bertujuan untuk menghadang lajunya ekspansi mongol (atau mungkin untuk menggalang kekuatan untuk sautu saat ketika mongol datang).. dan semakin masuk akal kenapa mongol mau susah2 mengirim utusan, karena nusantara berpotensi sebagai ancaman. yang artinya pula, kita bukan sekedar bangsa barbaric yang hanya bertelanjang dada dan berkasut jerami serta menggunakan sarung sebagai rok.::ngakak2::

Kalo Mongol tidak main2 dan tidak salah perhitungan dalam intelejen, mengapa cuma 20.000 porang tentara yang dikirim ?. Kemungkinan tentara Singosari lebih banyak dari itu. Logikanya, tentara penyerang harus lebih banyak dari tentara yang bertahan. Sampai dia bisa ditipu oleh raden wijaya atau aria wiraraja, berarti ada masalah serius dalam hal intelejen pada saat penyerangan mongol ke Jawa. Bukan berarti intelejen Mongol jelek, karena di saat lain, terbukti Mongol bisa memenangkan pertempuran dan menguasai lebih dari sepertiga dunia. Tapi pada penyerangan Jawa, hal itu tidak terjadi. sy tetap berpendapat, tim intelejen mongol telah gagal pada penyerangan Jawa, maka hukuman mati dijatuhkan Kubulai Khan kepada panglima penyerangan tersebut. Pasukan sehebat dan sekuat Mongol pun bisa melakukan kesalahan. Kesalahan bukan pada teknologi milioter atau sistem intelejen, tapi personal atau faktor human error.

kita harus melihatnya dalam konteks masa itu. jangan dilihat dari konteks masa kini. 20 ribu untuk ukuran jawa mungkin sudah termasuk kota besar dimasa itu. apalagi mongol sudah punya sekutu di pulau jawa. dan yang harus diingat, ini adalah ekspedisi overseas. melintasi lautan yang jaraknya jauh sekali. silahkan anda bayangkan armada sebesar apa yg digunakan untuk mengangkut 20 ribu pasukan beserta perbekalan dan persenjataan. untuk perbandingan, armada chengho yang dikatakan armada terbesar pada masanya ternyata berkekuatan 27 ribu personil. hanya beda 7 ribu dari armada invasi mongol ke jawa. jadi, apa benar mogol hanya sekedar main2 invasi ke jawa ? think again ::oops::

kalau invasi mongol dan perjalanan cheng ho terjadi pada satu masa, mungkin armada mongol tersebut adalah armada terbesar kedua didunia.


Iskra
22-01-2009, 08:43 AM
yang harus diingat, hubungan cina dan nusantara tidak hanya ketika invasi mongol terjadi. tapi sudah berlangsung lama sebelumnya, melalui perdagangan. dan melalui perdagangan inilah segala sesuatu yang berbeda dari kedua bangsa saling bertemu, baik budaya maupun teknologi. itu terjadi diseluruh dunia. jadi masak iya, kita yang punya hubungan dengan negara maju seperti china tapi tetep aja barbaric ? gw rasa itu sangat2 susah untuk diterima akal.

gw gak bilang barbaric, kebudaya’an asia tenggara emang beda dengan kebudaya’an Cina yang empat musim

kalo asia tenggara, cenderung tropis dan puuaannaass ……….. gerah gitu …………………..%hmm
sedang kalo malam juga rasanya pengap. tidak aneh kalo pakaian orang asia tenggara cenderung “nyante”. Suku-suku di Indonesia atau pakaian adat orang asia tenggara juga mempunyai banyak buka’an

sementara pasukan mongol berasal dari wilayah sabana-sabana yang perbeda’an suhunya lebih extrem, maka dari itu pakaian mereka lebih tebel dan lebih rapet. tetapi justru karena itulah gw menduga pasukan mongol ini gak betah lama-lama di indo. Mereka merasa sangat2 tidak nyaman dalam berpakaian, sementara sekutu lokal mereka memusuhi, dan “angin pulang” udah datang

IMO


Sima Yi
22-01-2009, 01:13 PM
gw gak bilang barbaric, kebudaya’an asia tenggara emang beda dengan kebudaya’an Cina yang empat musim

kalo asia tenggara, cenderung tropis dan puuaannaass ……….. gerah gitu …………………..%hmm
sedang kalo malam juga rasanya pengap. tidak aneh kalo pakaian orang asia tenggara cenderung “nyante”. Suku-suku di Indonesia atau pakaian adat orang asia tenggara juga mempunyai banyak buka’an

sementara pasukan mongol berasal dari wilayah sabana-sabana yang perbeda’an suhunya lebih extrem, maka dari itu pakaian mereka lebih tebel dan lebih rapet. tetapi justru karena itulah gw menduga pasukan mongol ini gak betah lama-lama di indo. Mereka merasa sangat2 tidak nyaman dalam berpakaian, sementara sekutu lokal mereka memusuhi, dan “angin pulang” udah datang

IMO

mungkin yang patut diperhatikan adalah bahwa mereka mengalami 4 musim, sedangkan kita cuma 2. dan diantara 4 musim itu terdapat musim yang disebut summer/musim panas. gw rasa, ga ada masalha bagi mongol untuk beradaptasi dengan cuaca panas/dingin.

akan tetapi lain halnya jika berbicara ttg kondisi alam. kondisi asal mongol yg 4 musim dan kondisi tropis di nusantara memang jauh berbeda. kl menurut gw, apa yang dialami mongol di nusantara memiliki banyak kesamaan dengan apa yg dialami amerika di vietnam. mereka menghadapi hutan, hujan yang terus menerus serta nyamuk. terutama nyamuk, sumber penyakit malaria. belum lagi penduduk ditambah kenyataan bahwa penduduk lokal yang tadinya sekutu ternyata malah berbalik melawan mongol.


Iskra
22-01-2009, 01:17 PM
mungkin yang patut diperhatikan adalah bahwa mereka mengalami 4 musim, sedangkan kita cuma 2. dan diantara 4 musim itu terdapat musim yang disebut summer/musim panas. gw rasa, ga ada masalha bagi mongol untuk beradaptasi dengan cuaca panas/dingin.

akan tetapi lain halnya jika berbicara ttg kondisi alam. kondisi asal mongol yg 4 musim dan kondisi tropis di nusantara memang jauh berbeda. kl menurut gw, apa yang dialami mongol di nusantara memiliki banyak kesamaan dengan apa yg dialami amerika di vietnam. mereka menghadapi hutan, hujan yang terus menerus serta nyamuk. terutama nyamuk, sumber penyakit malaria. belum lagi penduduk ditambah kenyataan bahwa penduduk lokal yang tadinya sekutu ternyata malah berbalik melawan mongol.

oke deh…………………… mantab komandan. ::up::


Wishnuwarman
22-01-2009, 01:37 PM
Punya partner dagang yang maju bukan berarti bisa share teknologi militer. Seakarang juga kita bersahabat bahkan agak tergantung dengan amerika, bukan beaerti kita bisa menyamai teknologi militer amerika.

Tapi sy tetap yakin, persitiwa invasi Mongol memberikan dampak yang signifikan terhadap kemajuan teknologi militer Jawa, bukan beraerti sebelumnya kita tidak punya teknologi militer yang hebat.

Barbaric, telanjang dada, pake rok ? kayaknya isitlah ini menganggu sekali, saya ngga pernah ngebayangin seperti itu. Tapi kalo ada yang punya gambaran kayak gitu, sah2 saja, namanya juga penafsiran.

Perbedaan tingkat teknologi, bukan berarti yang bangsa yang teknologinya lebih rendah dianggap pfimitif atau barbar. Kerasa banget kalo kita maen Game “Rise of Nation” atau dulu ada Game “Age of Empire”. Banyak faktor yang harus dilihat untuk meningkatkan teknologi suatu negara.

Armada terbesar kedua ? Tapi kok kalah juga ya ?… its ok, lagian saya melihat kemenagan dan kekalahan pada invasi mongol tidak tergantung pada teknologi milioter dan besarnya kekuatan. Tapi pasti ada orang intelejen Mongol yang main2 dalam membuat perhitungan. Baik perghitunagn geografis, cuaca, iklim atau perhitungan situasi peta politik Jawa. Mata – mata mongol gagal membaca siasat Aria Wiraraja. Ini yang saya maksud kesalahan fatal dalam pepeperangan. Bukan berarti Armada Mongol tidak kuat dan hebat. pada masa itu, mungkin Mongol yang terkuat.


Sima Yi
22-01-2009, 02:40 PM
Punya partner dagang yang maju bukan berarti bisa share teknologi militer. Seakarang juga kita bersahabat bahkan agak tergantung dengan amerika, bukan beaerti kita bisa menyamai teknologi militer amerika.

itu sudah pasti. untuk teknologi2 kemiliteran yang rumit. tapi penggunaan armor sebagai perlindungan adalah sesuatu yang bisa dilihat dan ditiru penggunaannya hanya melalui penglihatan mata.tidak butuh kecerdasan tingkat tinggi untuk mengadopsi ide penggunaan armor kan? tidak seperti saat ini, yg segala sesuatunya adalah teknologi tingkat tinggi. yang tidak bisa ditiru hanya bermodalkan pandangan mata.

ataupun jika masyarakat nusantara masa itu tidak bisa meniru secara detil pembuatan armor, apakah ide penggunaan armor tidak terlintas di benak mereka ?

Tapi sy tetap yakin, persitiwa invasi Mongol memberikan dampak yang signifikan terhadap kemajuan teknologi militer Jawa, bukan beraerti sebelumnya kita tidak punya teknologi militer yang hebat.

setuju

Barbaric, telanjang dada, pake rok ? kayaknya isitlah ini menganggu sekali, saya ngga pernah ngebayangin seperti itu. Tapi kalo ada yang punya gambaran kayak gitu, sah2 saja, namanya juga penafsiran.

gw sih hanya bersikap sedikit sarkastik. kita percaya bahwa nusantara pernah mencapai masa keemasannya yang kekuasaannya mencapai ke negara2 tetangga kita saat ini. tapi disisi lain, kita juga masih percaya bahwa semuanya itu dicapai dengan kemampuan pengetahuan dan teknologi yang rendah. dan lebih percaya bahwa semua itu bisa dicapai oleh karena kita menguasai ilmu kebal atau hal2 mistis lainnya.

dan kalaupun ilmu kebal itu ada, tentunya tidak mungkin seluruh angkatan perang nusantara menguasainya kan? karena kalau begitu, tentunya sriwijaya tidak akan kalah dari cola india atau majapahit kalah dari malaka.

Perbedaan tingkat teknologi, bukan berarti yang bangsa yang teknologinya lebih rendah dianggap pfimitif atau barbar. Kerasa banget kalo kita maen Game “Rise of Nation” atau dulu ada Game “Age of Empire”. Banyak faktor yang harus dilihat untuk meningkatkan teknologi suatu negara.

dan nusantara memiliki faktor2 penunjang untuk maju tersebut. terbukti seperti sriwijaya ato majapahit pernah menjadi pusat pembelajaran agama hindu/budha kan ? bahkan sarjana china datang untuk belajar ke nusantara.

Armada terbesar kedua ? Tapi kok kalah juga ya ?… its ok, lagian saya melihat kemenagan dan kekalahan pada invasi mongol tidak tergantung pada teknologi milioter dan besarnya kekuatan. Tapi pasti ada orang intelejen Mongol yang main2 dalam membuat perhitungan. Baik perghitunagn geografis, cuaca, iklim atau perhitungan situasi peta politik Jawa. Mata – mata mongol gagal membaca siasat Aria Wiraraja. Ini yang saya maksud kesalahan fatal dalam pepeperangan. Bukan berarti Armada Mongol tidak kuat dan hebat. pada masa itu, mungkin Mongol yang terkuat.

kemungkinan besar karena ini :

akan tetapi lain halnya jika berbicara ttg kondisi alam. kondisi asal mongol yg 4 musim dan kondisi tropis di nusantara memang jauh berbeda. kl menurut gw, apa yang dialami mongol di nusantara memiliki banyak kesamaan dengan apa yg dialami amerika di vietnam. mereka menghadapi hutan, hujan yang terus menerus serta nyamuk. terutama nyamuk, sumber penyakit malaria. belum lagi penduduk ditambah kenyataan bahwa penduduk lokal yang tadinya sekutu ternyata malah berbalik melawan mongol.

ditambah waktu datanganya angin yang dibutuhkan untuk pulang sudah sangat dekat. dan pada saat majapahit memukul mundur mongol, mereka (mongol) benar2 kecolongan. karena sebagian besar pasukannya sedang berada diatas kapal. dan hanya sebagian yang berada didarat. mereka benar2 tidak menyangka wijaya akan berbalik menyerang mereka.


Wishnuwarman
24-01-2009, 07:10 AM
kemungkinan besar karena ini :

ditambah waktu datanganya angin yang dibutuhkan untuk pulang sudah sangat dekat. dan pada saat majapahit memukul mundur mongol, mereka (mongol) benar2 kecolongan. karena sebagian besar pasukannya sedang berada diatas kapal. dan hanya sebagian yang berada didarat. mereka benar2 tidak menyangka wijaya akan berbalik menyerang mereka.

Well… ok, tentu masuk akal….

seandainya mata – mata Mongol bisa mempredikisi pengkhianatan sekutunya, dan punya negara sekutu untuk jadi base or pangkalan sehingga tidak perlu tergantung angin saat itu dan bisa menunda pulang tahun berikutnya….

Btw, mengapa invasi atau penaklukan Mongol secara militer seolah tidak direncanakan untuk suatu pendudukan yang agak permanen, setidaknya setahun, untuk membangun kondisi politik yang baik dalam menjamin kesetiaan jawa kepada Mongol. atau paling tidak mengeruk kekayaan. Hal ini dilakukan oleh Legiun Romawi ketika menguasai Mesir. Tidak hanya penaklukan secara militer, Merekapun menetap untuk beberpa waktu sampai kondisi politik mesir dipastikan tunduk kepada Roma.


Wishnuwarman
24-01-2009, 07:21 AM
bercerita tentang tentara mongol yang pengen buru – buru mudik karena angin, jadi ingat tentara arab yang dipimpin oleh Thariq Bin Ziyad ketika mencoba menaklukan eropa. Begitu sampai di tanah eropa, Thoriq memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal yang mereka gunakan. Hal itu dimaksudkan agar pasukannya tidak pernah berpikir untuk cdepat pulang atau mundur dalam pertempuran, memotivasi bahwa tidak ada jalan lain untuk hidup kecuali menang dalam pertempuran.

Wishnuwarman
24-01-2009, 07:44 AM
idan nusantara memiliki faktor2 penunjang untuk maju tersebut. terbukti seperti sriwijaya ato majapahit pernah menjadi pusat pembelajaran agama hindu/budha kan ? bahkan sarjana china datang untuk belajar ke nusantara.

Sudah pasti, tapi kapan eksplore itu dilakukan, atau kapan pengetahuan untuk mengesplore itu dimiliki, itu yang harus dikaji lagi,

Kayaknya perlu gambaran lebih jelas berdasarkan urutan waktu, bagaimana tahapan – tahapan update teknologi bangsa jawa. saya yakin waktu penemuan teknologi suatu bangsa akan berbeda dengan poerkembangan bangsa lain. Kemudian bisa kita petakan perkembangan tersebut pada setiap masa – masa penting. Kondisi ketika kejayaan Sriwijaya, Kemudian ketika penyerangan bangsa Mongol, lalu ketika Majapahit berjaya.

Termasuk juga perbedaan jenis teklnologi. Ada yang ditemukan Sriwijaya, tapi tidak ada di Mongol, demikian juga sebaliknya.

Sy tidak menagnggap bahwa bangsa kita terbelakang, Kita pernah berjaya, keemasan atau lebih maju dari bangsa laian, tapi itu tentu ada waktunya.pada saat yang laian, bangsa lain lebih maju dari bangsa kita. perlu gambaran tentang kapan penemuan – penemuan teknologi itu terjadi. Kali sudah jelas, lain kali kalo bikin film saya bisa menggambarkan properti yang tepat sesuai dengan teknologi bangsa kita saat itu… he….he.


Sima Yi
26-01-2009, 12:28 AM
Well… ok, tentu masuk akal….

seandainya mata – mata Mongol bisa mempredikisi pengkhianatan sekutunya, dan punya negara sekutu untuk jadi base or pangkalan sehingga tidak perlu tergantung angin saat itu dan bisa menunda pulang tahun berikutnya….

dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati sapa yang tahu….seekor singa sekalipun, tidak akan bisa mengalahkan kutu dibadannya sendiri. banyak kasus musuh dalam selimut, tidak hanya dalam kasus mongol-majapahit.hitler dengan stauffenbergnya, caesar dg brutusnya, dll. itu semua bisa terjadi karena ada satu faktor yang tidak akan pernah bisa ditebak bahkan oleh mata2 paling ahli sekalipun, yaitu manusia.

Btw, mengapa invasi atau penaklukan Mongol secara militer seolah tidak direncanakan untuk suatu pendudukan yang agak permanen, setidaknya setahun, untuk membangun kondisi politik yang baik dalam menjamin kesetiaan jawa kepada Mongol. atau paling tidak mengeruk kekayaan. Hal ini dilakukan oleh Legiun Romawi ketika menguasai Mesir. Tidak hanya penaklukan secara militer, Merekapun menetap untuk beberpa waktu sampai kondisi politik mesir dipastikan tunduk kepada Roma.

1.kemungkinan besar karena jauhnya rute laut yang harus ditempuh dari china ampe ke jawa dan akan memakan biaya,waktu, dan tenaga yg besar untuk menjaga komunikasi antara china-nusantara daripada wilayah2 lain yang masih 1 daratan.

2. mongol hanya menginginkan kerajaan jawa menjadi vasal, yang memenuhi kewajibannya kepada mongol.
seperti membayar upeti atau mengirimkan pasukan jika dibutuhkan. patut diingat, mongol sebenarnya adalah suatu bangsa kecil. jadi tidak mungkin dia memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk mengontrol seluruh wilayah kekuasaannya. bahkan untuk di china sendiri saja, mongol mempekerjakan orang2 dari suku bangsa yg berbeda (china,jesuit,arab,dll) untuk menjaga agar orang china tidak terlalu dominan dalam pemerintahan.

3. romawi dan mesir masih dapat dicapai melalui darat yang bahaya dalam perjalannannya lebih kecil daripada melintas laut dan jauh lebih murah. makanya kenapa romawi lebih mengekstensifkan jaringan jalan raya kerajaannya.


Sima Yi
26-01-2009, 12:43 AM
bercerita tentang tentara mongol yang pengen buru – buru mudik karena angin, jadi ingat tentara arab yang dipimpin oleh Thariq Bin Ziyad ketika mencoba menaklukan eropa. Begitu sampai di tanah eropa, Thoriq memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal yang mereka gunakan. Hal itu dimaksudkan agar pasukannya tidak pernah berpikir untuk cdepat pulang atau mundur dalam pertempuran, memotivasi bahwa tidak ada jalan lain untuk hidup kecuali menang dalam pertempuran.

kemungkinan besar, mongol tidak ada rencana untuk buru2 balik. karena IMO mereka masih harus menentukan dulu tentang nasib sisa2 wilayah dari kerajaan kediri (yg menjatuhkan dan merebut wilayah singosari) yang baru saja ditaklukan. dan tentunya mereka harus mengadakan rapat koordinasi dengan sekutu2nya, mungkin ttg bagi2 jarahan atau juga membicarakan besarnya kewajiban masing2 kerajaan yang menyatakan tunduk pada mongol (karena bagaimanapun tujuan mongol mengirim ekspedisi pembalasan adalah untuk menjadikan singosari menjadi contoh bagi kerajaan2 lain dijawa yang berani melawan mongol).

namun apalah daya, ternyata belum sempat dilaksanakan ternyata wijaya sudah nyerang duluan.


Sima Yi
26-01-2009, 01:08 AM
Sudah pasti, tapi kapan eksplore itu dilakukan, atau kapan pengetahuan untuk mengesplore itu dimiliki, itu yang harus dikaji lagi,

Kayaknya perlu gambaran lebih jelas berdasarkan urutan waktu, bagaimana tahapan – tahapan update teknologi bangsa jawa. saya yakin waktu penemuan teknologi suatu bangsa akan berbeda dengan poerkembangan bangsa lain. Kemudian bisa kita petakan perkembangan tersebut pada setiap masa – masa penting. Kondisi ketika kejayaan Sriwijaya, Kemudian ketika penyerangan bangsa Mongol, lalu ketika Majapahit berjaya.

Termasuk juga perbedaan jenis teklnologi. Ada yang ditemukan Sriwijaya, tapi tidak ada di Mongol, demikian juga sebaliknya.

Sy tidak menagnggap bahwa bangsa kita terbelakang, Kita pernah berjaya, keemasan atau lebih maju dari bangsa laian, tapi itu tentu ada waktunya.pada saat yang laian, bangsa lain lebih maju dari bangsa kita. perlu gambaran tentang kapan penemuan – penemuan teknologi itu terjadi. Kali sudah jelas, lain kali kalo bikin film saya bisa menggambarkan properti yang tepat sesuai dengan teknologi bangsa kita saat itu… he….he.

tentunya untuk mencapai itu kita butuh pendalaman yang lebih lagi daripada apa yang sudah dicapai melalui arkeologi kita. karena terus terang saja, arkeologi kita masih sangat tertinggal jauh.penghargaan akan barang arkeologi dan penemunya saja masih kurang.

mungkin bangsa kita dahulu bukanlah bangsa yang paling canggih, akan tetapi bukan juga yang terbelakang. yang harus diingat juga adalah bawha dimasa lalu, kekuatan militer berperan besar dalam menentukan kemakmuran dan kebesaran suatu bangsa. IMO tentuny majapahit atau sriwijaya yang dahulu pernah berjaya di asia tidak akan bermodalkan telanjang dada dan teknologi yg pas-pasan ke medan perang. apalagi menjaga wilayah yang mayoritas adalah lautan.


Wishnuwarman
26-01-2009, 10:46 AM
dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati sapa yang tahu….seekor singa sekalipun, tidak akan bisa mengalahkan kutu dibadannya sendiri. banyak kasus musuh dalam selimut, tidak hanya dalam kasus mongol-majapahit.hitler dengan stauffenbergnya, caesar dg brutusnya, dll. itu semua bisa terjadi karena ada satu faktor yang tidak akan pernah bisa ditebak bahkan oleh mata2 paling ahli sekalipun, yaitu manusia.

Saya kira penempatan suatau pasukan di sauatu posisi, serta pergerakannya bisa terbaca.


Hiram
26-01-2009, 12:56 PM
Kayaknya teknologi militer Jawa, betul – betul berkembang pesat pada periode Majapahit, atau setelah penyerangan Mongol. Karena pada masa itulah Orang jawa bisa sampai piliphina, setelah majapahit berdiri, periode gajah mada, jadi beberpa gtahun setalah masa singosari dan kediri. Tidak hanya pakaian baja, tapi juga persenjataan seperti canon (meriam), bahkan pengembangan angkatan laut. Peristiwa invasi M0ongol ke Jawa, betul – betul menjadi inspirasi perkembangan teknik dan teknologi militer jawa.
Menurut saya Majapahit kemungkinan kurang menggunakan gunpowder technology.
Era keemasan Majapahit di abad ke 14 sepertinya belum menggunakan meriam, justru Demak adalah kerajaan pertama yg bisa menggunakan meriam secara optimal.
Invasi ke Filipina juga lebih menunjukan ketangguhan Majapahit dlm navigasi dan bahari karena kerajaan di Filipina selatan hingga kedatangan Magellan masih belum mengenal mesiu dan bahkan masih berperang dgn gaya Tribal tanpa armor sama sekali.
Suku2 di Filipina masih mengandalkan tombak, parang dan sumpit beracun mirip suku2 Dayak.

Kalo Mongol tidak main2 dan tidak salah perhitungan dalam intelejen, mengapa cuma 20.000 porang tentara yang dikirim ?. Kemungkinan tentara Singosari lebih banyak dari itu. Logikanya, tentara penyerang harus lebih banyak dari tentara yang bertahan. Sampai dia bisa ditipu oleh raden wijaya atau aria wiraraja, berarti ada masalah serius dalam hal intelejen pada saat penyerangan mongol ke Jawa. Bukan berarti intelejen Mongol jelek, karena di saat lain, terbukti Mongol bisa memenangkan pertempuran dan menguasai lebih dari sepertiga dunia. Tapi pada penyerangan Jawa, hal itu tidak terjadi. sy tetap berpendapat, tim intelejen mongol telah gagal pada penyerangan Jawa, maka hukuman mati dijatuhkan Kubulai Khan kepada panglima penyerangan tersebut. Pasukan sehebat dan sekuat Mongol pun bisa melakukan kesalahan. Kesalahan bukan pada teknologi milioter atau sistem intelejen, tapi personal atau faktor human error.
Justru dalam hal ini terlihat bahwa di era tersebut di Jawa belum ada organized Army dengan persenjataan yg cukup dianggap sebagai ancaman serius bagi Mongol
Itu sebabnya mereka hanya mengirim pasukan dalam jumlah kecil.
Selain itu Mongol hebat dalam mobilitas pasukan berkudanya, mereka terbiasa berperang di medan terbuka yg kalau dalam istilah sepakbola ‘Pintar memanfaatkan lebar lapangan” :)
Di Jawa mereka sulit menemukan terrains yg mendukung pergerakan kavalerinya.
Memang tidak ada deskripsi jelas unit2 pasukan yg dikirimkan Mongol tapi most likely mereka mengandalkan pasukan berkuda karena jumlah 20.000 pasukan itu apabila terdapat 1000 pasukan berkuda saja dan apabila medan di Jawa mirip Asia tengah yg banyak ruang terbuka maka cukup utk menaklukan pasukan Singasari yg kurang terorganisir dengan light armor.
Apabila bisa diketahui jumlah kapal yg mengangkut pasukan mongol maka setidaknya bisa ditebak berapa unit kavaleri yg bisa mereka bawa.

Infantri Mongol memang bukan hal yg mereka andalkan dan kemungkinan pasukan Infantri yg mereka bawa adalah pasukan rekrutan dari Cina dan bukan Mongol.
Jadi perkiraan saya pribadi, Mongol datang berdasarkan laporan intelijen keadaan Singosari yg lemah secara politis dengan tentara yg tidak teroganisir dgn baik dan pemberontakan yg mulai muncul.
Mongol datang dengan harapan bisa merangkul faksi2 pemberontak utk menaklukan Singosari.
Tujuan obyektif Mongol kala itu bukanlah penaklukan total tapi lebih kepada menciptakan stagging point buat armadanya di laut cina dan Samudera Hindia.
Mongol datang utk menciptakan satu kerajaan lokal yg mereka jadikan vasal utk mendukung operasi mereka di Asia Tenggara – khususnya jalur perdagangan laut.
Hanya saja R.Wijaya punya rencana tersendiri yg tidak diantisipasi oleh Mongol.
Menurut perkiraan saya pasukan Mongol sebagian besar terdiri dari Auxilliary infantry yg berasal dari suku2 China lokal dan didukung oleh pasukan Kavaleri Mongol dalam jumlah kecil – mungkin hanya unit2 bodyguard / pengawal dari para jenderalnya saja.
Bila ada 3 jenderal Mongol ya masing2 mungkin membawa pengawal kavaleri sebanyak 100 – atau paling banyak 500 personil berkuda maka jumlah kavaleri Mongol yg dibawa ke Jawa berkisar antar 300 – 1500 palling banyak.
Menurut saya sih paling banyak mereka hanya membawa kavaleri dibawa 500-an.

Ketika mulai menyerang Singosari kapal2 Pasukan Mongol masuk jauh lewat sungai Brantas – strategi ini biasa dilakukan utk tetap menjaga pasokan logistik pasukan di darat.
Hal yg sama dilakukan Alexander ketika melakukan ekspedisi ke India dan juga dilakukan King Richard the Lionheart dalam perjalanannya mendekati Yerusalem dimana dia dan pasukan daratnya bergerak di pesisir pantai diikuti armadanya di laut utk menjaga pasokan logistik.
Jadi kemungkinan Mongol mendaratkan pasukan berkudanya sementara infantrinya tetap di kapal dan keduanya bergerak paralel hingga titik terdekat dgn Singosari lalu mendaratkan seluruh pasukannya ke sisi sungai utk melakukan serangan langsung di darat.
Strategi ini juga yg menyelamatkan pasukan Mongol ketika mereka akhirnya di ambush oleh pasukan R. Wijaya.
Mereka mundur ke kapal dan mulai mundur lewat sungai Brantas menuju laut lepas.
Bisa dibayangkan ketika mundur mereka mendapat serangan dari pasukan2 pemanah R. Wijaya hingga lolos ke laut lepas.

Selain element of surprise yg dimanfaatkan R. Wijaya, kekalahan pasukan Mongol di jawa mungkin karena mereka terpaksa bertempur dengan koordinasi taktik yg tidak lazim.
Biasanya Mongol bertempur dgn mayoritas pasukan berkuda dan mereka umumnya mengandalkan infantry hanya dalam siege war saat mengepung kota.
Di Jawa mereka membawa sedkit kavaleri dan pasukan infantri mereka – kemungkinan – adalah pasukan rekrutan dari Cina yg kurang terbiasa bertempur dibawah jenderal Mongol.
Pasukan Infantri Mongol umumnya skirmisher atau unit2 artileri.
Saat menyerang Singosari mereka tidak perlu membawa unit artileri krn tembok kota Singosari kemungkinan tidaklah seperti tembok2 kota di Cina atau di Eropa.
Lagipula raja2 di Jawa tidak biasa bertahan di balik tembok kota karena tembok kota2 di Jawa hanya utk batas wilayah dan menjaga dari ancaman bandit dan tidak dideasin utk menahan gempuran arileri berat.
Hal ini terbukti karena kerajaan2 di Jawa di era tsb tidak mengenal katapel, battering ram dsb.
Pasukan Singasari waktu itu menghadapi para penyerang diluar batas kota, kalah dan akhirnya mundur hingga ke areal istana sebelum akhirnya gugur disana.
Pasukan infantri mongol sebagai pasukan penyerang utama tentu mendapat korban yg lebih banyak dan R. Wijaya mengambil kesempatan menyerang mereka disaat mereka lelah dan masih disorganized sehabis merebut Singosari.
Kemungkinan besar laskar R. Wijaya justru dlm kondisi lebih fresh karena mereka hanya digunakan sebagai pasukan pendukung saat Mongol menggempur Singosari.
Disamping itu wabah penyakit dan kondisi tidak fit tentu dialami pasukan Mongol karena cuaca tropis yg tidak biasa mereka hadapi.
Perkiraan saya akan kondisi kesehatan pasukan Mongol berdasarkan kenyataan bahwa mereka membawa kapal2 mereka masuk ke Sungai Brantas.
Besar kemungkinan ekspedisi itu dilakukan di musim penghujan dimana air Sungai Brantas cukup dalam untuk dilewati kapal Mongol. Hal ini bisa mempengaruhi kesehatan pasukan pendatang tsb.


Wishnuwarman
27-01-2009, 12:07 PM
to Hiram :

Info keren boss trims, masuk akal banget::wave::::wave:: sepakat

seperti yang saya komentari dari Sima Yi, bukan berarti bangsa kita terbelakang, tapi perkembangan itu ada tahapan waktunya, dan bagi tiap bangsa mungkin berbeda.


red_pr!nce
27-01-2009, 01:59 PM
^ ada bangsa-bangsa yang cukup maju karena geografi memaksa mereka untuk kerja keras. :D
ada bangsa-bangsa yang “terbelakang” karena geografi udah mendukung mereka dalam hidup enak. :D

hajime saitoh
27-01-2009, 03:51 PM
^ ada bangsa-bangsa yang cukup maju karena geografi memaksa mereka untuk kerja keras.
ada bangsa-bangsa yang “terbelakang” karena geografi udah mendukung mereka dalam hidup enak.

dan kita adalah anak cucu bangsa itu………….hehehehe


red_pr!nce
27-01-2009, 04:37 PM
jadi kemajuan suatu bangsa bisa diliat dari geografinya aja. :D
kenapa bangsa eropa, arab, dan cina selalu selangkah lebih maju ?
kenapa bangsa meztizo, melayu, dan indian selangkah lebih primitif?

tennou kanshin
27-01-2009, 07:18 PM
jadi kemajuan suatu bangsa bisa diliat dari geografinya aja. :D
kenapa bangsa eropa, arab, dan cina selalu selangkah lebih maju ?
kenapa bangsa meztizo, melayu, dan indian selangkah lebih primitif?

setahu saya eropa, arab dan cina awal peradapan mereka lebih awal…..
sedangkan meztizo, astek, melayu dan indian lebih belakangan….seperti malayu baru mulai masuk zaman sejarah itu sekitar abad 4 setelah adanya kerajaan kutai di kalimanta……sedangkan indian, mestizo dan astek sebenarnya adalah imigran pra sejarah dari asia dan mereka baru mengenal peradapan juga lebih belakangan..makanya mereka lebih terbelakang……..karena pada masa puncak kejayaan peradaban mereka datang bangsa lain yang berharat menbguasai wilayah itu….


Hiram
27-01-2009, 08:09 PM
Intermezzo secara tidak sengaja saya menemukan posting ini dalam diskusi mengenai kegagalan Mongol di Singosari dari forum tetangga : http://www.indoforum.org/archive/index.php/t-62301.html

asoybanget
22-11-2008, 11:47 AM
bukan gak ngotot.karena waktu datang ke indonesia itu mongol tidak membawa senjata yg memadai.lalu dibantai oleh pasukan majapahit. jelas aja Raden Wijaya menang.karena Pasukan Mongol gak bisa ngapa-ngapain. Mongol itu beraninya sama yg gak bersenjata dan menyerang secara tiba-tiba..seperti hal nya mengahancurkan pusat Negara Islam di Baghdad Periode Abbasiyah..jadi dia berperang melawan dan membantai Rakyat di Baghdad. begitu ceritanya.. akhirnya pasukan berkuda yg kuat itupun yg tidak pernah dikalahkan sekalipun bisa kalah oleh tentara Islam pimpinanan Qutuz

balik lagi ke masalah penyerang Indonesia Apa kalian pikir pasukan Mongol datang ke Jawa cuma untuk bantuin Majapahit dan setelah itu plesiran?Mereka datang untuk menaklukan Jawa dan sengaja berpihak ke R. Wijaya sesuai dgn taktik mereka.Penakluk datang di satu wilayah yg dilanda perang tentu akan mendukung satu pihak dgn harapan setelah menang bisa ditekan untuk memberikan banyak konsesi.Dalam hal ini mungkin Mongol ingin menjadikan Majapahit sebagai vasal atau mungkin mereka meminta upeti berupa satu kota pelabuhan untuk dijadikan pangkalan logistik armada dagang Mongol dimana mereka bisa menempatkan pasukan dan kapal perang untuk mengamankan jalur perdagangan laut mereka.Dalam hal ini Raden Wijaya paham tujuan Mongol dan melakukukan inisiatif lebih dulu hingga menggagalkan rencana Mongol tersebut.Dan pasukan Mongol tsb bukannya tidak bersenjata – mereka bersenjata tapi terbagi dua karena sebagian tetap di kapal sementara kontingen lainnya ada di pedalaman bersama R. Wijaya.R. Wijaya melakukan serangan mendadak tapi tidak sampai terjadi pertempuran besar krn pasukan Mongol yg terkepung keburu menyerah dan (mungkin dibantai habis), sementara sisanya yg berjaga di kapal segera mundur.Majapahit cukup tangguh, terbukti mereka sukses menaklukan Bali dan menguasai jalur perdagangan di laut jawa hingga ke bagian Timur wilayah Indonesia.Dan jangan dilupakan bahwa pasukan Majapahit di era Raden Wijaya tidak punya pasukan berkuda / kavaleri. Cuma infantri saja. Jadi manuvernya amat berat dan untuk menciptakan element of surprise diperlukan sebuah manuver pasukan dalam jumlah besar tapi dengan tingkat ‘kesenyapan’ yang tinggi.Berbeda dgn tentara yg punya kavaleri yg bisa bergerak dgn mobilitas tinggi dan menciptakan serangan2 kejutan mengandalkan kecepatan.
Jadi kondisinya adalah Raden Wijaya harus secara rapi dan hati2 menemukan momentum yg tepat bagi pasukan Majapahit untuk menyerang sekaligus mengepung pasukan Mongol secara mendadak.Jangan lupa bahwa pasukan Mongol menggunakan light armor sedangkan infantri Majapahit tidak mengenal armor – jangankan armor, mereka bahkan tidak menggunakan baju atasan alias telanjang dada.Cara berperang di medan tropis membuat pasukan Majapahit bertempur dengan cara skirmish ketimbang melee fight. Jadi bukan hal yg mudah bagi Majapahit untuk menaklukan pasukan Mongol kala itu.Murni merupakan kegemilangan taktik R.Wijaya (atau mungkin lebih tepatnya Aria Wiraraja sang mastermind)
dan mengapa Mongol tidak balik lagi membalas serangan Ke jawa? sepengatuhuan gw sih
Kemungkinan karena faktor efisiensi.
Utk membalas dendam akan terlalu mahal harganya lagipula toh yg harus di secure adalah laut China Selatan jadi tidak perlu jauh2 ke Jawa.
Awalnya mungkin Mongol melihat kesempatan menguasai Jawa mengingat sentral kekuatan di Jawa kala itu adalah Singosari yg lemah dan keropos diambang kehancuran.
Mongol mengambil momen tersebut tapi rupanya R. Wijaya juga mengincar hal yg sama dan tentu memiliki advantage krn menguasai medan dan mengambil inisiatif lebih dulu.

Raden Wijaya sukses memanfaatkan situasi.seperti kesempatan dalam kesempitan dan hasilnya luar biasa.

koq sepertinya saya kenal ya tulisan seperti itu :)

http://forum.kafegaul.com/showpost.php?p=7810212&postcount=24

Terima kasih kalau ada yang menganggap tulisan saya berguna dan sepaham.


Hiram
27-01-2009, 09:09 PM
Di Laut kita (Pernah) Jaya :(

Late C4th – early C5th: Most east-west traffic started to go through the Straits of Malacca, instead of overland at the Isthmus of Kra, leading to the rise of Srivijaya in southeastern Sumatra. Srivijaya became a Chinese trade partner, controlled piracy, and dominated the Straits for over 500 years.

422 CE: The Indian prince and Buddhist monk Gunavarman arrived in Java; he stayed for several years before continuing to China, and missed an expected stop in Champa due to unfavourable winds.

430-452 CE: The ruler of Ho-lo-tan in NW Java sent seven missions to the Chinese court.

mid-late C5th: a Sanskrit inscription found near Jakarta Bay records that king Purnavarman of Tarumanagara (the Tarum river basin) diverted the river to improve drainage and make the port more accessible for trading vessels.

670s: Chinese traveller I Ching visited Srivijaya in Sumatra, and found Buddhism well established. In 692 he noted that Srivijaya had absorbed Malayu [Jambi, SE Sumatra].

by 674 CE: A colony of overseas Muslims existed on the west coast of Sumatra.

682 CE: The first known inscription of a king of Srivijaya was incised on a river boulder at Kedukan Buket, Palembang in Sumatra.

686 CE: The Kotakapur inscription found on Bangka island records preparation of a naval expedition by Srivijaya against rival ports in western Java.

774 CE: Javanese attacked Champa, destroying the Po Nagar temple at Nha Trang.

775 CE: The ‘Ligor inscription’ found in the region of Nakhon Si Thammarat to Chaiya [east coast of Thailand] records the dedication of three Buddhist stupas by the ruler of Srivijaya.

787 CE: Javanese attacked Champa for the second time, destroying a temple near the imperial capital at what is now Phan Rang.

c.790 CE: the kingdom of Sailendra (builders of Borobodur, in Java), defeated Chenla (in Cambodia), and ruled it for twelve years.

C8th: Chinese merchants had crossed oceans to trade in Japan, Champa, and Java.

2nd quarter of C9th: tentative date of the Arab, Persian or Indian ship sunk off Belitung island, between Sumatra and Kalimantan, carrying Changsha ceramics and other cargo probably loaded directly in China (rather than traded and reloaded). One bowl carries a date equivalent to 826 CE.

846 CE: Arab geographer Ibn Khurdadhbih wrote that the ruler of Srivijaya would throw a gold bar daily into the sea. On the ruler’s death, the gold bars were retrieved and distributed – first to the royal family, next to military commanders, and the remainder to the subjects. In 916, Abu Zaid recorded the same custom.

908-11 CE: A two-part Cham inscription records two official missions to Java by an envoy of the Cham king Jaya Simhavarman. A contemporary Javanese inscription refers to both Khmer and Cham merchants in Java.

932 CE: An inscription notes a ‘king of the Sunda Straits’, restored to royal status

early-mid C10th: tentative date of the wreck found near the Intan oil field in the Java Sea, thought to be an Indonesian lash-lugged craft bound from Palembang to central or eastern Java, with a diverse cargo of Chinese, Thai, Indonesian and Arab goods. A Chinese coin of 918 CE gives the earliest date.

907-960CE (Five Dynasties period): tentative date of a site variously reported as the Five Dynasties, Nan Han or North Cirebon wreck in Indonesia, of Malay or Arab construction, with ceramics from China, Thailand, Vietnam & Persia, Chinese bronze mirrors and Indonesian bronze statues, Middle Eastern glass vessels and swords, and artefacts of Egyptian origin. Finds include pearls, rubies, sapphires, garnets, jewellery, and 2 tons of lapis lazuli.

C10th: The geographer Ibn Rusta recorded an island in the Riau or Lingga archipelago, whose ruler headed the Srivijayan army, famous for camphor and its ability to protect or harass passing ships.

c.1000 CE: Srivijaya levied 20,000 dinars before allowing a Jewish merchant to continue his voyage to China.

1016 CE: The Javanese suffered a devastating raid from Srivijaya, which sent a mission to China the following year referring to their ruler as ‘king of the ocean lands’.

1025 CE: Rajendra Chola, the king of Coromandel in India, launched a massive raid on Srivijayan ports on both sides of the Straits of Malacca. The Tamil inscription suggests total conquest; however a new king of Srivijaya sent tribute to China in 1028.

1037 CE: The Brantas river in east Java was dammed by royal order to reduce flood dangers for port users, ‘including ships’ captains and merchants from other islands and countries’.

1068 CE: Vira Rajendra, the king of Coromandel, captured Kedah (northwest Malaysia) from Srivijaya.

1117: Regulations and navigation for sea-going ships were described by Zhu Yu, son of a former high port official and then governor of Guangzhou. It also describes the Srivijayan government’s monopoly over sandalwood exports, the Chinese Trade Office monopoly over frankincense imports, and the official fixing of commodity prices in the ports of Srivijaya.

1130: tentative date of the Jepara wreck in Indonesia, dated by coins & ceramics, with a 2.5m anchor stock of stone from Fujian in China.

1225: Quanzhou’s commissioner of foreign trade noted a Chinese court order banning trade with Java, as the import of pepper was causing excessive outflow of copper cash; Javanese traders avoided the ban by calling their country Sukadana (Su-ki-tan).

1286 : ten states in Malaya, Sumatra, India and Africa had sent envoys back.

1281: Muslims from Jambi (in Sumatra) sent an embassy to Kublai Khan.

1292-1293: Kublai Khan sent 1000 ships to attack Java. Hit by a typhoon, and refused permission to land in Champa, the fleet arrived enfeebled. Vijaya, the ruler of Majapahit, joined the Mongols to attack Kediri, and then launched a surprise attack on the Mongols, who withdrew.

1316-1330: Franciscan monk Odoric of Pordenone travelled from Venice via Persia and South India to China, and stayed for several years, keeping a diary. Yangzhou was still flourishing (it later silted up). He visited Java, Sumatra and Kalimantan in the 1320s.

1377: The kingdom of Majapahit, in Java, sent a navy against Palembang, in Sumatra, and conquered it. The ruler of Palembang had requested protection from China – which the emperor promised, but his officials arrived too late, and were executed.

1402: The city of Melaka, in peninsular Malaysia, was founded by Parameshwara, a rebel prince from Palembang in Sumatra.

1404: Parameshwara sent an embassy to Beijing, and was promised protection.

1405-1407: The first naval expedition under admiral Zheng He, on the orders of emperor Yongle, comprised 317 ships with 27,870 men. It sailed to Java, Semudera, Lambri (Aceh), Sri Lanka and Calicut, bearing gifts for local rulers. It routed the forces of pirate chief Chen Zuyi at Palembang.

1407-1409: The second Ming expedition, with 249 ships and commanded by Zheng He’s subordinates, visited Thailand, Java, Aru, Lambri, Coimbatore, Cochin and Calicut

1409-1411: The third Ming expedition involved 48 ships and 30,000 men, commanded by Zheng He. It visited Champa, Java, Melaka, Semudera, Sri Lanka, Quilon, Cochin and Calicut.

1411: The rulers of Calicut, Cochin, Java and Melaka visited the Ming court.

1413-1415: The fourth Ming expedition under Zheng He reached the Persian Gulf. With 63 ships and 28,560 men, it visited Champa, Kelantan, Pahang, Java, Palembang, Melaka, Aru, Semudera, Lambri, Sri Lanka, the Maldives, Cochin, Calicut and Hormuz. A splinter group under Yang Min went to Bengal, and returned to China with the new king of Bengal, who presented to the emperor a giraffe which he had received from the ruler of Malindi (in Kenya). The giraffe was thought to be a mythical qilin, and auspicious.

1417-1419: The fifth Ming expedition reached Africa. It carried envoys returning home from China, and visited Champa, Pahang, Java, Palembang, Melaka, Semudera, Lambri, Sri Lanka, the Maldives, Cochin, Calicut, Hormuz, Aden, Mogadishu (in Somalia), and Malindi.

1431-33: The seventh Zheng He expedition was despatched by emperor Xuande. With over 100 ships and 27,550 men, it went to Champa, Surabaya, Palembang, Melaka, Semudera, Sri Lanka, Calicut, Hormuz, Aden, and Jeddah; some participants visited Mecca. Zheng He died on the return voyage.

1539: A fleet of 160 vessels from Aceh invaded Aru, but was destroyed by Johor, with allies from Perak and Siak, at the battle of Sungei Paneh.

c.1540: tentative date of the ‘Xuande’ wreck, sunk off the east coast of the Malay peninsula with Chinese and Thai ceramics, and small bronze cannon.

1598: Five Dutch fleets sailed for the East Indies via the Cape of Good Hope (eastern route), and two via the Straits of Magellan (western route). Some ships of each fleet returned; collectively they visited Aceh, Banda, Bantam, Ambon, Ternate, Tidore & Manila.

1602: Five Dutch ships attacked a larger Portuguese fleet blockading Banten in Java, and won a week-long battle. They mapped Jakarta Bay, and went on to the Spice Islands.

1615: The VOC ships Banda and Geunieerde Provincien, returning from Batavia to the Netherlands with Ming porcelain and the retiring governor, sank off Mauritius.

1622: The English East Indiaman Trial was wrecked off Western Australia. Survivors reached Batavia.
The VOC yacht Den Haan sank near Batavia. A European wreck on the outskirts of Jakarta Bay, 32m long, with six visible iron cannon, Chinese porcelain, and silver bars, is thought to be the Den Haan.

1673: A fleet of 75 warboats from Jambi in Sumatra sacked the Johor capital of Batu Sawar.

1685: The first British outpost in the East Indies was established at Bencoolen in Sumatra.

Sumber : http://www.maritimeasia.ws/topic/chronology.html

Sepertinya zaman keemasan kerajaan Nusantara di laut didominasi oleh Sriwijaya.


Sima Yi
27-01-2009, 10:18 PM
Menurut saya Majapahit kemungkinan kurang menggunakan gunpowder technology.
Era keemasan Majapahit di abad ke 14 sepertinya belum menggunakan meriam, justru Demak adalah kerajaan pertama yg bisa menggunakan meriam secara optimal……..

jawaharlal nehru pernah menuliskan, satu2nya akibat dari invasi mongol ke jawa adalah mempercepat transfernya teknologi bahan peledak/kemiliteran kepada orang jawa. itu info gw juga dapat dari jalan2 ke berbagai situs. sedang sumber info persenjataan majapahit bisa dibaca dari A Glimpses of World History – Oxford University Press, New York (1964), atau Pramudya Toer (1998) : Hoakiau di Indonesia – Garba Budaya,Jakarta. gw sendiri belom baca tuh buku nya jawaharlal nehru. gw (ulu) nyari2 ampe ke palasari juga ga dapet2 hehehe..::hihi::

Justru dalam hal ini terlihat bahwa di era tersebut di Jawa belum ada organized Army dengan persenjataan yg cukup dianggap sebagai ancaman serius bagi Mongol
Itu sebabnya mereka hanya mengirim pasukan dalam jumlah kecil.

besar kecil itu relatif. jika dilihat dari keseluruhan angkatan perang yuan, mungkin memang kecil. tapi jika dilihat dari sudut pandang masayarakat jawa masa itu, 20 ribu mungkin sudah termasuk besar. Sriwijaya saja dalam salah satu catatan resminya mencatat bahwa seluruh angkatan perangnya (atau yang mampu dimobilisasi) hanya 20 ribu. jadi tidak bisa langsung menilai bahwa 20 ribu itu besar atau kecil karena kondisi jawa dan china jauh berbeda. tapi bisa dianggap cukup untuk menaklukan singosari (tentunya tidak sendirian, dg bantuan sekutunya di jawa).

apalagi ini invasi melalui laut. harus diperhatikan juga, kapal2 dahulu tidak seperti sekarang. untuk perbandingan, kita gunakan kapal induk cheng ho yang konon kapal terbesar dimasanya (jauh setelah mongol tentunya). kapal cheng ho tersebut berkapasitas 5 kali kapal kolombus yang berkapasitas 88 awak. berarti total yang mampu diangkat kapal cheng ho adalah kira2 440an awak. itu yang terbesarnya loh. jadi rata2 mungkin kapasitas kapal pengangkut masa mongol sekitar 200-300 pasukan per kapal. jadi kira2 aja sendiri, sebesar apa armada mongol tsb. untuk perbandingan lagi, armada unjuk gigi cheng ho yang berkekuatan 27-30 ribu personel menggunakan kurang lebih 200an kapal, 65an kapal besar, sisanya kapal2 menegah dan kecil berbagai ukuran. jadi kemungkinan armada mongol lebih besar lagi.

perbandingan lagi yang lebih menakjubkan, invasi mongol ke jepang 1274 berkekuatan 15ribu mongol dan 8 ribu korea membutuhkan 300an kapal besar dan sekitar 500an kapal kecil. hanya berbeda 3 ribu dari invasi jawa. http://en.wikipedia.org/wiki/Mongol_invasions_of_Japan

jadi kalau invasi mongol ke jawa yg berkekuatan 20ribu dianggap kecil, IMO kayaknya ga deh.

Selain itu Mongol hebat dalam mobilitas pasukan berkudanya, mereka terbiasa berperang di medan terbuka yg kalau dalam istilah sepakbola ‘Pintar memanfaatkan lebar lapangan” :)
Di Jawa mereka sulit menemukan terrains yg mendukung pergerakan kavalerinya………

mereka hebat dalam pertempuran berkuda, bukan berarti mereka tidak mengembangkan infantrinya. tentunya setelah berkelana dan mengalahkan berbagai bangsa mereka belajar bahwa kavaleri tidak selalu dapat digunakan. bagaimana mungkin mongol bisa menaklukan jin jika tidak memiliki tradisi infantry ? dan lagi tentunya mongol tidak bisa bertumpu pada sumber daya asli mongol sendiri kan, bagaimanapun mereka adalah bangsa yang kecil (dalam jumlah). mereka tetap menggunakan pasukan negara2 taklukannya untuk mengisi kekurangan dalam ketentaraannya, yg mana belum tentu mereka adalah bangsa berkuda sama seperti mongol.

jadi meskipun dalam bentuk infantri, kekuatan dinasti yuan tetap tidak bisa dianggap sebelah mata.

Jadi perkiraan saya pribadi, Mongol datang berdasarkan laporan intelijen keadaan Singosari yg lemah secara politis dengan tentara yg tidak teroganisir dgn baik dan pemberontakan yg mulai muncul.
Mongol datang dengan harapan bisa merangkul faksi2 pemberontak utk menaklukan Singosari.
Tujuan obyektif Mongol kala itu bukanlah penaklukan total tapi lebih kepada menciptakan stagging point buat armadanya di laut cina dan Samudera Hindia.
Mongol datang utk menciptakan satu kerajaan lokal yg mereka jadikan vasal utk mendukung operasi mereka di Asia Tenggara – khususnya jalur perdagangan laut.
Hanya saja R.Wijaya punya rencana tersendiri yg tidak diantisipasi oleh Mongol.

hmmm kedatangan mongol ke nusantara mungkin tepatnya bukan untuk merangkul, akan tetapi dirangkul. tersangkanya salah satunya adalah aria wiraraja. yang kemudian kita ketahui bersama bahwa ia dan jayakatong berontak melawan singhosari ketika sebagian besar armada singhasari sedang berkekspadisi keluar jawa (ekspedisi pamalayu).

kemungkinan besar, aria wiraraja menawarkan untuk tunduk kepada mongol.

Selain element of surprise yg dimanfaatkan R. Wijaya, kekalahan pasukan Mongol di jawa mungkin karena mereka terpaksa bertempur dengan koordinasi taktik yg tidak lazim.
Biasanya Mongol bertempur dgn mayoritas pasukan berkuda dan mereka umumnya mengandalkan infantry hanya dalam siege war saat mengepung kota.

mungkin ketika masa mongol baru bersatu, infantri masih kurang berperan. akan tetapi setelah mongol masuk china, infantry menjadi lebih berperan (meski masih kalah dari kavaleri). selain dalam pengepungan, infantry juga digunakan untuk berperang secara konvensional. berfungsi sebagai jangkar yg menahan lawan, yg kemudian akan di flanking oleh kavaleri.

http://www.coldsiberia.org/monmight.htm

Pasukan Infantri Mongol umumnya skirmisher atau unit2 artileri.

mongol tetap memiliki tradisi infantri, dan bukan hanya skirmisher dan artilery. terkadang jika dibutuhkan, kavaleri pun diturunkan dari kuda. atau para anggota kavaleri yang kehilangan kudanya (ketika sedang kampanye panjang). jika hanya bermodalkan skirmisher dan artilery tentunya tidak akan dapat merebut kota. kavalery tidak cocok untuk pertempuran kota.

Saat menyerang Singosari mereka tidak perlu membawa unit artileri krn tembok kota Singosari kemungkinan tidaklah seperti tembok2 kota di Cina atau di Eropa.
Lagipula raja2 di Jawa tidak biasa bertahan di balik tembok kota karena tembok kota2 di Jawa hanya utk batas wilayah dan menjaga dari ancaman bandit dan tidak dideasin utk menahan gempuran arileri berat.
Hal ini terbukti karena kerajaan2 di Jawa di era tsb tidak mengenal katapel, battering ram dsb.
Pasukan Singasari waktu itu menghadapi para penyerang diluar batas kota, kalah dan akhirnya mundur hingga ke areal istana sebelum akhirnya gugur disana.

mungkin memang tidak semasive tembok2 eropa ato china, tapi tembok tetaplah tembok. penghalang yang dapat menambah jumlah korban dari penyerang dan mengakibatkan kegagalan. penggunaan meriam mungki terlalu berlebihan (seperti yg anda bilang tidak dirancang untuk menahan meriam), akan tetapi tidak menggunakannya pun tetap beresiko. apalagi mereka jauh dari rumah, dan tidak bisa meminta pasukan tambahan. jadi besar kemungkinan, meskipun penggunaan meriam tampaknya terlalu berlebihan, namun faktor jarak dan kesulitan untuk mendapat bantuan, maka untuk menjamin keberhasilan ekspedisi teknologi bahan peledak tetap dibawa bersama mereka dari china. yah, setidaknya klo gw jd kublai bakal mengambil langkah tersebut.

Pasukan infantri mongol sebagai pasukan penyerang utama tentu mendapat korban yg lebih banyak dan R. Wijaya mengambil kesempatan menyerang mereka disaat mereka lelah dan masih disorganized sehabis merebut Singosari.
Kemungkinan besar laskar R. Wijaya justru dlm kondisi lebih fresh karena mereka hanya digunakan sebagai pasukan pendukung saat Mongol menggempur Singosari.

umumnya, pasukan penakluk (dalam hal ini mongol) tidak akan berdiri di garis depan. romawi dan bangsa2 besar lainnya juga berlaku demikian. selain karena takut dibokong (baik ketika pertempuran sedang berjalan maupun pada saat pertempuran berakhir), akan tetapi juga karena faktor gengsi/harga diri. apalagi, dalam hal ini kondisi posisi tawar mongol lebih kuat. aria wiraraja/wijaya lah yg datang kepada mongol, dan pasti mongol butuh pembuktian akan loyalitas mereka. jadi kurang pas rasanya jika mongol berada digaris depan menjadi jongos sedangkan sekutu2nya hanya mengekor dibelakang dan menderita lebih sedikit kerugian daripada mongol.

Disamping itu wabah penyakit dan kondisi tidak fit tentu dialami pasukan Mongol karena cuaca tropis yg tidak biasa mereka hadapi.
Perkiraan saya akan kondisi kesehatan pasukan Mongol berdasarkan kenyataan bahwa mereka membawa kapal2 mereka masuk ke Sungai Brantas.
Besar kemungkinan ekspedisi itu dilakukan di musim penghujan dimana air Sungai Brantas cukup dalam untuk dilewati kapal Mongol. Hal ini bisa mempengaruhi kesehatan pasukan pendatang tsb.

setuju. faktor alam dan “keganasannya” juga turut mempengaruhi kesuksesan ekspedisi mongol di jawa.


Sima Yi
27-01-2009, 10:25 PM
Saya kira penempatan suatau pasukan di sauatu posisi, serta pergerakannya bisa terbaca.

jika memiliki teknologi radar tentunya….dimana segala sesuatunya serba terlihat ::oops::


Iskra
28-01-2009, 09:27 AM
mereka hebat dalam pertempuran berkuda, bukan berarti mereka tidak mengembangkan infantrinya. tentunya setelah berkelana dan mengalahkan berbagai bangsa mereka belajar bahwa kavaleri tidak selalu dapat digunakan. bagaimana mungkin mongol bisa menaklukan jin jika tidak memiliki tradisi infantry ? dan lagi tentunya mongol tidak bisa bertumpu pada sumber daya asli mongol sendiri kan, bagaimanapun mereka adalah bangsa yang kecil (dalam jumlah). mereka tetap menggunakan pasukan negara2 taklukannya untuk mengisi kekurangan dalam ketentaraannya, yg mana belum tentu mereka adalah bangsa berkuda sama seperti mongol.

jadi meskipun dalam bentuk infantri, kekuatan dinasti yuan tetap tidak bisa dianggap sebelah mata.

sejauh ini gw memang belum bisa menemukan semacam pitch battle nya mongol bos……..%hmm. Rata2 pertempuran mobile dengan kavalery

infantry mongol memang hanya digunakan dalam siege war.

gak tau deh kalo gw yang katrok…..::managuetau::

kalo untuk rekrutan, disebutkan bahwa expedisi ke jawa ini juga merekrut orang non mongol

Disebutkan bahwa utusan yang dikirim ke Jawa terdiri dari tiga orang pejabat tinggi kerajaan, yaitu Shih Pi, Ike Mese, dan Kau Hsing. Hanya Kau Hsing yang berdarah Cina, sedangkan dua lainnya adalah orang Mongol. Mereka diberangkatkan dari Fukien membawa 20.000 pasukan dan seribu kapal.

Shih Pi dan Ike Mese mengumpulkan pasukan dari tiga provinsi: Fukien, Kiangsi, dan Hukuang. Sedangkan Kau Hsing bertanggung jawab untuk menyiapkan perbekalan dan kapal. Pasukan besar ini berangkat dari pelabuhan Chuan-chou dan tiba di Pulau Belitung sekitar bulan Januari tahun 1293. Di sini mereka mempersiapkan penyerangan ke Jawa selama lebih kurang satu bulan.

Perjalanan menuju Pulau Belitung yang memakan waktu beberapa minggu melemahkan bala tentara Mongol karena harus melewati laut dengan ombak yang cukup besar. Banyak prajurit yang sakit karena tidak terbiasa melakukan pelayaran. Di Belitung mereka menebang pohon dan membuat perahu (boats) berukuran lebih kecil untuk masuk ke sungai-sungai di Jawa yang sempit sambil memperbaiki kapal-kapal mereka yang telah berlayar mengarungi laut cukup jauh.

jika tulisan yang ditulis di situs resmi P.I.M itu akurat, maka ada point2 yang simpulkan bahwa :

1. Komandan pasukan mongol tidak sepenuhnya orang mongol, tetapi juga orang Uigur yang digunakan karena pengalaman navigasinya.
2. Pasukan mongol kebanyakan direkrut dari provinsi “cina” yang notabene juga membenci mongol, terbukti Dynasty Yuan kemudian diganti dengan Dynasty Ming.
3. Expedisi tidak banyak melibatkan “kuda” karena pasukan yang direkrut merupakan Infantry Cina.
4. Baik pasukan mongol dan pasukan cina tidak terbiasa dengan pelayaran sehingga semangat nya telah menurun sewaktu mendarat.


Wishnuwarman
30-01-2009, 09:55 AM
smaka ada point2 yang simpulkan bahwa :

1. Komandan pasukan mongol tidak sepenuhnya orang mongol, tetapi juga orang Uigur yang digunakan karena pengalaman navigasinya.
2. Pasukan mongol kebanyakan direkrut dari provinsi “cina” yang notabene juga membenci mongol, terbukti Dynasty Yuan kemudian diganti dengan Dynasty Ming.
3. Expedisi tidak banyak melibatkan “kuda” karena pasukan yang direkrut merupakan Infantry Cina.
4. Baik pasukan mongol dan pasukan cina tidak terbiasa dengan pelayaran sehingga semangat nya telah menurun sewaktu mendarat.

Info keren boss,

kalo dengan kondisi moril pasukan yang seperti itu, jimlah kekauatan dan teknologio miloter jadi kurang berarti… wajar kalo kalah.


yoshino
31-01-2009, 04:23 PM
Sayangnya bekas peninggalan Majapahit skrg cuma bisa ditemui sedikit sekali di daerah Trowulan :(

Hiram
01-02-2009, 02:38 AM
Sayangnya bekas peninggalan Majapahit skrg cuma bisa ditemui sedikit sekali di daerah Trowulan :(
Berhubung Majapahit terakhir diinvasi oleh kerajaan Islam Demak dibawah Raden Patah, bisa jadi Trowulan sengaja di ratakan dengan tanah utk menghilangkan kemungkinan bangkitnya Majapahit sekaligus menghapus kejayaannya.
Ada kemungkinan juga banyak simbol2 Hindu yg terdapat di struktur2 bangunan dan candi di Majapahit dihancurkan karena tidak bisa ditolerir penguasa baru yg Muslim.
Nasib sama mungkin juga dialami sisa2 peninggalan kerajaan Pajajaran.

Apa yg tersisa kemudian di abad ke 19 dijarah oleh para ‘Tomb Raider’ maupun arkeolog2 Barat khususnya Belanda.
Itu sebabnya banyak peninggalan kerajaan kuno Indonesia terdapat di museum di Belanda.


Iskra
03-02-2009, 03:01 PM
Lanjut …………………….

ada yang punya catatan lebih lanjut soal Raden Wijaya ?

sepertinya justru sosok ini lah yang kurang begitu menonjol, padahal doi adalah tokoh utama dalam lakon Majapahit.

Gimana perasa’an dya sewaktu sahabatnya saling bantai tidak di’kidung’ kan ………….%hmm

ato ada yang punya referensinya ?


Wishnuwarman
03-02-2009, 04:08 PM
Lanjut …………………….

ada yang punya catatan lebih lanjut soal Raden Wijaya ?

sepertinya justru sosok ini lah yang kurang begitu menonjol, padahal doi adalah tokoh utama dalam lakon Majapahit.

Gimana perasa’an dya sewaktu sahabatnya saling bantai tidak di’kidung’ kan ..

betul juga boss, kok kurang ceritanya… kalo ngga ada info soal perasaannya, paling tidak capaian – capaian selama masa pemerintahan Raden Wijaya.

Trus setelah Nambi, siapa patih yang berperan ? apakah langsung Arya Tadah ? bagaimana dengan nasib Aria Wiraraja sendiri


Iskra
04-02-2009, 01:22 PM
SEpertinya memang Arya Tadah memang menggantikan Nambi

Soal Arya Wiraraja sendiri, yang dalam Pararthon disebutkan bernama Banyak Wide, memang merupakan abdi setia dari Mahisa Campaka, ayah Raden Wijaya.

Sudah menjadi rahasia umum sa’at itu jika dua garis keturunan Singasari memang saling tidak menyukai

Dikarenakan Kertanegara merupakan keturunan Ranggawuni, mungkin sangat wajar jika Arya Wiraraja a.k.a Banyak Wide banyak menentang kebijakan Ranggawuni, dan oleh Ranggawuni Wiraraja kemudian di asingkan ke Madura. Selain dikarenakan cukup vokal, penyingkiran ini mungkin juga dimaksudkan untuk melemahkan klan Ken Arok ( Mahissa Campaka ).

Dalam Pararathon, Wiraraja bahkan diceritakan menulis surat “desakan” bagi Jayakatwang.

Wiraraja berkirim surat kepada raja Jaya Katong, bunyi surat: “Tuanku, patik baginda bersembah kepada paduka raja, jika paduka raja bermaksud akan berburu di tanah lapang lama, hendaknyalah paduka raja sekarang pergi berburu, ketepatan dan kesempatan adalah baik sekali, tak ada bahaya, tak ada harimau, tak ada banteng, dan ularnya, durinya, ada harimau, tetapi tak bergigi.”

Tetapi sepertinya Wiraraja kurang begitu memperhitungkan posisi Raden Wijaya sa’at itu. Terbukti Raden Wijaya mengalami kesulitan yang luar biasa untuk meloloskan diri dari kejaran prajurit Daha.

Sa’at Raden Wijaya menemuinya dalam keada’an yang mengenaskan, Arya Wiraraja kemudian menjadi simpaty, terlebih Raden Wijaya merupakan keturunan junjungannya.

Alasan terjadinya rivalitas dan saling bunuh antara dua klan dalam keraja’an Singasari pulalah, yang mungkin diangkat oleh Arya Wiraraja dalam memohonkan ampunan bagi Raden Wijaya ketika menghadap Jayakatwang. Sehingga cukup wajar bila Jayakatwang kemudian mengampuni raden Wijaya

Setelah Majapahit berdiri, nama Arya Wiraraja tidak begitu banyak disebut, meskipun secara implisit meng-indikasikan kalau Wiraraja meninggal karena usia tua di Lumajang.

Sepertinya, selain seorang yang Oportunis, Arya Wiraraja memang mempunyai berbagai alasan dan faktor yang membuatnya berubah haluan. Agak berbeda dari postingan gw kemaren-kemaren :D

Jayakatwang merupakan junjungannya sa’at ini, sedangkan Raden Wijaya bekas ( anak ) junjungannya. Perbeda’annya adalah Raden Wijaya menawarkan hal yang lebih menggoda, yaitu membagi keraja’an menjadi 2

Kalo pendapat bos Wishnu sendiri gimana ? juga perihal tokoh tukang hasut Mahapati …


Wishnuwarman
06-02-2009, 01:39 PM
Kalo pendapat bos Wishnu sendiri gimana ? juga perihal tokoh tukang hasut Mahapati …

Trims infonya…..soal meninggalnya Aria Wiraraja di Lumajang, menguatkan info bahwa memang Aria Wiraraja adalah ayah Nambi. tapi soal negara di bagi dua setelah Raden Wijaya menang, apa itu betul – betul diwujudkan ? apakah Lumajang menjadi ibukotanya ?

Soal mapatih, sy sendiri ragu apakah tokoh tukang hasut itu memang benar – benar ada atau tidak.
Kalo memang ada, apa posisinya setelah kematian Lembusora, ranggalawe dan nambi ? masak setelah menebar gosip dan berhasil mengacau balau, dia tidak mendapat posisi apa2, kalo begitu tujuannya apa ?

karena itulah saya sempat penasaran, siapa patih pengganti Nambi, apakah mungkin sebelum Arya Tadah menjadi patih, ada patih sebelumnya setelah Nambi ? atau…. jangan – jangan Arya tadahlah tokoh yang disebut mapatih itu ? he…he sorry kalo ngawur, ini asumsi, datanya belum jelas

gimana bos… ada yang bisa bantu ?


Iskra
06-02-2009, 04:10 PM
Trims infonya…..soal meninggalnya Aria Wiraraja di Lumajang, menguatkan info bahwa memang Aria Wiraraja adalah ayah Nambi. tapi soal negara di bagi dua setelah Raden Wijaya menang, apa itu betul – betul diwujudkan ? apakah Lumajang menjadi ibukotanya ?

Apakah Arya Wiraraja memang merupakan ayah dari Nambi atau bukan memang belum ada kepastian dikarenakan kitab-kitab satra yang menjadi acuan ( Pararathon, Kidung Harsa Wijaya, Kidung Wijaya Krama, Negarakertagama ) saling kontradiktif. Sementara prasasti yang tertinggal tidak begitu banyak merekam kejadian yang ada.

Hal lain yang patut di jadikan pertimbangan adalah bahwa sastra-sastra yang ada merupakan cerita oral turun-temurun yang kemudian di bukukan. Hal ini dibuktikan dengan banyak nya generasi yang diceritakan.

Arya Wiraraja merupakan ayah dari Nambi memang pendapat yang secara pribadi saya dukung dikarenakan beberapa point,

1.Arya Wiraraja pada usia senjanya mendapatkan “Wilayah Timur ( Lumajang ) ” ada versi yang menyebutkan ia mendapatkan hal itu karena janji Raden Wijaya, ada pula yang menyebutkan hal itu merupakan “kompensasi” atas tewasnya Ranggalawe.
2.Keberada’an Nambi di Lumajang sepertinya cukup berpengaruh. Terbukti pasukan timur berperang hingga seluruh keluarga Nambi gugur.

Seandainya Ranggalawe merupakan anak dari Arya Wiraraja, maka seharusnya Nambi dibantai sa’at berada di Lumajang, bukannya didukung ketika pasukan Barat menyerbu Timur.

Perihal bahwa Mpu Nambi baru dikenalkan oleh Arya Wiraraja sewaktu si Sumeneb ( kidung Harsa Wijaya ) juga sejalan dengan pemikiran saya. Karena jika Nambi sejak awal menyertai Raden Wijaya, maka itu ber-arti sang ayah mempertaruhkan hidup anak-nya dalam serangan Jayakatwang, padahal Arya Wiraraja sendirilah yang mendesak Jayakatwang untuk memberontak.

Situasi yang sama juga akan terjadi pada pendapat “Ranggalawe adalah anak Arya Wiraraja”.

Pasukan Daha yang melakukan pengejaran juga sangat brutal dan tidak ada pengecualian.

Soal mapatih, sy sendiri ragu apakah tokoh tukang hasut itu memang benar – benar ada atau tidak.
Kalo memang ada, apa posisinya setelah kematian Lembusora, ranggalawe dan nambi ? masak setelah menebar gosip dan berhasil mengacau balau, dia tidak mendapat posisi apa2, kalo begitu tujuannya apa ?

Mahapatih sepertinya merupakan “nick Name” dari pengarang Pararathon tentang kelakuan seseorang yang bertujuan untuk menyindir dari person tersebut. Seperti misalnya nick name“Keluarga Cendana” yang menjadi umum pada era Orde Baru, demikian pula nick name Mahapati yang mungkin “umum” pada sa’at itu.

Mengenai sosoknya yang tukang hasut, penulis Pararathon hanya mengisahkan cerita oral turun-temurun ( ada banyak person yang terlibat dan menceritakannya ) dan terlihat sangat menyayangkan konflik-konflik di sekeliling Raden Wijaya. Padahal dalam asumsi saya, tanpa hasutan pun tragedi-tragedi tersebut tetap akan terjadi

karena itulah saya sempat penasaran, siapa patih pengganti Nambi, apakah mungkin sebelum Arya Tadah menjadi patih, ada patih sebelumnya setelah Nambi ? atau…. jangan – jangan Arya tadahlah tokoh yang disebut mapatih itu ? he…he sorry kalo ngawur, ini asumsi, datanya belum jelas

Bisa jadi demikian bos …

Berita ini diperkuat oleh prasasti Sukamerta tahun 1296 yang memuat daftar nama para pejabat Majapahit, antara lain Rakryan Patih Mpu Tambi.

Dan nama Mahapati tidak tercatat dalam prasasti apapun.

tapi cuman IMO lho bos……………………::oops::

btw, kenal ama jakasutra (http://forum.kafegaul.com/member.php?u=90492) gak bos ? …::oops::::oops::::oops::


Wishnuwarman
09-02-2009, 02:23 PM
Mahapatih sepertinya merupakan “nick Name” dari pengarang Pararathon tentang kelakuan seseorang yang bertujuan untuk menyindir dari person tersebut. Seperti misalnya nick name“Keluarga Cendana” yang menjadi umum pada era Orde Baru, demikian pula nick name Mahapati yang mungkin “umum” pada sa’at itu.

Mengenai sosoknya yang tukang hasut, penulis Pararathon hanya mengisahkan cerita oral turun-temurun ( ada banyak person yang terlibat dan menceritakannya ) dan terlihat sangat menyayangkan konflik-konflik di sekeliling Raden Wijaya. Padahal dalam asumsi saya, tanpa hasutan pun tragedi-tragedi tersebut tetap akan terjadi

Betul juga….Bisa jadi cuma nama samaran, atau mungkin Mapati adalah sebutan untuk orang – orang yang biasa berada di sekitar Raden Wijaya, jadi mungkin saja tidak satu orang. Seperti pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, dikenal ada istilah “para pembisik Gus Dur”


Wishnuwarman
11-02-2009, 10:47 AM
Alasan terjadinya rivalitas dan saling bunuh antara dua klan dalam keraja’an Singasari pulalah, yang mungkin diangkat oleh Arya Wiraraja dalam memohonkan ampunan bagi Raden Wijaya ketika menghadap Jayakatwang. Sehingga cukup wajar bila Jayakatwang kemudian mengampuni raden Wijaya

Apa ada yang bisa memberikan gambaran yang lebih jelas dan runtut tentang dua klan yang menguasai Singosari.

Tadinya saya kira pemberontakan Kadiri (Jayakatwang) terhadap singosari lebih dipengaruhi oleh
dendam turunan orang – orang Kadiri, karena seblum Singosari berdiri, Kediri adalah pusat kerajaan di Jawa. Kemudian Ken Arok menguasai Tumapel (Negara bagian dari Kediri) lalu memberontak kepada Kediri dan mendirikan Singosari.

Mungkin klan singosari itu ada kaiatannya dengan keturunan ken Arok yang terbagi dua kelompok (Ken Dedes dan Ken Umang) ? atau bagaimana ???


Iskra
11-02-2009, 04:11 PM
anu bos……………………..%hmm

sekedar review yang aku ingat ……

sewaktu Tunggul Ametung modar di tangan ken Arok, jandanya yang cantik, semlohai, bahenol, ‘n semok ( Ken Dedes ), kemudian diper-istri Ken Arok. http://forum.kafegaul.com/picture.php?albumid=192&pictureid=1827

Waktu diper-istri, Ken Dedes udah bunting 3 bulan akibat di-surung Tunggul Ametung. Anaknya dinamai Anusapati.

dengan Ken Arok , Dedes juga punya beberapa anak, yang terkenal Panji Tohjaya.

Ken Arok mati dibunuh Anusapati
Anusapati mati dibunuh Panji Tohjaya
Panji Tohjaya tewas oleh Ranggawuni ( keturunan Anusapati ).

Ranggawuni tu bokap nya Kertanagara.
Mahissa Campaka cucu Ken Arok, juga bokap nya Raden Wijaya


Wishnuwarman
13-02-2009, 02:41 PM
dengan Ken Arok , Dedes juga punya beberapa anak, yang terkenal Panji Tohjaya.

Ken Arok mati dibunuh Anusapati
Anusapati mati dibunuh Panji Tohjaya
Panji Tohjaya tewas oleh Ranggawuni ( keturunan Anusapati ).

Ranggawuni tu bokap nya Kertanagara.
Mahissa Campaka cucu Ken Arok, juga bokap nya Raden Wijaya

Toh Jaya bukannya anak ken Airok dari Ken Umang (Isteri yang lain Ken Arok) ?

Jadi Mahisa Cempaka itu cucu Ken Arok dari garis keturunan Toh Jaya ? jika demikian, rivalitas dua trah singasari itu adalah trah Anusapati dan Trah Toh Jaya ?

Kalo dihitung, kronologis bunuh membunuh dengan keris mpu gandring itu, apa betul jumlahnya ada tujuh raja (Seperti yang disumpahkan Mpu Gandring) ?
Baru Ken Arok, Anusapati, Toh Jaya, trus siapa lagi ?


Wishnuwarman
13-02-2009, 02:50 PM
Bicara soal trah dan turunan, kayaknya Pusat – Pusat Kerajaan Jawa dari waktu ke waktu (sejak Singosari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram sampai Ngayogyakarta Hadiningrat) semua adalah keturunan satu orang yang sama. yaitu Ken Arok. Seorang rakyat jelata (ada versi yang mengatakan bahwa dia perampok) yang menjadi prajurit, kemudian menjadi raja.

Wajar kalo banyak orang yang berkiprah di bidang militer, bermimpi jadi pemeimpin bangsa… bahkan sudah ada contoh yang berhasil (kebetulan contoh yang berhasil itu semuanya orang Jawa)


Iskra
14-02-2009, 08:11 AM
Toh Jaya bukannya anak ken Airok dari Ken Umang (Isteri yang lain Ken Arok) ?

Betul sekali bos…………………::up::

memang gw yang salah, Apanji Toh Jaya memang putra Ken Umang

Jadi Mahisa Cempaka itu cucu Ken Arok dari garis keturunan Toh Jaya ? jika demikian, rivalitas dua trah singasari itu adalah trah Anusapati dan Trah Toh Jaya ?

bukan bos………………………… maksudnya cucu ialah

ayah Mahisa Campaka adalah Mahisa Wong Ateleng, anaknya Ken Dedes

Mahisa Wonga Teleng, saudara Apanji Tohjaya, sama ayah lain ibu, mempunyai anak laku laki, yalah: Mahisa Campaka

Kalo dihitung, kronologis bunuh membunuh dengan keris mpu gandring itu, apa betul jumlahnya ada tujuh raja (Seperti yang disumpahkan Mpu Gandring) ?
Baru Ken Arok, Anusapati, Toh Jaya, trus siapa lagi ?

kalo 7 raja sih, gak juga ya …………………….::takmungkin::
tapi kalo 7 orang emang betul,

yang pertama modar tentu saja Mpu Gandring,
– Tunggul Ametung
– Kebo Hijo
– Ken Arok
– Anusapati
– Apanji Tohjaya

……………………….Kurang satu dink…::hihi::


Sima Yi
15-02-2009, 11:04 AM
@ ISKRA

sekedar iseng aja, tapi sapa tau aja bener kekeke….

jangan2 kertanegara yg dibunuh tanca, matinya pake kris mpu gondrong juga kekeke…jadi deh 7 pas, ditambah singosari runtuh…tambah dramatis kisah Ken Arok kalo difilemin. Bangkit dan runtuh oleh keris yang sama kekekeke


warriorism
15-02-2009, 06:18 PM
kalo gw baca di novel gajahmada sih spesifikasi racun yg dipake tanca bwat ngebunuh kertanegara itu racun ular..

kalo di sejarah aslinya dispesifikasiin ga yg dipake tuh racun keris(warangan) ato racun ular?


Iskra
16-02-2009, 08:31 AM
@ ISKRA

sekedar iseng aja, tapi sapa tau aja bener kekeke….

jangan2 kertanegara yg dibunuh tanca, matinya pake kris mpu gondrong juga kekeke…jadi deh 7 pas, ditambah singosari runtuh…tambah dramatis kisah Ken Arok kalo difilemin. Bangkit dan runtuh oleh keris yang sama kekekeke

maksudnya Jayanagara bos ………………..%?

kalo Kertanagara setau aku matinya di istana pas lagi pesta miras ama patih-patihnya.%hmm

doi dikasi tau kalo ada tentara daha yang menyerang, pertama-tama gak percaya, tapi setelah percaya mengirimkan Raden Wijaya untuk meng-counter serangan dari utara.

Padahal justru yang dari selatan adalah pasukan inti untuk menyerang.

pasukan ini dipimpin oleh Kebo Mundarang


Wishnuwarman
16-02-2009, 10:14 AM
ayah Mahisa Campaka adalah Mahisa Wong Ateleng, anaknya Ken Dedes

o…. gitu, jadi Wong Ateleng dan Anusapati itu kakak beradik satu ibu beda ayah. sedangkan Wong Ateleng dengan Toh Jaya, itu kakak beradik satu ayah beda ibu. Trims bos

Kalo Toh Jaya dan Anusapati jelas beda ayah dan beda ibu.


Wishnuwarman
16-02-2009, 10:33 AM
kalo 7 raja sih, gak juga ya …………………….::takmungkin::
tapi kalo 7 orang emang betul,

yang pertama modar tentu saja Mpu Gandring,
– Tunggul Ametung
– Kebo Hijo
– Ken Arok
– Anusapati
– Apanji Tohjaya

Setelah Ranggawuni membunuh Toh Jaya, apakah kemudian dia menjadi Raja Singosari ?

Kemudian bagaimana selanjutnya nasib keris Mpu Gandring setelah berada di tangan Ranggawuni ? apakah keris itu diwariskan kepada Kertangera ?

Bagaimana dengan kematian Ranggawuni sendiri ? (Soalnya, pemegang keris Mpu Gandring sebelumnya selalu mati terbunuh dengan keris itu sendiri)

Jika Kertangera pernah diwarisi keris Mpu Gandring, kepada siapa keris itu berpindah setelah kematiannya ? apakah Kepada Jayakatwang, atau ada orang lain yang dititipi keris itu ?

Seandainya Kertangera menitipkannya kepada Raden Wijaya ketika diutus menghadang tentara Jayakatwang (Kediri) dari arah utara, mungkin keris itu terus berpindah turun temurun diantara garis trah majapahit.

Ada yang punya info ?


sakradeva
16-02-2009, 12:17 PM
hmmm ga jelas nasib keris Mpu Gandring setelah Ranggawuni dan Mahisa Campaka berkuasa…..
namun bila dirunut balik kutukan Mpu Gandring
keris itu akan kembali kepadanya bila telah mengambil 7 nyawa ” jadinya menghilang ke Alam Sana nyari empunya”

ini daftar korbannya :

1. Mpu Gandring
2. Tunggul Ametung
3. Kebo Ijo
4. Ken Arok
5. Ki Pengalasan ( perwira yang disuruh oleh Anusapati membunuh Ken Arok, dia dibunuh oleh Anusapati untuk hilangkan jejak )
6. Anusapati
7. Toh Jaya


Iskra
17-02-2009, 10:20 AM
Setelah Ranggawuni membunuh Toh Jaya, apakah kemudian dia menjadi Raja Singosari ?

Kemudian bagaimana selanjutnya nasib keris Mpu Gandring setelah berada di tangan Ranggawuni ? apakah keris itu diwariskan kepada Kertangera ?

Bagaimana dengan kematian Ranggawuni sendiri ? (Soalnya, pemegang keris Mpu Gandring sebelumnya selalu mati terbunuh dengan keris itu sendiri)

Jika Kertangera pernah diwarisi keris Mpu Gandring, kepada siapa keris itu berpindah setelah kematiannya ? apakah Kepada Jayakatwang, atau ada orang lain yang dititipi keris itu ?

Seandainya Kertangera menitipkannya kepada Raden Wijaya ketika diutus menghadang tentara Jayakatwang (Kediri) dari arah utara, mungkin keris itu terus berpindah turun temurun diantara garis trah majapahit.

Ada yang punya info ?

Dalam pemahaman saya, kisah mpu Gandring lebih sebagai legenda yang digunakan sebagai pelengkap dalam sastra Pararaton. Tetapi Legenda ini disusun berdasarkan kisah turun-temurun, dengan kronologis versi saya sebagai berikut, …

– Ken Angrok memesan sebilah keris yang cukup bagus kepada Mpu Gandring dalam waktu yang sangat terbatas, diceritakan hanya 5 bulan.

– Mpu Gandring gagal memenuhi tenggat waktu yang diberikan oleh Ken Arok. Hal ini membuat Ken Arok yang temperamen menjadi gelap mata dan membunuh Mpu Gandring.

– Sangatlah wajar jika kemudian Mpu Gandring jengkel, marah, dan kecewa sehingga memaki dan menyumpahi Ken Arok.

– Sumpah tersebut tidak ada yang tahu secara pasti karena sewaktu hal itu terjadi, penulis Pararaton tidak berada di tempat kejadian dan terpisah Generasi yang sangat jauh. ( pararaton ditulis pada 1522 Saka (atau 1600 Masehi) ).

– Cerita mengenai sumpah mpu Gandring yang akan membuat tujuh orang tewas karena keris buatannya merupakan cerita oral yang dilebih-lebihkan untuk mendramatisir suasana. Sehingga seolah-olah Mpu gandring merupakan seorang yang sakti dan mempunyai daya supranatural dalam melihat jauh ke masa depan.

– Hal ini juga bukan sesuatu yang aneh di jaman sekarang. Kisah dukun cilik ponari memberikan kita gambaran yang nyata bagaimana cerita oral yang didramatisir mampu mempengaruhi euforia massa.

Mengapa Pararaton ? Karena hanya Pararaton lah yang menyebut nama Mpu Gandring. Negara Kertagama tidak pernah menulis namannya

Mengenai keris itu sendiri, selepas dipakai oleh Apanji Tohjaya, sudah tidak diketahui keberada’annya. Besar kemungkinan tidak lagi dipakai dikarenakan ber-karat ( lapuk ) atau telah dianggap kuno buatan’nya.

Meskipun ada yang menyebutkan kalau Tohjaya dibunuh dengan keris mpu Gandring, tetapi ada literal yang menyebutkan Apanji Tohjaya mati karena terluka oleh tombak akibat Coup de etat .

Coup ini di pimpin oleh Ranggawuni dan Mahissa Campaka, setelah tindakan provokatif Tohjaya dalam usaha melenyapkan kemenakan-kemenakan’nya


ratu_desko
19-02-2009, 01:18 AM
dr buku yg gw baca, cerita soal tohjoyo yg menusuk keris ke anusapati, konon gak benar. karena tohjoyo tidak menggantikan raja anusapati di tumapel, melainkan menggantikan raja guning bhaya di panjalu/kediri.

dari tarikh prasasti maribong, disebutkan: pd 23 september 1248 yg memerintah tumapel: raja jaya wisnuwardhana.
sementara, anusapati meninggal th 1428/1429.


sakradeva
19-02-2009, 06:35 AM
bos
bukankah saat memerintah… Ranggawuni bergelar Wishnuwardhana sedangkan Mahesa Campaka bergelar Narasinghamurti ?

Sima Yi
19-02-2009, 01:21 PM
maksudnya Jayanagara bos ………………..%?

kalo Kertanagara setau aku matinya di istana pas lagi pesta miras ama patih-patihnya.%hmm

doi dikasi tau kalo ada tentara daha yang menyerang, pertama-tama gak percaya, tapi setelah percaya mengirimkan Raden Wijaya untuk meng-counter serangan dari utara.

Padahal justru yang dari selatan adalah pasukan inti untuk menyerang.

pasukan ini dipimpin oleh Kebo Mundarang

o iya, keleru sayah hauhauahuaha….salah inget ::ngakak2::


Sima Yi
19-02-2009, 01:27 PM
maksudnya Jayanagara bos ………………..%?

kalo Kertanagara setau aku matinya di istana pas lagi pesta miras ama patih-patihnya.%hmm

doi dikasi tau kalo ada tentara daha yang menyerang, pertama-tama gak percaya, tapi setelah percaya mengirimkan Raden Wijaya untuk meng-counter serangan dari utara.

Padahal justru yang dari selatan adalah pasukan inti untuk menyerang.

pasukan ini dipimpin oleh Kebo Mundarang

CMIIW bukannya kertanegara mati pada waktu lagi doa bukan ? ketika keluarga kerajaan sedang merayakan apa gitu, mungkin hari raya keagamaan…seinget gw gitu si dari pelajaran sejarah dulu, en pernah liat pelemnya juga… mereka semua mati menggunakan baju serba putih2…


sakradeva
19-02-2009, 02:05 PM
Kertanegara adalah penganut aliran Tantrayana, dimanana ritual yang dilakukan dengan memenuhi semua nafsu Indriya

aliran ini mempunyai prinsip nafsu indriya harus dilepas dengan jalan dipenuhi sampai saat titik jenuh kemudian dikendalikan dan dikurangi secara bertahap sampai nafsu bisa dibawah kendali kita….


ratu_desko
19-02-2009, 02:37 PM
bos
bukankah saat memerintah… Ranggawuni bergelar Wishnuwardhana sedangkan Mahesa Campaka bergelar Narasinghamurti ?

yoi.
ranggawuni tuh anaknya anusapati [ken dedes + tunggul ametung]
mahesa cempaka anaknya mahisa wunga teleng [ken dedes + ken arok]
sementara toh joyo anak ken arok + ken umang

agni baya yg posisinya digantikan [dibunuh?] oleh tohjoyo adalah adik kandung mahisa wunga teleng, dari perkawinan ken arok + ken dedes.

jadi, pd saat toh jaya naik tahta, dia tidak menggantikan posisi anusapati, tp menggantikan agni baya. [shg kemungkinan toh jaya membunuh anusapati krn ingin berkuasa sepertinya tidak tepat. klopun dia membunuh, pastinya yg dibunuh: agni baya]

anusapati berkuasa di jenggala – ibu kotanya: kutaraja – yg nantinya berganti nama singasari.
sedangkan,
mahisa wunga teleng & adiknya agni baya berkuasa di panjalu [kediri]

penyatuan jenggala & panjalu terjadi setelah pemerintahan wisnuwardhana.


Iskra
21-02-2009, 07:44 AM
Kertanegara adalah penganut aliran Tantrayana, dimanana ritual yang dilakukan dengan memenuhi semua nafsu Indriya

aliran ini mempunyai prinsip nafsu indriya harus dilepas dengan jalan dipenuhi sampai saat titik jenuh kemudian dikendalikan dan dikurangi secara bertahap sampai nafsu bisa dibawah kendali kita….

Buddha Bojana ya ?

ini masih jadi mistery sih ……………. Tibetan yang merupakan central Tantra gak begitu mengulas yang begitu’an….%hmm


sakradeva
21-02-2009, 09:48 AM
Iskra

Dalam Tantrayana dikenal dua aliran, yaitu aliran kiri (niwerti) dan kanan (prawerti).
Aliran kiri mempunyai anggapan bahwa untuk mencapai moksa setiap orang harus berusaha sebanyak mungkin melakukan 5 Ma (pancatattwa) yang terdiri dari (a) Matsya (makan ikan), (b) Mamsa (makan daging), (c) Mudra (makan padi-padian), (d) Maithuna (melakukan hubungan seks secara bebas). Dari sumber-sumber kesusasteraan maupun peninggalan arca yang terdapat di beberapa daerah di Indonesia, kemungkinan aliran inilah yang banyak dianut pada zaman dahulu. Sedangkan aliran kanan beranggapan bahwa untuk mencapai moksa seseorang harus melakukannya dengan Samadhi dan Yoga.


Iskra
21-02-2009, 01:44 PM
Iskra

Dalam Tantrayana dikenal dua aliran, yaitu aliran kiri (niwerti) dan kanan (prawerti).
Aliran kiri mempunyai anggapan bahwa untuk mencapai moksa setiap orang harus berusaha sebanyak mungkin melakukan 5 Ma (pancatattwa) yang terdiri dari (a) Matsya (makan ikan), (b) Mamsa (makan daging), (c) Mudra (makan padi-padian), (d) Maithuna (melakukan hubungan seks secara bebas). Dari sumber-sumber kesusasteraan maupun peninggalan arca yang terdapat di beberapa daerah di Indonesia, kemungkinan aliran inilah yang banyak dianut pada zaman dahulu. Sedangkan aliran kanan beranggapan bahwa untuk mencapai moksa seseorang harus melakukannya dengan Samadhi dan Yoga.

…………………………….::oops::

sip deh……………… sebenarnya pengen nanya soal 5 ma yang kurang satu, tapi laen kali aja, karena hal itu dapat memancing kerusuhan, selain O.T tentunya.

Mo nanya juga bos…………….

gw pernah baca kalo Ken Arok tu udah pacaran ama Ken Dedes sebelum diboyong Tunggul Ametung. Pernah dengar gak ?

Disebutkan bahwa hal itu lah yang membuat Ken Arok sangat-sangat marah hingga tergesa-gesa dalam memesan keris nya mbah gondrong.

Dan mbah Gondrong yang gagal memenuhi tenggat waktu ditusuk karena emosi Ken Arok sedang tidak stabil. Kepikiran Dedes yang dikeloni Tunggul Ametung terus ……..


ratu_desko
21-02-2009, 03:13 PM
iya, waktu kecil gw juga pernah tuh denger ceritanya, klo ken arok sbenernya udah pacararan duluan ama ken dedes. secara ken arok pan emang terkenal sbg penjahat kelamin jugak, macarin cewek sana-sini.. ::hihi::

tunggul ametung sndiri kan waktu nikahin ken dedes, dg cara paksa. dia datengin rumah ken dedes, tp bokapnya ken dedes – mpu purwa – ternyata lagi bertapa waktu itu. krn gak sabaran, diculiklah ken dedes. mpu purwa misuh2 & nyumpah2in tunggul ametung.

ken arok sndiri bergurunya ke mpu palot di turiyantapada, sampai akhirnya bertapa di gunung lejar.

apakah mpu palot ama mpu purwa adalah orang yg sama?


sakradeva
21-02-2009, 06:41 PM
…………………………….::oops::

sip deh……………… sebenarnya pengen nanya soal 5 ma yang kurang satu, tapi laen kali aja, karena hal itu dapat memancing kerusuhan, selain O.T tentunya.

Mo nanya juga bos…………….

gw pernah baca kalo Ken Arok tu udah pacaran ama Ken Dedes sebelum diboyong Tunggul Ametung. Pernah dengar gak ?

Disebutkan bahwa hal itu lah yang membuat Ken Arok sangat-sangat marah hingga tergesa-gesa dalam memesan keris nya mbah gondrong.

Dan mbah Gondrong yang gagal memenuhi tenggat waktu ditusuk karena emosi Ken Arok sedang tidak stabil. Kepikiran Dedes yang dikeloni Tunggul Ametung terus ……..

eh iya ge lupa lagi satu Ma yaitu Madya / Madaa… ( minum minuman keras )

keknya di film juga gitu deh
mungkin aja diceritakan demikian untuk memberikan nilai positif pada Ken Arok, bahwa dia membunuh Tunggul Ametung karena Ken Dedesnya direbut duluan.

maklum Ken Arok kan pemenang/ penguasa, jadi Sejarah milik pemenang ::hihi::


Wishnuwarman
25-02-2009, 11:43 AM
Sumpah tersebut tidak ada yang tahu secara pasti karena sewaktu hal itu terjadi, penulis Pararaton tidak berada di tempat kejadian dan terpisah Generasi yang sangat jauh. ( pararaton ditulis pada 1522 Saka (atau 1600 Masehi) ).

Cerita mengenai sumpah mpu Gandring yang akan membuat tujuh orang tewas karena keris buatannya merupakan cerita oral yang dilebih-lebihkan untuk mendramatisir suasana. Sehingga seolah-olah Mpu gandring merupakan seorang yang sakti dan mempunyai daya supranatural dalam melihat jauh ke masa depan.

Mengapa Pararaton ? Karena hanya Pararaton lah yang menyebut nama Mpu Gandring. Negara Kertagama tidak pernah menulis namannya

Kalo pararaton ditulis sekitar tahun 1600 masehi, berarti itu setelah zaman kesultanan demak atau setelah majapahit runtuh ?

Tadinya saya kira pararton itu kitab yang ditulis pada masa majapahit oleh mpu prapanca, rupanya tertukar dengan negarakertagama ya ? anehnya mpu gandring ini tidak diceritakan oleh negara kertagama.


Wishnuwarman
25-02-2009, 11:45 AM
Meskipun ada yang menyebutkan kalau Tohjaya dibunuh dengan keris mpu Gandring, tetapi ada literal yang menyebutkan Apanji Tohjaya mati karena terluka oleh tombak akibat Coup de etat .

Coup ini di pimpin oleh Ranggawuni dan Mahissa Campaka, setelah tindakan provokatif Tohjaya dalam usaha melenyapkan kemenakan-kemenakan’nya

Soal tindakan provokatif Toh Jaya, bisa diceritakan lebi jelas bos ??


Iskra
27-02-2009, 09:09 AM
Kalo pararaton ditulis sekitar tahun 1600 masehi, berarti itu setelah zaman kesultanan demak atau setelah majapahit runtuh ?

Tadinya saya kira pararton itu kitab yang ditulis pada masa majapahit oleh mpu prapanca, rupanya tertukar dengan negarakertagama ya ? anehnya mpu gandring ini tidak diceritakan oleh negara kertagama.

Mbah wiki bilang begitu …………..

Soal Mbah Gondrong …….%hmm ada yang menyebutkan bahwa itu tokoh fiktif semata. Pendapat itu dikemukakan karena Pararaton memang memuat banyak hal yang bersifat Gha’ib, sehingga agak meragukan.

Tetapi dari cara penulisan dan maksud sastra tersebut ( pararaton dalam pandangan saya adalah Dokumentasi dari cerita oral ), Penulis nya tidak bermaksud berbohong dan hanya menuliskan apa yang ia tahu dan dengar.

Soal tindakan provokatif Toh Jaya, bisa diceritakan lebi jelas bos ??

Ketika berkuasa, Tohjaya berusaha melenyapkan kemenakannya.

Versi Pararton, Tohjaya memerintahkan perwira istana ( Lembu Ampal ) dalam usaha melenyapkan Wisnuwarman …eh, … Wisnuwardhana ( Ranggawuni ) dan Narasingamurti ( Mahissa Campaka ) untuk mengamankan tahta

versi prasasti Mula Murung, Sepeninggal Ken Arok, keraja’an dibagi 2, yaitu Tumapel dan Kadiri.

Tohjaya menggantikan Adik Tiri nya, Guning Baya sebagai raja Kadiri, setelah Mahissa Wong Ateleng . Sementara keraja’an Tumapel diperintah oleh Wisnuwardhana menggantikan Anusapati

Tapi secara samar-samar gw menangkap adanya maksud dari si Tohjaya, yang setelah berhasil merebut tahta Kadiri dya juga mengincar Tumapel, untuk menyatukannya kembali.

Meskipun begitu, kedua versi mencapai titik temu bahwa sepeninggal Tohjaya, hanya ada satu keraja’an tunggal di Jawa, yaitu Singasari


utara19
27-02-2009, 09:04 PM
Pasti banyak yang tidak tahu ya, sisi licik Gajah Mada…..
met membaca…

Gajah Mada versus Kebo Iwa

Di desa Bedahulu wilayah kabupaten Tabanan, Bali pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri. Mereka kaya, hanya saja mereka belum mempunyai anak. Bagi penduduk Bali pada masa itu, manusia yang belum mempunyai keturunan adalah manusia yang siasia hidupnya.

Suatu hari mereka pergi ke Pura Desa. Mereka memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberi keturunan. Waktu pun berlalu. Sang istri mulai mengandung. Betapa bahagianya mereka. Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki. Bayi tersebut hendak disusui oleh ibunya, namun jarinya terus menunjuk ke arah sebuah nasi kukus. Bahwa nantinya anak ini akan menjadi tokoh besar, sudah nampak tanda- tandanya sejak dini.

Bayi itu menangis merengek seolah meminta sesuatu. Sang Ibu kasian mendengar rengekan sang bayi , Ibu kemudian mengambil nasi kukus tersebut dan mencoba untuk memberikannya pada bayi. Ibu bergumam dalam hatinya : Apakah anak ini ingin merasakan nasi kukusan ini? Umurnya belum cukup untuk makan nasi?”

Tak dinyana ternyata bayi tersebut memakan nasi kukus tersebut dengan lahapnya. Ibu bayi tersebut menampakkan keterkejutan yang sangat. Ketika baru lahir, anak tersebut sudah bisa untuk memakan nasi… Ibu:” Astaga, Kau telah berikan anak yang luar biasa, ya Hyang Widi…

Ternyata yang lahir bukanlah bayi biasa. Ketika masih bayi pun ia sudah bisa makan makanan orang dewasa. Setiap hari anak itu makin banyak dan makin banyak. Anak itu tumbuh menjadi orang dewasa yang tinggi besar. Karena itu ia dipanggil dengan nama Kebo Iwa, yang artinya paman kerbau. Kebo Iwa makan dan makan terus dengan rakus. Lama-lama habislah harta orang tuanya untuk memenuhi selera makannya. Mereka pun tak lagi sanggup memberi makan anaknya.

Dengan berat hati mereka meminta bantuan desa. Sejak itulah segala kebutuhan makan Kebo Iwa ditanggung desa. Penduduk desa kemudian membangun rumah yang sangat besar untuk Kebo Iwa. Mereka pun memasak makanan yang sangat banyak untuknya. Tapi lama-lama penduduk merasa tidak sanggup untuk menyediakan makanan. Kemudian mereka meminta Kebo Iwa untuk memasak sendiri. Mereka cuma menyediakan bahan mentahnya. Bahan-bahan pangan tersebut diolah oleh Kebo Iwa di Pantai Payan, yang bersebelahan dengan Pantai Soka.

Danau Beratan merupakan tempat dimana , Kebo Iwa biasanya membersihkan, walaupun jaraknya cukup jauh namun dengan tubuh besarnya jarak tidak menjadi masalah baginya, dia bisa mencapai setiap tempat yang diinginkannya di wilayah Bali dengan waktu singkat. Kebo Iwa memang serba besar. Jangkauan kakinya sangat lebar, sehingga ia dapat bepergian dengan cepat. Kalau ia ingin minum, Kebo Iwa tinggal menusukkan telunjuknya ke tanah. Sehingga terjadilah sumur kecil yang mengeluarkan air.

Walaupun terlahir dengan tubuh besar, namun Kebo Iwa adalah seorang pemuda dengan hati yang lurus. Suatu ketika dalam perjalanannya pulang dariDanau beratan, Tampak segerombolan orang dewasa yang tidak berhati lurus, Dari kejauhan para warga desa merasa sangat cemas. Tampak seorang dari mereka tersita perhatiannya pada seorang gadis cantik. Laki-laki itu menggoda gadis ini dengan kasar, gadis ini menjadi takut dan enggan berbicara. Laki-laki itu semakin bernafsu dan tangan-tangannya mulai melakukan tindakan yang tidak senonoh.

Tiba-tiba Kebo Iwa muncul di belakang gerombolan tersebut, mencengkeram tangan salah seorang dari mereka, nampak kegeraman terpancar dari wajahnya, laki-laki itu menjerit kesakitan, gerombolan itu sangat terkejut melihat Kebo Iwa yang begitu besar, ketakutan nampak dari raut muka gerombolan tersebut. Gerombolan tersebut lari tunggang langgang. Demikianlah Kebo Iwa membalas jasa baik para warga desanya dengan menjaga keamanan di mana dia tinggal. Tubuh yang besar sebagai karunia dari Sang Hyang Widi dimanfaatkan dengan sangat baik dan benar oleh Kebo Iwa.

Pada abad 11 Masehi, sebuah karya pahat yang sangat megah dan indah dibuat di dinding Gunung Kawi, Tampaksiring. Kebo Iwa yang memahat dinding gunung dengan indahnya, hanya dengan menggunakan kuku dari jari tangannya saja. Karya pahat tersebut dibuat hanya dalam waktu semalam suntuk, menggunakan kuku dari jari tangan Kebo Iwa.

Pahatan tersebut diperuntukkan memberikan penghormatan kepada Raja Udayana, Raja Anak Wungsu ,Permaisuri dan perdana menteri raja yang disemayamkan disana. Raja Anak Wungsu adalah raja yang berhasil mempersatukan Bali. Salah satu hal yang paling istimewa dari Kebo Iwa adalah kemampuannya untuk membuat sumur mata air. Kebo Iwa dengan segenap kekuatan menusukkan jari tangannya ke dalam tanah. Dengan kekuatan jari tangannya yang dahsyat, dia mampu mengadakan sebuah sumur mata air, hanya dengan menusukkan jari telunjuknya ke dalam tanah.

Beragam kemampuan yang luar biasa tersebut, menyebabkan timbulnya daya tarik tersendiri dari pribadi seorang Kebo Iwa. Dan kekuatan luar biasa itu, menyebabkan seorang raja yang berkuasa keturunan terakhir dari Dinasti Warma Dewa, bernama Sri Astasura Bumi Banten… menginginkan Kebo Iwa untuk menjadi salah satu patihnya di wilayah Blahbatuh…Yang juga dikenal dengan sebutan Raja Bedahulu. (‘Beda’ diartikan sebagai kekuatan yang berbeda). Kebo Iwa diangkat menjadi Patih kerajaan dan saat itu dia mengucapkan Janji bahwa selama Kebo Iwa masih bernafas Bali tidak akan pernah dikuasi.

Dengan dukungan dari patih Kebo Iwa yang luar biasa kuat, Sri Astasura Bumi Banten menyatakan bahwa kerajaannya tidak akan mau ditundukkan oleh Kerajaan Majapahit yang berkehendak untuk menaklukkan kerajaan di Bali.

Adapun kerajaan Majapahit waktu itu dipimpin oleh Raja Tri Bhuwana Tungga Dewi, dengan patihnya yang paling terkenal dengan terkenal dengan Sumpah Palapanya (sumpah untuk tidak menikmati kenikmatan dunia bila seluruh wilayah nusantara belum dipersatukan di bawah panji Majapahit) yang bernama Gajah Mada. Karena kehebatannya, Kebo Iwa dapat menahan serbuan pasukan Majapahit yang hendak menaklukkan Bali. Semua kapal-kapal perang Majapahit ditenggelamkan selagi berada di Selat Bali.

Maha Patih Majapahit pun mengatur siasat. Dalam siasat yang diatur, Gajah Mada memberikan pujian kepada Baginda Sri Astasura Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa tanpa menimbulkan kecurigaan. Lantas, Raja Majapahit membujuk Patih kebo Iwa untuk melakukan perjalanan ke Majapahit guna menikahi wanita terhormat nan jelita pilihan raja yang berasal dari Lemah Tulis.

Menanggapi tawaran dari Majapahit, Patih Kebo Iwa yang setia terhadap rajanya, memohon petunjuk dan persetujuan dari baginda Sri Astasura Bumi Banten. Sang Raja menyetujuinya tanpa rasa curiga.Sebelum pergi ke Majapahit, Patih Kebo Iwa terlebih dahulu melakukan upacara keagamaan di Pura Uluwatu, untuk meminta kekuatan dari Sang Hyang Rudra. Dan Sang Hyang Rudra memenuhi permintaan Kebo Iwa, mengakibatkan meningkatnya kekuatan dan kesaktian menjadi sangat luar biasa.

Kedatangan Patih Kebo Iwa ke tanah Majapahit menyebabkan para tentara, baik yang belum pernah melihatnya maupun yang pernah takluk atas kekuatannya, menjadi terperangah, kagum, bercampur rasa ngeri dan waspada, Tentara Majapahit, menampakkan ekspresi terkejut dan cemas. Arah pandang mereka terpusat ke satu tujuan yang sama. Beberapa diantara mereka nampak sedang berbisik pelan dengan teman yang berada di sebelahnya; “Lihatlah ukuran tubuhnya! Luar biasa ! Mengerikan !”.

Patih Gajah Mada menyambut kedatangan Patih Kebo Iwa: “Salam, Patih yang tangguh ! Selamat datang di Kerajaan Majapahit” Patih Kebo Iwa yang menimpali salam dari Patih Gajah Mada. Kebo Iwa : “Terima Kasih Patih, kiranya anda bersedia untuk langsung menjelaskan maksud dari Baginda Tri Bhuwana Tungga Dewi yang meminta saya untuk datang ke Majapahit.

Gajah Mada : “Seperti yang telah dikabarkan sebelumnya, Patih kebo Iwa, baginda Raja mengharapkan kedatangan patih guna menjalin suatu tali persahabatan dengan Kerajaan Bedahulu di Bali dan juga berharap agar patih bersedia menemui wanita terhormat pilihan baginda yang dirasa pantas untuk mendampingi seorang patih yang tangguh seperti anda”.

Gajah Mada menarik nafas panjang kemudian melanjutkan kata-katanya: “Akan tetapi sebelumnya, akan sangat berati apabila Patih kerajaan. Kebo Iwa berkenan membuat sumur air di sana yang nantinya akan dipersembahkan untuk wanita calon pendamping anda. Lebih lagi, sumur itu nantinya juga akan dimanfaatkan oleh rakyat kerajaan Majapahit yang saat ini sedang kekurangan air. Kiranya patih berkenan mengabulkan permohonan ini.

Bersambung dibawahnya…


utara19
27-02-2009, 09:06 PM
Lanjutan Gajah Mada versus Kebo Iwa

Patih Kebo Iwa memiliki jiwa besar dan lurus hatinya, akhirnya diapun meluluskan permintaan tersebut.Nampak Patih Kebo Iwa yang sedang mempertimbangkan permintaan tersebut. Kemudian memutuskan untuk memenuhi permintaan tersebut. Kebo Iwa (berpikir sejenak) kemudian dia berkata: “Baiklah, biarlah kekuatanku ini kupergunakan untuk sesuatu yang menghadirkan berkat bagi orang banyak”.

Tanpa banyak cakap lagi, Patih Kebo Iwa segera melakukan aktivitasnya untuk menciptakan sebuah sumur air. Sebelum memulai pekerjaannya, tidak lupa Patih Kebo Iwa meminta pedoman dari Sang Hyang Widi. Kebo Iwa : (dalam hati) Ya yang Kuasa, segala yang akan saya lakukan semoga menggambarkan kebesaran namaMu.Kebo Iwa mulai menggali sumur di tempat yang telah ditunjuk.

Dalam waktu yang cukup singkat, sumur telah tergali cukup dalam. Namun belum ada mata air yang keluar. Di atas lubang sumur yang digali oleh Patih Kebo Iwa, para prajurit Majapahit terlihat berkerumun, nampak mereka memusatkan pehatian pada Patih Gajah Mada. Seakan mereka menantikan sesuatu perintah…Tiba-tiba Gajah Mada berteriak: “Timbun dia dengan batu………!!!!” Seketika itu juga, para prajurit menimbun kembali lubang sumur yang sedang dibuat, dengan Patih Kebo Iwa berada di dalamnya.

Para prajurit menimbun lubang sumur dengan batu hasil galian itu sendiri, nampak Kebo Iwa sangat terkejut dan berusaha menahan jatuhnya batu. Dalam waktu yang singkat, lubang sumur itupun tertutup rapat. Mengubur
seorang pahlawan besar didalamnya. Patih Gajah Mada yang berbicara kepada para parjuritnya.Gajah Mada : “Sungguh amat disayangkan seorang pahlawan besar seperti dia harus mengalami ini. Namun, hal ini terpaksa harus dilakukan, agar nusantara ini dapat dipersatukan. Dengan ini kerajaan Bali akan menjadi bagian dari Majapahit”.

Tiba-tiba timbunan batu melesat ke segala penjuru, menghantam prajurit Majapahit. Terdengar teriakan membahana dari dalam sumur. Kebo Iwa : (berteriak) “Belum ! Bali masih tetap merdeka, karena nafasku masih berhembus !!. Batu-batu yang ditimbunkan melesat kembali keangkasa dibarengi dengan teriakan prajurit Majapahit yang terhempas batu. Dari dalam sumur, keluarlah Patih Kebo Iwa, yang ternyata masih terlalu kuat untuk dikalahkan.

Patih Gajah Mada terkejut, menyaksikan Patih Kebo Iwa yang masih perkasa, dan beranjak keluar dari lubang sumur. Kebo Iwa : “Dan pembalasan adalah apa yang kutuntut dari sebuah pengkhianatan !” Patih Kebo Iwa menyerang Patih Gajah Mada kemarahan dan dendam mewarnai pertempuran. Akibat amarah dan dendam yang dirasakan oleh Patih Kebo Iwa, pertempuran berlangsung sengit selama beberapa waktu.

Disela-sela saling serang Gajah Mada berteriak:”Untuk memersatukan dan memperkuat nusantara, segenap kerajaan hendaklah dipersatukan terlebih dahulu. Dan kau berdiri di garis yang salah sebagai seorang penghalang !”.

Kesaktian Patih Kebo Iwa, sungguh menyulitkan usaha Patih Gajah Mada untuk menundukkannya. Pertempuran antara keduanya masih berlangsung hebat, namun amarah dan dendam Patih Kebo Iwa mulai menyurut…Dan rupanya Patih Kebo Iwa tengah bertempur seraya berpikir … Dan apa yang tengah dipikirkan
olehnya, membuat dia harus membuat keputusan yang sulit… Kebo Iwa : (dalam hati) Kerajaan Bali pada akhirnya akan dapat ditaklukkan oleh usaha yang kuat dari orang ini, keinginannya untuk mempersatukan nusantara agar menjadi kuat kiranya dapat aku mengerti kini.

Namun apabila, aku menyetujui niatnya dan ragaku masih hidup, apa yang akan aku katakan nantinya pada Baginda Raja sebagai sangkalan atas sebuah prasangka pengkhianatan ? Masih dalam keadaan bertempur, secara sengaja Patih Kebo Iwa melontarkan pernyataan yang intinya mengenai hal untuk mengalahkan kesaktiannya.

Kebo Iwa : “Wahai Patih Gajah Mada ! Cita-citamu untuk membuat nusantara menjadi satu dan kuat kiranya dapat aku mengerti, namun selama ragaku tetap hidup sebagai abdi rajaku, aku akan menjadi penghalangmu. Maka, taklukkan aku, hilangkan kesaktianku dengan menyiramkan bubuk kapur ke tubuhku.

Pernyataan Patih Kebo Iwa rupanya membuat terkesiap Patih Gajah Mada. Patih Gajah Mada menunjukkan reaksi keheranan yang amat sangat atas perkataan Patih Kebo Iwa. Gajah Mada yang mengerti atas keinginan Kebo Iwa, nampak menghantamkan jurusnya ke batu kapur, batu itupun luluh lantakmenjadi serpihan bubuk. Patih Gajah Mada menyapukan bubuk tersebut ke arah Patih Kebo Iwa dengan ilmunya, bubuk kapur menyelimuti tubuh sang patih Nampak Patih Kebo Iwa, sesak napasnya oleh karena bubuk kapur tersebut.

Kiranya bubuk kapur tersebut membuat olah pernapasan Patih Kebo Iwa menjadi terganggu, hal tersebut mengakibatkan kesaktian tubuh Patih Kebo Iwa menjadi lenyap.Patih Gajah Mada melesat ke arah Patih Kebo Iwa,menusukkan kerisnya ke tubuh Kebo Iwa. Dan sebelum kepergiannya, dengan sisa tenaga yang ada Patih Kebo Iwa mengutarakan apa yang ingin dikatakan untuk terakhir kali. Patih Kebo Iwa : “Kiranya kematianku tidak sia-sia adanya…biarlah nusantara yang kuat bersatu hasil yang pantas atas harga hidupku”.

Patih Gajah Mada dengan raut muka sedih, memberikan jawaban atas perkataan Patih Kebo Iwa. Gajah Mada : “Kepergianmu sebagai tokoh besar akan terkenang dalam sejarah… Sejarah suatu nusantara yang satu dan kuat”.

Tak lama setelah mendengar pernyataan tersebut, napas terakhirpun pergilah sudah, meninggalkan raga seorang patih tertangguh dalam sejarah Bali… dan pertiwi pun meredup melepas kepergian salah satu putra terbaiknya. Dengan meninggalnya Kebo Iwa, Bali pun dapat ditaklukkan Majapahit. Berakhirlah riwayat orang besar yang berjasa pada Pulau Bali.

Pelajaran yang bisa diambil:
1. “Kita harus selalu waspada dengan kebaikan yang ditawarkan pihak musuh, kejujuran dan kepolosan itu sungguh utama namun kitar harus menempatkannya pada posisi yang benar”
2. Dalam politik dan kekuasaan hal-hal tipu muslihat, dan hal-hal kotor dari jaman dahulu hingga kini tidak bisa dielakkan, selalu ada dan hadir dalam sistem politik untuk meraih kemenangan
3. Kekuatan yang besar yang dianugrahkan Tuhan kepada kita mestinya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, bukan untuk menyakiti mahluk lain.

sumber : http://singaraja.wordpress.com/2008/07/18/kebo-iwa/


sakradeva
28-02-2009, 11:29 AM
Pasti banyak yang tidak tahu ya, sisi licik Gajah Mada…..
met membaca…

Gajah Mada versus Kebo Iwa

Di desa Bedahulu wilayah kabupaten Tabanan, Bali pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri. Mereka kaya, hanya saja mereka belum mempunyai anak. Bagi penduduk Bali pada masa itu, manusia yang belum mempunyai keturunan adalah manusia yang siasia hidupnya.

Suatu hari mereka pergi ke Pura Desa. Mereka memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberi keturunan. Waktu pun berlalu. Sang istri mulai mengandung. Betapa bahagianya mereka. Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki. Bayi tersebut hendak disusui oleh ibunya, namun jarinya terus menunjuk ke arah sebuah nasi kukus. Bahwa nantinya anak ini akan menjadi tokoh besar, sudah nampak tanda- tandanya sejak dini.

………………………………….
Bersambung dibawahnya…

1] Bedahulu bukan Desa, tapi Kerajaan Bali Kuno…… yang sekarang lokasi bekas pusat pemerintahannya jadi nama sebuah Desa, dan itu bukan di Tabanan tetapi di Kabupaten Gianyar

2] Bedahulu artinya berbeda dengan (kepala) Pusat, hal ini karena Kerajaan di Bali ini tidak mau tunduk pada Majapahit, padahal dari historis…. mulai jaman Teguh Dharmawangsa, yang bermenantukan Pangeran dari Dinasti Warmadewa (Bali) yaitu Airlangga, menyebabkan Kerajaan di Jawa Timur sebagai Saudara Tua Kerajaan di Bali… hal ini berlanjut sampai jaman Kediri, Majapahit yang menggatikan Superior Kediri mengklaim hal ini…. tetapi Kerajaan Bali menolak.

================================================================

lha kok bahas Bedahulu sih bukan Majapahit ::ngakak2::
sorry klo Oot


Hiram
28-02-2009, 05:48 PM
lha kok bahas Bedahulu sih bukan Majapahit ::ngakak2::
sorry klo Oot

Kalau kita ingin tahu seperti apa penduduk, adat istiadat, arsitektur bangunan, kepercayaan Majapahit dulu, maka Bali mungkin yang paling dekat untuk menggambarkan hal itu.


Sima Yi
05-03-2009, 12:06 AM
Pasti banyak yang tidak tahu ya, sisi licik Gajah Mada…..
met membaca…

Gajah Mada versus Kebo Iwa

Di desa Bedahulu wilayah kabupaten Tabanan, Bali pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri. Mereka kaya, hanya saja mereka belum mempunyai anak. Bagi penduduk Bali pada masa itu, manusia yang belum mempunyai keturunan adalah manusia yang siasia hidupnya.

Suatu hari mereka pergi ke Pura Desa. Mereka memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberi keturunan. Waktu pun berlalu. Sang istri mulai mengandung. Betapa bahagianya mereka. Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki. Bayi tersebut hendak disusui oleh ibunya, namun jarinya terus menunjuk ke arah sebuah nasi kukus. Bahwa nantinya anak ini akan menjadi tokoh besar, sudah nampak tanda- tandanya sejak dini.

Bayi itu menangis merengek seolah meminta sesuatu. Sang Ibu kasian mendengar rengekan sang bayi , Ibu kemudian mengambil nasi kukus tersebut dan mencoba untuk memberikannya pada bayi. Ibu bergumam dalam hatinya : Apakah anak ini ingin merasakan nasi kukusan ini? Umurnya belum cukup untuk makan nasi?”

Tak dinyana ternyata bayi tersebut memakan nasi kukus tersebut dengan lahapnya. Ibu bayi tersebut menampakkan keterkejutan yang sangat. Ketika baru lahir, anak tersebut sudah bisa untuk memakan nasi… Ibu:” Astaga, Kau telah berikan anak yang luar biasa, ya Hyang Widi…

Ternyata yang lahir bukanlah bayi biasa. Ketika masih bayi pun ia sudah bisa makan makanan orang dewasa. Setiap hari anak itu makin banyak dan makin banyak. Anak itu tumbuh menjadi orang dewasa yang tinggi besar. Karena itu ia dipanggil dengan nama Kebo Iwa, yang artinya paman kerbau. Kebo Iwa makan dan makan terus dengan rakus. Lama-lama habislah harta orang tuanya untuk memenuhi selera makannya. Mereka pun tak lagi sanggup memberi makan anaknya.

Dengan berat hati mereka meminta bantuan desa. Sejak itulah segala kebutuhan makan Kebo Iwa ditanggung desa. Penduduk desa kemudian membangun rumah yang sangat besar untuk Kebo Iwa. Mereka pun memasak makanan yang sangat banyak untuknya. Tapi lama-lama penduduk merasa tidak sanggup untuk menyediakan makanan. Kemudian mereka meminta Kebo Iwa untuk memasak sendiri. Mereka cuma menyediakan bahan mentahnya. Bahan-bahan pangan tersebut diolah oleh Kebo Iwa di Pantai Payan, yang bersebelahan dengan Pantai Soka.

Danau Beratan merupakan tempat dimana , Kebo Iwa biasanya membersihkan, walaupun jaraknya cukup jauh namun dengan tubuh besarnya jarak tidak menjadi masalah baginya, dia bisa mencapai setiap tempat yang diinginkannya di wilayah Bali dengan waktu singkat. Kebo Iwa memang serba besar. Jangkauan kakinya sangat lebar, sehingga ia dapat bepergian dengan cepat. Kalau ia ingin minum, Kebo Iwa tinggal menusukkan telunjuknya ke tanah. Sehingga terjadilah sumur kecil yang mengeluarkan air.

Walaupun terlahir dengan tubuh besar, namun Kebo Iwa adalah seorang pemuda dengan hati yang lurus. Suatu ketika dalam perjalanannya pulang dariDanau beratan, Tampak segerombolan orang dewasa yang tidak berhati lurus, Dari kejauhan para warga desa merasa sangat cemas. Tampak seorang dari mereka tersita perhatiannya pada seorang gadis cantik. Laki-laki itu menggoda gadis ini dengan kasar, gadis ini menjadi takut dan enggan berbicara. Laki-laki itu semakin bernafsu dan tangan-tangannya mulai melakukan tindakan yang tidak senonoh.

Tiba-tiba Kebo Iwa muncul di belakang gerombolan tersebut, mencengkeram tangan salah seorang dari mereka, nampak kegeraman terpancar dari wajahnya, laki-laki itu menjerit kesakitan, gerombolan itu sangat terkejut melihat Kebo Iwa yang begitu besar, ketakutan nampak dari raut muka gerombolan tersebut. Gerombolan tersebut lari tunggang langgang. Demikianlah Kebo Iwa membalas jasa baik para warga desanya dengan menjaga keamanan di mana dia tinggal. Tubuh yang besar sebagai karunia dari Sang Hyang Widi dimanfaatkan dengan sangat baik dan benar oleh Kebo Iwa.

Pada abad 11 Masehi, sebuah karya pahat yang sangat megah dan indah dibuat di dinding Gunung Kawi, Tampaksiring. Kebo Iwa yang memahat dinding gunung dengan indahnya, hanya dengan menggunakan kuku dari jari tangannya saja. Karya pahat tersebut dibuat hanya dalam waktu semalam suntuk, menggunakan kuku dari jari tangan Kebo Iwa.

Pahatan tersebut diperuntukkan memberikan penghormatan kepada Raja Udayana, Raja Anak Wungsu ,Permaisuri dan perdana menteri raja yang disemayamkan disana. Raja Anak Wungsu adalah raja yang berhasil mempersatukan Bali. Salah satu hal yang paling istimewa dari Kebo Iwa adalah kemampuannya untuk membuat sumur mata air. Kebo Iwa dengan segenap kekuatan menusukkan jari tangannya ke dalam tanah. Dengan kekuatan jari tangannya yang dahsyat, dia mampu mengadakan sebuah sumur mata air, hanya dengan menusukkan jari telunjuknya ke dalam tanah.

Beragam kemampuan yang luar biasa tersebut, menyebabkan timbulnya daya tarik tersendiri dari pribadi seorang Kebo Iwa. Dan kekuatan luar biasa itu, menyebabkan seorang raja yang berkuasa keturunan terakhir dari Dinasti Warma Dewa, bernama Sri Astasura Bumi Banten… menginginkan Kebo Iwa untuk menjadi salah satu patihnya di wilayah Blahbatuh…Yang juga dikenal dengan sebutan Raja Bedahulu. (‘Beda’ diartikan sebagai kekuatan yang berbeda). Kebo Iwa diangkat menjadi Patih kerajaan dan saat itu dia mengucapkan Janji bahwa selama Kebo Iwa masih bernafas Bali tidak akan pernah dikuasi.

Dengan dukungan dari patih Kebo Iwa yang luar biasa kuat, Sri Astasura Bumi Banten menyatakan bahwa kerajaannya tidak akan mau ditundukkan oleh Kerajaan Majapahit yang berkehendak untuk menaklukkan kerajaan di Bali.

Adapun kerajaan Majapahit waktu itu dipimpin oleh Raja Tri Bhuwana Tungga Dewi, dengan patihnya yang paling terkenal dengan terkenal dengan Sumpah Palapanya (sumpah untuk tidak menikmati kenikmatan dunia bila seluruh wilayah nusantara belum dipersatukan di bawah panji Majapahit) yang bernama Gajah Mada. Karena kehebatannya, Kebo Iwa dapat menahan serbuan pasukan Majapahit yang hendak menaklukkan Bali. Semua kapal-kapal perang Majapahit ditenggelamkan selagi berada di Selat Bali.

Maha Patih Majapahit pun mengatur siasat. Dalam siasat yang diatur, Gajah Mada memberikan pujian kepada Baginda Sri Astasura Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa tanpa menimbulkan kecurigaan. Lantas, Raja Majapahit membujuk Patih kebo Iwa untuk melakukan perjalanan ke Majapahit guna menikahi wanita terhormat nan jelita pilihan raja yang berasal dari Lemah Tulis.

Menanggapi tawaran dari Majapahit, Patih Kebo Iwa yang setia terhadap rajanya, memohon petunjuk dan persetujuan dari baginda Sri Astasura Bumi Banten. Sang Raja menyetujuinya tanpa rasa curiga.Sebelum pergi ke Majapahit, Patih Kebo Iwa terlebih dahulu melakukan upacara keagamaan di Pura Uluwatu, untuk meminta kekuatan dari Sang Hyang Rudra. Dan Sang Hyang Rudra memenuhi permintaan Kebo Iwa, mengakibatkan meningkatnya kekuatan dan kesaktian menjadi sangat luar biasa.

Kedatangan Patih Kebo Iwa ke tanah Majapahit menyebabkan para tentara, baik yang belum pernah melihatnya maupun yang pernah takluk atas kekuatannya, menjadi terperangah, kagum, bercampur rasa ngeri dan waspada, Tentara Majapahit, menampakkan ekspresi terkejut dan cemas. Arah pandang mereka terpusat ke satu tujuan yang sama. Beberapa diantara mereka nampak sedang berbisik pelan dengan teman yang berada di sebelahnya; “Lihatlah ukuran tubuhnya! Luar biasa ! Mengerikan !”.

Patih Gajah Mada menyambut kedatangan Patih Kebo Iwa: “Salam, Patih yang tangguh ! Selamat datang di Kerajaan Majapahit” Patih Kebo Iwa yang menimpali salam dari Patih Gajah Mada. Kebo Iwa : “Terima Kasih Patih, kiranya anda bersedia untuk langsung menjelaskan maksud dari Baginda Tri Bhuwana Tungga Dewi yang meminta saya untuk datang ke Majapahit.

Gajah Mada : “Seperti yang telah dikabarkan sebelumnya, Patih kebo Iwa, baginda Raja mengharapkan kedatangan patih guna menjalin suatu tali persahabatan dengan Kerajaan Bedahulu di Bali dan juga berharap agar patih bersedia menemui wanita terhormat pilihan baginda yang dirasa pantas untuk mendampingi seorang patih yang tangguh seperti anda”.

Gajah Mada menarik nafas panjang kemudian melanjutkan kata-katanya: “Akan tetapi sebelumnya, akan sangat berati apabila Patih kerajaan. Kebo Iwa berkenan membuat sumur air di sana yang nantinya akan dipersembahkan untuk wanita calon pendamping anda. Lebih lagi, sumur itu nantinya juga akan dimanfaatkan oleh rakyat kerajaan Majapahit yang saat ini sedang kekurangan air. Kiranya patih berkenan mengabulkan permohonan ini.

Bersambung dibawahnya…

kenapa harus heran kalo gajah mada punya sisi gelap ? namanya juga manusia. lagian itu cerita termasuk mitos kali yah…susah dibuktikan kebenarannya.

semua penakluk melalui kekuatan militer pastilah licik. kalo ga licik ga pantes untuk jadi jendral besar hehehe


Wishnuwarman
06-03-2009, 09:25 PM
Kalau kita ingin tahu seperti apa penduduk, adat istiadat, arsitektur bangunan, kepercayaan Majapahit dulu, maka Bali mungkin yang paling dekat untuk menggambarkan hal itu.

Seingat saya memang orang bali dan jawa memiliki rumpun budaya dan leluhur yang sama.kalo ngga salah orang bali adalah orang – orang jawa yang mengungsi karena terusir atau apa.. mungkin ada yang punya info yang valid tentang itu ?

Apakah benar, banyak orang hindu majapahit yang mengungsi ke Bali setelah demak berdiri ?


sakradeva
07-03-2009, 03:04 PM
perpindahan penduduk dari jawa ke Bali tidak terjadi sekaligus namun bberapa kali dan itupun dalam rentang waktu yang lama, setidaknya hal itu termuat dalam Babad babad yang ada di Bali.
permasalahnnya adalah seberapa valid kah babad bisa dijadikan sumber sejarah sesuai dengan metodologi yang berlaku?
Namun tidak dipungkiri banyak hal gelap dalam sejarah yang mendapat pencerahan berkat adanya Babad tersebut.
oke saya mencoba menyampaikan apa yg saya tau tentang perpindahan orang2 Jawa ke Bali

secara garis besar sih dibagi 3
Perpindahan pertama
adalah kedatangan Rsi Markendya pada abad ke 8 beserta pengikutnya, beliau berangkat dari ashramanya di gunung Raung jawa Timur, perjalanan pertama beliau gagal karena banyak pengikut yang meninggal, misi beliau mengalami kegagalan dimana sebagian besar pengikutnya mengalami kematian ataupun sakit secara misterius. Beliau merasakan aura misterius yang sangat kuat menguasai pulau ini sehingga dia kemudian memutuskan untuk kembali ke Gunung Raung dan bermeditasi/puja wali untuk meminta petunjuk agar bisa selamat dalam perjalanan ke Bali berikutnya.

Kemudian pada kedatangan kedua beliau diikuti +- 2000 pengikut, lalu mengadakan persembahan dengan menanamkan Panca Datu (lima macam logam) memohon keselamatan kepada Tuhan sesuai dengan petunjuk yang diperoleh, tempat beliau menanam Panca datu kini di kenal dengan nama Pura Basukihan salah satu Pura di kompleks pura terbesar di Bali yakni Besakih (kabupaten Karangasem).
Rsi Markandeya menyadari bahwa ternyata Pulau Bali hanya pulau kecil sehingga beliau menganggap bahwa nama Pulau Panjang kurang tepat dan menggantinya dengan nama Pulau Bali. Kata Bali sendiri berasal dari bahasa Palawa yang berkembang di India selatan. Bali kurang lebih berarti persembahan, mengingat untuk mendapatkan keselamatan Rsi Markandeya harus mengaturkan persembahyangan/upacara suci terlebih dahulu dalam perkembangan selanjutnya Bali kurang lebih sama artinya dengan Banten pada masa sekarang ini.

selanjutnya beliau mendirikan desa disebuah hutan yang diberi nama Taro (Kabupaten Gianyar sekarang ), dan mulai menyebarkan agama Hindu, banyak yang berasumsi bahwa pengikut Rsi Markandeya ini yang disebut sebagai Orang Bali Aga mengingat asal mereka dari desa Aga di jawa ( sekitar gunung Raung ?)

Perpindahan Kedua
Ekspedisi Gajah Mada abad 14
kedatangan Gajah Mada untuk menaklukan Raja Bali kuna terakhir, Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten berhasil ditaklukan pada tahun 1343
Gajah Mada di ikuti oleh para Ksatria Majapahit dari garis keturunan Kediri yang disebut Para Arya, mereka inilah yang menetap dan ditugaskan menjaga beberapa wilayah di Bali beserta anak buahnya, disamping itu Gajah Mada menobatkan seorang keturunan Brahmana untuk menjadi Raja di Bali bernama Sri Kresna Kepakisan yang selanjutnya menurunkan raja raja Bali sebelum pecah menjadi beberapa kerajaan kecil.

perpindahan ketiga

hal ini diperkirakan saat jatuhnya Majapahit ke tangan Demak, tidak banyak sumber yang menyebutkan namun salah satu Tokoh Hindu yang tiba di Bali adalah Dang Hyang Dwijendra, keturunan beliau sekarang dinamakan wangsa Brahmana ( ingat ya wangsa bukan Kasta)

demikian sedikit yg bisa saya informasikan
semoga bermanfaat


Yuuto-Gatack
07-03-2009, 03:23 PM
Namanya juga manusia..

Walau ada sisi baiknya, pasti sisi buruknya juga ada..

Orang yang merasa besar akan merasa harus mendapatkan apapun yang dia inginkan..

Meskipun dengan cara licik sekalipun,, ,–,


Sima Yi
08-03-2009, 01:57 AM
bro en sis sekalian…berhubung banyak informasi yang disampaikan, tidak ada salahnya apabila dicantumkan juga dunk sumber dari info2 yg bro en sisi sampaikan disini. jadi data lebih terpercaya dan kalo ada yg berminat/butuh sumber bisa dg mudah mendapatkan referensi.

Wishnuwarman
12-03-2009, 01:51 PM
Perpindahan pertama
adalah kedatangan Rsi Markendya pada abad ke 8 beserta pengikutnya, beliau berangkat dari ashramanya di gunung Raung jawa Timur, perjalanan pertama beliau gagal karena banyak pengikut yang meninggal, misi beliau mengalami kegagalan dimana sebagian besar pengikutnya mengalami kematian ataupun sakit secara misterius. Beliau merasakan aura misterius yang sangat kuat menguasai pulau ini sehingga dia kemudian memutuskan untuk kembali ke Gunung Raung dan bermeditasi/puja wali untuk meminta petunjuk agar bisa selamat dalam perjalanan ke Bali berikutnya.

Kemudian pada kedatangan kedua beliau diikuti +- 2000 pengikut, lalu mengadakan persembahan dengan menanamkan Panca Datu (lima macam logam) memohon keselamatan kepada Tuhan sesuai dengan petunjuk yang diperoleh, tempat beliau menanam Panca datu kini di kenal dengan nama Pura Basukihan salah satu Pura di kompleks pura terbesar di Bali yakni Besakih (kabupaten Karangasem).
Rsi Markandeya menyadari bahwa ternyata Pulau Bali hanya pulau kecil sehingga beliau menganggap bahwa nama Pulau Panjang kurang tepat dan menggantinya dengan nama Pulau Bali. Kata Bali sendiri berasal dari bahasa Palawa yang berkembang di India selatan. Bali kurang lebih berarti persembahan, mengingat untuk mendapatkan keselamatan Rsi Markandeya harus mengaturkan persembahyangan/upacara suci terlebih dahulu dalam perkembangan selanjutnya Bali kurang lebih sama artinya dengan Banten pada masa sekarang ini.

selanjutnya beliau mendirikan desa disebuah hutan yang diberi nama Taro (Kabupaten Gianyar sekarang ), dan mulai menyebarkan agama Hindu, banyak yang berasumsi bahwa pengikut Rsi Markandeya ini yang disebut sebagai Orang Bali Aga mengingat asal mereka dari desa Aga di jawa ( sekitar gunung Raung ?)

Trims, infonya, bisa dijelaskan motivasi atau latar belakang perpindahan pertama ini ? apakah karena faktor yang terjadi di pulau Jawa, atau ada sesuatu yang dicari di Bali ?


Wishnuwarman
12-03-2009, 01:54 PM
perpindahan ketiga

hal ini diperkirakan saat jatuhnya Majapahit ke tangan Demak, tidak banyak sumber yang menyebutkan namun salah satu Tokoh Hindu yang tiba di Bali adalah Dang Hyang Dwijendra, keturunan beliau sekarang dinamakan wangsa Brahmana ( ingat ya wangsa bukan Kasta)

Ada kesan, bahwa perpindahan ketiga ini karena orang hindu terdesak oleh orang2 Islam. Tapi saya kira perpindahannya lebih karena faktor politis, bukan agama… apa ada info yang lebih menggambarkan peristiwa perpindahan ketiga ini ? Apakah orang2 orang Demak sengaja mengusir para pendukung majapahit ? atau ada hal lain ?


Sima Yi
17-03-2009, 12:19 PM
Ada kesan, bahwa perpindahan ketiga ini karena orang hindu terdesak oleh orang2 Islam. Tapi saya kira perpindahannya lebih karena faktor politis, bukan agama… apa ada info yang lebih menggambarkan peristiwa perpindahan ketiga ini ? Apakah orang2 orang Demak sengaja mengusir para pendukung majapahit ? atau ada hal lain ?

maksudnya faktor politis itu sperti apa ? bisa kasih contoh ?

kalo gw liat si, karena bagaimanapun islam dan hindu sangat bertolak belakang. misalnya saja ttg patung. dalam hindu masih diperbplehkan ato bahkan memiliki nilai penting sedangkan dalam islam hal itu ditentang keras. jika dibaca2 lg dalam serat darmogandhul, bisa ditarik kesimpulan bagaimana sikap islam (sunan gunung jati (CMIIW)) thd hindhu (patung). tidak ada kompromi.


Wishnuwarman
20-03-2009, 04:17 PM
[QUOTE=Sima Yi;8594851]maksudnya faktor politis itu sperti apa ? bisa kasih contoh ?

kalo gw liat si, karena bagaimanapun islam dan hindu sangat bertolak belakang. misalnya saja ttg patung. dalam hindu masih diperbplehkan ato bahkan memiliki nilai penting sedangkan dalam islam hal itu ditentang keras. jika dibaca2 lg dalam serat darmogandhul, bisa ditarik kesimpulan bagaimana sikap islam (sunan gunung jati (CMIIW)) thd hindhu (patung). tidak ada kompromi.[/QUOTE

faktor politis… misalanya karena kekuasaan majapahit berpindah ke demak, jadi mereka yang mengunsi adalah kelompok yang besebrangan dengan kekuasaan demak.


//

•Desember 15, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

// <![CDATA[
// //

// <![CDATA[
//

// <![CDATA[
// <![CDATA[
var ox_swf = new FlashObject('http://ads.suryacitra.com/www/images/d9d06e5a8bc0f1355ce4db665a77ee21.swf&#039;, 'Advertisement', '300', '250', '9');
ox_swf.addParam('wmode','transparent');
ox_swf.addParam('allowScriptAccess','always');
ox_swf.write('ox_9601c8dd3bbb66a437e5998d8679c516');
if (ox_swf.installedVer.versionIsValid(ox_swf.getAttribute('version'))) { document.write("

"); }
//
// ]]>

Mengurai Lagi Kasus Bank Century

Bogi Triyadi

16/09/2009 19:17

Pemberian bail out atau dana penyertaan oleh pemerintah kepada Bank Century yang membengkak hingga Rp 6,7 triliun dari semula hanya Rp 1,3 triliun terus menjadi bahan pembicaraan dan perdebatan seru. Bukan hanya di media massa, di kalangan para ahli, dan birokrasi pemerintahan, tapi juga di parlemen.  Anggota Komisi Keuangan dan Perbankan (Komisi XI) DPR RI terus mempersoalkannya.

Natsir Mansyur mensinyalir tindakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang juga Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) memberikan dana penyertaan ke Bank Century merupakan tindak pidana yang meliputi dua aspek yaitu politik serta hukum. “Jelas-jelas sudah dinyatakan sebagai bank gagal, kok masih diberi tambahan Rp 4,9 triliun. Ini sudah tindakan pidana,” kata anggota Komisi XI DPR dari Partai Golkar itu.

Untuk itu, ia mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menonaktifkan Ketua KSSK. “Lebih bagus Ketua KSSK yang juga dijabat Menteri Keuangan harus dinonaktifkan dan hanya satu orang yang bisa, yaitu Presiden,” ujar Natsir.

Namun menurut Menkeu, keputusan menyelamatkan Bank Century pada 21 November 2008 itu tidak bisa dinilai berdasarkan kondisi saat ini. Sebab ketika itu kondisi perbankan Indonesia dan dunia mendapat tekanan berat akibat krisis global. Keputusan KSSK saat itu untuk menghindari terjadinya krisis secara berantai pada perbankan yang dampaknya jauh lebih mahal dan lebih dasyat dari 1988. “Dengan meminimalkan ongkosnya dan dikelola oleh manajemen yang baik maka Bank Century punya potensi untuk bisa dijual dengan harga yang baik,” ucap Sri Mulyani. Menkeu pun siap dipanggil Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) guna dimintai keterangan seputar pengambilan kebijakan penyelamatan bank yang memiliki aset sekitar Rp 10 triliun itu.

Menkeu menyebutkan hingga Juli 2009 bank hasil penggabungan PT Bank CIC Internasional, Bank Danpac, dan Bank Pikko itu sudah untung sebesar Rp 139,9 miliar. Bahkan, menurut Bank Indonesia, jika dilihat posisinya sejak Desember 2008 sampai Agustus 2009, ada kenaikan simpanan nasabah sebesar Rp 1,1 triliun.

Namun, pemberian dana peryertaan Century yang sekarang terus dipersoalkan membuat Menkeu cemas lantaran bisa berakibat buruk terhadap bank itu. “Isu panas atas penyehatan Century yang tak sesuai dengan fakta bukan mustahil bisa menjungkalkan kembali bank ini,” tutur Sri Mulyani.

Kekhawatiran Menkeu setidaknya mulai terjadi. “Sejak Bank Century diributkan akhir-akhir ini, tolong tulis yang besar ya, dana pihak ketiga Bank Century turun Rp 431 miliar,” ujar Deputi Gubernur BI Budi Rochadi di Gedung DPR/MPR, Jakarat, Rabu (16/9). “Coba, kalau kasus Century didiamkan saja, pasti kejadiannya tidak seperti itu. Itu sekarang salah siapa.”

Selain besarnya dana penyertaan, hal lain yang dipersoalkan kenapa Bank Century tak ditutup kabarnya ada nasabah besar yang dilindungi. Kabarnya, nasabah besar itu memiliki dana sekitar Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun. Harry Azhar, anggota Komisi XI DPR, menyebut nasabah besar itu antara lain Budi Sampoerna. Paman Putera Sampoerna, mantan pemilik PT H.M. Sampoerna itu disinyalir punya dana sebesar Rp 1,8 triliun di Century.

Munculnya Budi Sampoerna turut menyeret Komisaris Jenderal Susno Duadji. Isu tidak sedap merebak di kalanggan anggota dewan. Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri itu disebut-sebut dalam proses pencairan dana Budi Sampoerna. Keterlibatan Susno, seperti ditulis Majalah Tempo, terlihat dari dikeluarkannya surat Badan Reserse Kriminal pada 7 serta 17 April 2009. Surat itu menyatakan dana milik Budi Sampoerna dan 18 juta dolar AS milik PT Lancar Sampoerna Bestari di Bank Century “sudah tak ada masalah lagi”.

Selain itu, Susno turut memfasilitasi beberapa pertemuan direksi Century dengan pihak Budi di kantor Bareskrim. Pertemuan itu menghasilkan dua kesepakatan. Salah satunya soal persetujuan pencarian dana senilai 58 juta dolar AS-dari total Rp 2 triliun-milik Budi atas nama PT Lancar Sampoerna Bestari. Kesepakatan lainnya, pencairan dilakukan dalam rupiah. Atas upaya tersebut, Susno dikabarkan dijanjikan oleh Lucas, kuasa hukum Budi, komisi 10 persen dari jumlah uang Budi yang akan cair.

Soal komisi 10 persen itu dibantah Susno. “Boro-boro dapat itu,” ucap Susno. “Ongkos saya ke luar negeri untuk mendapatkan aset-aset Robert (Tantular, pemilik Bank Century) saja belum diganti. Bantahan serupa juga dikatakan Lucas. “Maksudnya fee? Enggak ada sama sekali. itu fitnah,” tegas Lucas seperti ditulis Majalah Tempo.

***

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut ada perkara kriminal di Bank Century sehingga tidak layak diselamatkan. Menurut Wapres, masalah yang dihadapi Bank Century bukan lantaran krisis global. Melainkan karena pemiliknya yaitu Robert Tantular merampok dana bank sendiri. “Masalah (Bank) Century itu bukan masalah karena krisis, masalah perampokan, kriminal. Karena pengendali bank ini merampok dana bank sendiri dengan segala cara termasuk obligasi bodong,” ujar Wapres Kalla.

Karena itu, Wapres Kalla lalu memerintahkan polisi menangkap Robert Tantular serta direksi Bank Century. Dia khawatir Robert dan direksi Bank Century melarikan diri. “Saat itu juga saya telepon (Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri), Robert Tantular dan direksi yang bertanggung jawab ditangkap dalam dua jam,” kata Kalla.

Menurut Arif Havas Oegroseno, Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Luar Negeri, seperti dimuat Majalah Tempo, modusnya yaitu pemilik Bank Century membuat perusahaan atas nama orang lain untuk kelompok mereka. Lantas, mereka mengajukan permohonan kredit. Tanpa prosedur semestinya serta jaminan yang memadai, mereka dengan mudah mendapatkan kredit. “Bahkan ada kredit Rp 98 miliar yang cair hanya dalam dua jam,” kata Arif. Jaminan mereka, tambahnya, hanya surat berharga yang ternyata bodong.

Robert sendiri sudah divonis penjara empat tahun serta denda Rp 50 miliar oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 10 September lalu. Vonis ini jauh lebih rendah dibanding tuntutan jaksa yakni delapan tahun penjara. Karena itu, Kejaksaan Agung langsung mengajukan banding atas putusan tersebut. Alasannya, majelis hakim hanya mengenakan pada satu dakwaan dari tiga dakwaan yang diajukan jaksa penuntut umum.

Tiga dakwaan tersebut pertama, Robert dianggap menyalahgunakan kewenangan memindahbukukan dan mencairkan dana deposito valas sebesar 18 juta dolar AS tanpa izin sang pemilik dana, Budi Sampoerna. Kedua, mengucurkan kredit kepada PT Wibowo Wadah Rejeki Rp 121 miliar dan PT Accent Investindo Rp 60 miliar. Pengucuran dana ini diduga tak sesuai prosedur. Dakwaan yang ketiga adalah melanggar letter of commitment dengan tidak mengembalikan surat-surat berharga Bank Century di luar negeri dan menambah modal bank. Perbuatan Robert dan pemegang saham lain berbuntut pada krisis Bank Century yang berujung pada pengucuran dana talangan Rp 6,7 triliun.

Selain Robert, mantan Direktur Utama Bank Century, Hermanus Hasan Muslim, juga sudah divonis tiga tahun penjara dengan denda Rp 5 miliar. Sedangkan mantan Direktur Treasur Bank Century Laurence Kusuma divonis tiga tahun penjara dan denda Rp 5 miliar. Tersangka lainnya adalah Hesman Al Waraq Talaat dan Rafat Ali Rizvi. Dua pemegang saham Bank Century ini juga dipersangkakan dalam tindak pidana pencucian uang.

Polisi turut menetapkan Dewi Tantular selaku Kepala Divisi Bank Note Bank Century sebagai tersangka. Dewi kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Dua tersangka lainnya adalah Linda Wangsa Dinata, selaku pimpinan KPO Senayan, dan Arga Tirta Kiranah, Kadiv legal Bank Century. Keduanya kini dalam proses penyidikan.

Kini, pemerintah terus memburu aset Robert Tantular dan pemegang saham lainnya di luar negeri dengan membentuk tim pemburu aset. Tim ini beranggotakan staf Departemen Keuangan, Markas Besar Polri, Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan, Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan, Departemen Luar Negeri, Kejaksaan Agung, serta Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Sejauh ini, kata Arif Havas Oegroseno, Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Luar Negeri, tim sudah berhasil menelusuri aset itu di 13 yurisdiksi. Namun, dia enggan membeberkan secara detail lokasi yurisdiksi tersebut. Sebab jika lokasi aset itu dibuka, pemiliknya akan cepat-cepat menggugat banknya, seperti yang terjadi di Hongkong.

Untuk di dalam negeri, jumlah aset yang disita polisi terkait kasus tindak pidana perbankan di Bank Century sebesar Rp 1,191 miliar. Sementara di luar negeri, polisi berhasil menemukan dan memblokir aset milik Robert Tantular senilai 19,25 juta dolar AS atau setara Rp 192,5 miliar. Uang sebesar itu antara lain terdapat di USB AG Bank Hongkong senilai 1,8 juta dolar AS, PJK Jersey sejumlah 16,5 juta dolar AS, dan British Virgin Island (Inggris) sebesar 927 ribu dolar AS.

Selain itu, polisi juga menemukan dan memblokir aset Hesham Al Waraq Talaat serta Rafat Ali Rizvi senilai Rp 11,64 triliun. Aset itu tersebar di UBS AG Bank sejumlah 3,5 juta dolar AS, Standard Chartered Bank senilai 650 ribu dolar AS dan sejumlah SGD 4.006, di ING Bank sebesar 388 ribu dolar AS.(*dari berbagai sumber/VIN)

http://www.google.com/search?ie=UTF-8&oe=UTF-8&sourceid=navclient&gfns=1&q=google

KPK Terus Mendalami Kasus Bank Century

•Desember 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

/12/2009 18:54 Liputan6.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami sembilan temuan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait aliran uang negara Rp 6,7 triliun ke Bank Century. KPK kembali menggelar pertemuan dengan tim BPK antara lain untuk menelusuri apakah sembilan temuan tersebut terkait pelanggaran administrasi dan melibatkan aparat penyelenggara negara, Jumat (11/12). Guna memudahkan penyelidikan, KPK menambah anggota tim penanganan kasus Century dari 10 orang menjadi 20 orang dipimpin Direktur Penyelidikan KPK, Iswan Elmi. Pertemuan akan dilanjutkan Senin mendatang di Gedung BPhttp://berita.liputan6.com/hukrim/200912/254225/KPK.Terus.Mendalami.Kasus.Bank.CenturyK dengan melibatkan Kejaksaan Agung dan Mabes Polri [baca: KPK Usut Sembilan Temuan Kasus Bank Century].(YNI/YUS)

walady

•Oktober 20, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

cignus:
apakah gaya coulomb itu gaya grafitasi ya? abis rumusnya hampir samakan ato mang sama
klo gaya grafitasi = gaya coulomb berarti yg diitung itungan listrik itu gaya grafitasi ya

bedanya apa siiiiih?

biobio:
gaya coulomb intinya hubungan gaya antar dua titik bermedan listrik…muatan disimbolkan sebagai q1 dan q2 dan jarak disimbolkan sebagai r….rumusnya F=(k.qi.q2)/r^2, dengan k adalah konstanta bernilai 9 x 109 N m2 C–2 ato kadang bisa diganti juga dengan k=1/(4.pi.ε0)… sedangkan ε0 adalah permitivitas ruang hampa yang besarnya 8,85 x 10–12 C2 N–1 m–2… itu tadi buat dua titik muatan…kalo banyak,bisa pake vektor..

superstring39:
kalo dibilang gaya coulomb itu sama dengan gaya gravitasi ya enggak tepat. tapi kalo dibilang analogi satu sama lain bisa. memang dilihat dari rumusnya mirip bener cuma ada bedanya, kalo rumus gaya gravitasi ada tanda negatifnya, artinya gayanya selalu tarik menarik, kalo gaya coulomb enggak ada karena ada dua jenis muatan negatif dan positif, jika perkalian kedua jenis muatan yang berinteraksi sama dengan negatif maka akan tarik menarik namun jika hasil kalinya positif maka akan tolak menolak. gitu 8)

HyawehHoshikawa:
Rumusnya sih sama, tapi tinjauannya berbeda, gaya elektrostatis itu ninjau muatan, gaya gravitasi ninjau massa,
jadi misal di kimia ada simbol
itu berarti proton muatan(listrik)nya 1 massanya juga 1(sma ato satuan massa atom) CMIIW

itu elektron ga punya massa(1/1000nya proton jadi bisa diabaikan) tapi muatanya -1

netron ga punya muatan tapi massanya ampir sama ama proton

ksatriabajuhitam:
inverse square law force…

gaya gravitasi dan gaya listrik termasuk gaya fundamental,
gaya fundamental (saat ini) : grafitasi, elektromagnetik, nuklir lemah, nuklir kuat

source: http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/forces/funfor.html

dulu gaya listrik dan gaya magnet masih terpisah, kemudian disatukan oleh maxwell
penyatuan interaksi gaya lemah dan elektromagnetik telah dilakukan oleh  Abdus Salam, Sheldon Glashow, dan Steven Weinberg (mereka dianugrahi Nobel Prize in Physics 1979)

nah kalo gaya gravitasi dan gaya listrik? sampai saat ini masih berbeda

hukum newton

•Oktober 20, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

HUKUM NEWTON I

HUKUM NEWTON I disebut juga hukum kelembaman (Inersia).
Sifat lembam benda adalah sifat mempertahankan keadaannya, yaitu keadaan tetap diam atau keaduan tetap bergerak beraturan.

DEFINISI HUKUM NEWTON I :
Setiap benda akan tetap bergerak lurus beraturan atau tetap dalam keadaan diam jika tidak ada resultan
gaya (F) yang bekerja pada benda itu, jadi:

S F = 0   a = 0 karena v=0 (diam), atau v= konstan (GLB)

HUKUM NEWTON II

a = F/m

S F = m a

S F = jumlah gaya-gaya pada benda
m = massa benda
a = percepatan benda

Rumus ini sangat penting karena pada hampir semna persoalan gerak {mendatar/translasi (GLBB) dan melingkar (GMB/GMBB)} yang berhubungan dengan percepatan den massa benda dapat diselesaikan dengan rumus tersebut.

HUKUM NEWTON III

DEFINISI HUKUM NEWTON III:

Jika suatu benda mengerjakan gaya pada benda kedua maka benda kedua tersebut mengerjakan juga gaya pada benda pertama, yang besar gayanya = gaya yang diterima tetapi berlawanan arah. Perlu diperhatikan bahwa kedua gaya tersebut harus bekerja pada dua benda yang berlainan.

F aksi = – F reaksi
N dan T1 = aksi reaksi (bekerja pada dua benda)

T2 dan W = bukan aksi reaksi (bekerja pada tiga benda)

< Sebelum Sesudah >
Bio
Fis
Kim
Mat

tips umptn

katanya sih sakit gigi lebih sakit dari pada nggak diterima di perguruan tinggi negeri

selanjutnya

Download Macromedia Shockwave

supaya bisa liat M

hukum keppler

•Oktober 20, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Di dalam astronomi, tiga Hukum Gerakan Planet Kepler adalah * Setiap planet bergerak dengan lintasan elips, matahari berada di salah satu fokusnya. * Luas daerah yang disapu pada selang waktu yang sama akan selalu sama. * Perioda kuadrat suatu planet berbanding dengan pangkat tiga jarak rata-ratanya dari matahari. Ketiga hukum diatas ditemukan oleh ahli matematika and astronomi jerman Johannes Kepler (1571–1630), yang menjelaskan gerakan planet di dalam tata surya. Hukum diatas menjabarkan gerakan dua benda yang saling mengorbit. Karya Kepler didasari oleh data observasi Tycho Brahe, yang diterbitkannya sebagai ‘Rudolphine tables’. Sekitar tahun 1605 Kepler menyimpulkan bahwa data posisi planet hasil observasi Brahe mengikuti rumusan matematika cukup sederhana yang tercantum diatas. Hukum Kepler mempertanyakan kebenaran astronomi dan fisika warisan zaman Aristoteles dan Ptolemaeus. Ungkapan Kepler bahwa Bumi beredear sekeliling, berbentuk elips dan bukannya epicycle, dan membuktikan bahwa kecepatan gerak planet bervariasi, merubah astronomi dan fisika. Hampir seabad kemudian Isaac Newton mendeduksi Hukum Kepler dari rumusan hukum karyanya, hukum gerak dan hukum gravitasi Newton, dengan menggunakan Euclidean geometry klasik. Pada era modern, hukum kepler digunakan untuk aproximasi orbit satelit dan benda-benda yang mengorbit matahari. Yang semuanya belum ditemukan pada saat Kepler hidup. (contoh: planet luar dan asteroid) Hukum ini kemudian diaplikasikan untuk semua benda kecil yang mengorbit benda lain yang jauh lebih besar, walaupun beberapa aspek seperti gesekan atmosfer (contoh: gerakan di orbit rendah), atau relativitas (contoh: prosesi preihelion merkurius), dan keberadaan benda lainnya dapat membuat hasil hitungan tidak akurat dalam berbagai keperluan. Daftar isi [sembunyikan] * 1 Introduksi Tiga Hukum Kepler o 1.1 Secara Umum o 1.2 Hukum Pertama o 1.3 Hukum Kedua o 1.4 Hukum Ketiga * 2 Sejarah o 2.1 Pustaka o 2.2 Pranala luar [sunting] Introduksi Tiga Hukum Kepler [sunting] Secara Umum Hukum hukum ini menjabarkan gerakan dua badan yang mengorbit satu sama lainnya. Masa dari kedua badan ini bisa hampir sama, sebagai contoh Charon—Pluto (~1:10), proporsi yang kecil, sebagain contol. Bulan—Bumi(~1:100), atau perbandingan proporsi yang besar, sebagai contoh Merkurius—Matahari (~1:10,000,000). Dalam semua contoh diatas kedua badan mengorbit mengelilingi satu pusat masa, barycenter, tidak satupun berdiri secara sepenuhnya di atas fokus elips. Namun kedua orbit itu adalah elips dengan satu titik fokus di barycenter. Jika ratio masanya besar, sebagai contoh planet mengelilingi matahari, barycenternya terletak jauh di tengah obyek yang besar, dekat di titik masanya. Di dalam contoh ini, perlu digunakan instrumen presisi canggih untuk mendeteksi pemisahan barycenter dari titik masa benda yang lebih besar. Jadi, hukum Kepler pertama secara akurat menjabarkan orbit sebuah planet mengelilingi matahari. Karena Kepler menulis hukumnya untuk aplikasi orbit planet dan matahari, dan tidak mengenal generalitas hukumnya, artikel wikini ini hanya akan mendiskusikan hukum diatas sehubingan dengan matahari dan planet-planetnya. [sunting] Hukum Pertama Figure 2: Hukum Kepler pertama menempatkan Matahari di satu titik fokus edaran elips. “Setiap planet bergerak dengan lintasan elips, matahari berada di salah satu fokusnya.” Pada zaman Kepler, klaim diatas adalah radikal. Kepercayaan yang berlaku (terutama yang berbasis teori epicycle) adalah bahwa orbit harus didasari lingkaran sempurna. Pengamatan ini sangat penting pada saat itu karena mendukung pandangan alam semesta menurut Kopernikus. Ini tidak berarti ia kehilangan relevansi dalam konteks yang lebih modern. Meski secara teknis elips yang tidak sama dengan lingkaran, tetapi sebagian besar planet planet mengikuti orbit yang bereksentrisitas rendah, jadi secara kasar bisa dibilang mengaproximasi lingkaran. Jadi, kalau ditilik dari observasi jalan edaran planet, tidak jelas kalau orbit sebuah planet adalah elips. Namun, dari bukti perhitungan Kepler, orbit orbit itu adalah elips, yang juga memeperbolehkan benda-benda angkasa yang jauh dari matahari untuk memiliki orbit elips. Benda-benda angkasa ini tentunya sudah banyak dicatat oleh ahli astronomi, seperti komet dan asteroid. Sebagai contoh Pluto, yang diobservasi pada akhir tahun 1930, terutama terlambat diketemukan karena bentuk orbitnya yang sangat elipse dan kecil ukurannya. [sunting] Hukum Kedua Figure 3: Illustrasi hukum Kepler kedua. Bahwa Planet bergerak lebih cepat didekat matahari dan lambat dijarak yang jauh. Sehingga jumlah area adalah sama pada jangka waktu tertentu. “Luas daerah yang disapu pada selang waktu yang sama akan selalu sama.” Secara matematis: \frac{d}{dt}(\frac{1}{2}r^2 \dot\theta) = 0 dimana \frac{1}{2}r^2 \dot\theta adalah “areal velocity”. [sunting] Hukum Ketiga Planet yang terletak jauh dari matahari memiliki perioda orbit yang lebih panjang dari planet yang dekat letaknya. Hukum Kepelr ketiga menjabarkan hal tersebut secara kuantitativ. “Perioda kuadrat suatu planet berbanding dengan pangkat tiga jarak rata-ratanya dari matahari.” Secara matematis: {P^2} \propto {a^3} dimana P adalah period orbit planet dan a adalah axis semimajor orbitnya. Konstant proporsionalitasnya adalah semua sama untuk planet yang mengedar matahari. \frac{P_{\rm planet}^2}{a_{\rm planet}^3} = \frac{P_{\rm earth}^2}{a_{\rm earth}^3}. [sunting] Sejarah Pada tahun 1601 Kepler berusaha mencocokkan berbagai bentuk kurva geometri pada data-data posisi Planet Mars yang dikumpulkan oleh Tycho Brahe. Hingga tahun 1606, setelah hampir setahun menghabiskan waktunya hanya untuk mencari penyelesaian perbedaan sebesar 8 menit busur (mungkin bagi kebanyakan orang hal ini akan diabaikan), Kepler mendapatkan orbit planet Mars. Menurut Kepler, lintasan berbentuk elips adalah gerakan yang paling sesuai untuk orbit planet yang mengitari matahari, dan pada tahun 1609 dia mempublikasikan Astronomia Nova yang menyatakan dua hukum gerak planet. Hukum ketiga tertulis dalam Harmonices Mundi yang dipublikasikan sepuluh tahun kemudian. [sunting] Pustaka * Bate, Roger R., Mueller, Donald D. dan White, Jerry E. Fundamentals of Astrodynamics, New York, Dover Publications, Inc., 1971. * Kepler’s life is summarized on pages 627–623 and Book Five of his magnum opus, Harmonice Mundi (harmonies of the world), is reprinted on pages 635–732 of On the Shoulders of Giants: The Great Works of Physics and Astronomy (works by Copernicus, Kepler, Galileo, Newton, and Einstein). Stephen Hawking, ed. 2002 ISBN 0-7624-1348-4 * A derivation of Kepler’s third law of planetary motion is a standard topic in engineering mechanics classes. See, for example, pages 161–164 of Meriam, J. L. (1966, 1971), Dynamics, 2nd ed., New York: John Wiley, ISBN 0-471-59601-9. * Murray and Dermott, Solar System Dynamics, Cambridge University Press 1999, ISBN-10 0-521-57597-4 [sunting] Pranala luar * Johannes Kepler

google.com

Manohara Sulit Lepas dari Pangeran Fakhry

•Juni 11, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
AKARTA – Manohara Odelia Pinot diduga mengalami KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) sejak berumah tangga dengan Tengku Temenggong Muhammad Fakhry Petra. Manohara yang sering menangis, sulit lepas dari sang pangeran.

“Bagaimana Manohara mau melangkah dari situ? Ke mana Manohara pergi dan melangkah ada yang menjaga,” kata ibunda Manohara, Daisy Fajarina, di Warung Ampera, Jalan Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan, Senin (20/4/2009).

Sejak menikah di bawah tangan dengan Fakhry, hidup model majalah berusia belia itu bak burung dalam sangkar. Dia kerap menerima perlakuan tidak menyenangkan.

Pernah Manohara menolak ajakan bercinta Fakhry, Manohara menolak karena sedang haid. Tapi, Fakhry memaksa. Manohara tidak mau bukan karena menolak, tapi khawatir kena penyakit gara-gara berhubungan intim saat sedang haid.

Sayang sekali, bukannya pengertian dari Tengku yang didapat, Manohara malah dimaki dengan kata-kata pedas yang menusuk hati. Sosialita kelahiran 28 Februari 1992 itu dianggap seperti mobil mewah. Tapi karena tidak bisa dikendarai, bisa diganti dengan mobil lain.

Manohara pernah mencoba kabur dari genggaman tangan sang Pangeran. Dia pulang ke Indonesia. Namun, banyak orang suruhan sang Pangeran datang membujuknya untuk pulang. Kepulangan Manohara ke Indonesia itu berujung pada penculikan yang dilakukan Fakhry. (ang)

http://celebrity.okezone.com/read/2009/04/21/33/212723/manohara-sulit-lepas-dari-pangeran-fakhry

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.